Cluster Online : Great Tomb

Cluster Online : Great Tomb
Chapter 9 : Masuk Semakin Dalam


__ADS_3

“Kak… Kak Rei… Kak Reiga, bangun!”


Sentuhan lembut di bahu dapat kurasakan dengan sedikit guncangan. Aku terbangun dari tidurku dalam posisi duduk sambil memeluk senjata AR-15 di lantai dua balkon kabin.


“Emh? Ah… Putri…? Maaf, aku ketiduran pas giliran jaga.”


Aku mengusap mataku perlahan dengan rasa kantuk yang masih terasa. Aku tidak menyangka jika akan tertidur di dalam permainan.


“Jam berapa sekarang?”


Tanyaku padanya dengan mata yang masih sayu tapi aku mencoba untuk berdiri dari tempat dudukku.


“Setengah delapan pagi. Sarapan dulu, Kak. Yang lain nungguin tuh!”


Aku membuka jendela status dan melihat bar yang menunjukkan kebutuhan karakterku untuk konsumsi. Bar tersebut terlihat berwarna sangat merah yang artinya karakterku membutuhkan konsumsi makanan dan minuman.


“Duluan, Put! Nanti kususul.”



“Jangan lama-lama, Kak. Soalnya yang lain lagi nunggu.”



“Iya.”


Setelah Putri meninggalkan balkon, aku berjalan ke batas balkon untuk melihat tepat ke arah sarang para semut. Tentunya sambil memeluk AR-15 kesayanganku. Aku juga melihat ke arah selangkanganku yang terasa sedikit mengganggu.


“Apaan sih si Junior?! Pagi-pagi sudah semangat aja! Selain itu, aku lupa kalau kami ada di gurun. Hahh… panas!”


Setelah menenangkan diri beserta Junior, aku segera pergi ke ruang makan di mana yang lainnya sudah duduk di kursi masing-masing yang mengitari meja bundar berukuran besar dan sudah tersedia banyak makanan di atasnya.


Jujur saja, beberapa dari mereka sudah mulai makan terlebih dahulu tapi aku tidak mempermasalahkannya.


“Hoo, siapa nih yang masak? Zia?”


Aku bertanya sambil duduk di kursi kosong yang ada dan tanpa permisi mengambil makanan yang kuinginkan. Yah, meski begitu yang kuambil hanyalah sepiring nasi putih dan dua potong ayam goreng.


“Iya, Zia yang bikin kok. Tapi Rei sama Putri tadi bantu kok!”


Rei biasa memanggil dirinya dengan namanya sendiri. Meski aku sudah terbiasa, tapi tetap saja tidak banyak orang yang memanggil diri mereka menggunakan nama sendiri.


“Bantu apa? Bantu nyiapin piring aja, yah? Ahaha…”



“Loh, kok tau?! Kan Lord tadi masih tidur!”


Aku hanya tertawa kecil sambil mengambil alat makan.  Maksudku, dia bersama Putri memiliki hobi makan yang sama. Hanya makan, itu yang kutahu. Awalnya aku hanya bercanda saat mengatakan itu.


“Oya cuy, tadi malam kamu ke sana, kan? Terus gimana?”


Aku segera menanggapi pertanyaan Dimas selagi kami makan.


“Aah… tadi malam aku nemu ruang telur sama ruangan semacam tempat penyimpanan makanan gitu.”



“Kalau gitu, rencananya bisa dijalankan, yah?”


Aku mengunyah dan menelan makanan, kemudian menjawab pertanyaan Dimas lagi selagi yang lainnya memperhatikan.


“Untuk masalah itu, kurasa kita bisa mengabaikan rencananya.”



“Eh, kenapa?”


Aku meletakkan alat makanku dan mencoba untuk berpikir.


“Sebenarnya aku kepikiran cara lain. Tapi sedikit- maksudku, sangat beresiko. Soalnya cara ini cuma bisa dilakukan sekali tahap. Beda dari rencana sebelumnya yang bertahap-tahap, kalau pakai cara ini kita cuma punya satu kesempatan.”


Aku mengambil segelas air dan meminumnya. Lalu kulanjutkan dengan meminta pendapat mereka.


“Gimana menurut kalian?”


Selagi menunggu mereka memutuskan, aku melanjutkan kegiatan makanku.


“Aku sih ikut aja. Cara yang mana aja gak masalah.”



“Aku sama kayak Novan sih.”


Mendengar jawaban Novan dan Fadli itu membuatku tidak yakin. Karena mereka hanya akan mengikuti cara yang akan disepakati, jika terjadi masalah yang tidak diinginkan, pastinya mereka akan menyesalinya. Tapi… yasudahlah.


“Yang lain?”


Setelah menanyakan hal itu, Bang Sema mengangkat suaranya.


“Kira-kira presentase cara ini berhasil berapa persen?”


Aku meminum air, lalu mencoba memikirkan jawaban untuk pertanyaan itu. Pada akhirnya aku tidak menemukan bagaimana cara untuk menjawabnya.


“Yah… kalau ditanya itu aku juga gak tau Bang. Kan cara ini sekali serang, jadi fokusnya kita jelas ke Sang Ratu. Tapi aku sendiri baru nemu tempat telur sama tempat makanan mereka. Jadi mungkin kalau kita bisa cepat nemu ruang Sang Ratu, itu bisa jadi keuntungan.”



“Ohh… tunggu, meski begitu kayaknya bakal susah ngatasin jumlah mereka. Meskipun aku sendiri, susah kalau sebanyak itu.”



“Eeh…”


Ah, aku sampai mengeluarkan nada kecewa dan tidak tahu harus menjawab apa mendengar itu langsung dari Bang Sema. Karena menurut penilaianku pribadi, kemampuan Bang Sema adalah yang tertinggi di klan kami.


“Ah, Rei!”



“Apa? / Iya?”


Secara reflek aku dan Rei memberikan respon pada Zia bersamaan. Yah, karena panggilan kami berdua mirip, hal semacam ini sering terjadi.


“Bukan Rei, tapi si Reiga!”



“Iya, apa?”



“Gimana kalau cara yang ini digabung sama cara yang sebelumnya?”


Aku sedikit memiringkan kepala karena kebingungan. Tapi jika dipikir ulang, mungkin hal semacam itu bisa saja. Tapi aku tidak tahu apa yang harus digabungkan dari kedua cara tersebut.


“Maksudnya gimana?”



“Ahh! Aku paham!”


Seketika Haqqi meninggikan suara dan berbicara dengan Zia.


“Apa maksudnya Zia itu pakai benda yang dibawa Syah?!”


Aku memiringkan kepala dengan sudut semakin tajam dan makin kebingungan.


“Tuh Haqqi paham! Jadi maksudku, selagi kita nyari tempatnya Si Ratu, kenapa gak kita pasang barang yang dibawa Syah ke setiap lorong yang ada? Kan kalau gitu, seenggaknya kita bisa ngulur waktu!”


Aku menyatukan kedua tanganku dan menyandarkan daguku sambil berpikir keras sampai kedua alisku hampir bersentuhan.


“Lord gak paham?”


Aku menggelengkan kepalaku untuk menjawab pertanyaan Rei.


“Memangnya yang lain paham?”


Aku menanyakan itu dan mereka semua mengangguk. Aku merasa malu karena tidak memahami maksud dari rencana Zia.


“Syah paham?”


Aku menanyakan itu dengan wajah serius.


“Gak paham juga.”


“MANTAP! Aku ada temannya!”


Aku memasang senyum lebar dengan bangga karena memiliki teman yang sama-sama tidak paham.


“Kenapa jadi sombong sih mukanya?! Yah, intinya itu kita bisa punya waktu lebih kalau ngelawan Ratu. Paling enggak semut yang kita lawan cuman yang ada di dalam ruangan Si Ratu.”


Lanjut Zia. Itu semakin membuatku kebingungan bukan kepalang.


“Eh? Kenapa harus dilawan?”



““Eh?!””


Seketika justru mereka semua yang kebingungan. Yah, aku mengerti apa yang dikatakan Zia. Yang kubingung adalah kenapa harus melawan Sang Ratu?


“Yah, aku paham maksudnya si Zia. Tapi kenapa harus melawan Si Ratu? Yang kumaksud itu kalau kita bisa nemu ruangan Ratu, ya tinggal pakai barang yang dibawa Syah. Kita pergi, terus ledakin deh. Habis itu sisa semut yang biasa aja, kan?”


Secara bersamaan mereka terdengar mengucapkan “Ahh…” dengan nada paham. Barang yang dibawa Syah adalah bom C4. Terlebih dia membawa sebanyak lima stak. Tidak mungkin Si Ratu dapat bertahan dari ledakan sebesar dan sebanyak itu, bukan?


“Tapi Rei, kalau begitu bukannya badan Si Ratu bakal hancur? Bukannya nanti jadi susah nyarinya?”


Aku mengangguk setuju mendengar itu dari Fadli.  Tapi itu bukanlah masalah.


“Hancur bukan berarti gak tersisa, kan? Lagian kita punya… yang itu tuh, alat yang bisa ngeliat informasi monster punya Syah!”



“Entah kenapa barang-barangku semua yang dipakai.”


Dia memasang wajah datar. Yah, aku membalasnya dengan senyum kecil yang memiliki banyak arti.


“Gak masalah. Aku terima dengan senang hati barang-barangnya kok. Daripada kamu jadi beban, paling enggak barang-barangnya berguna.”

__ADS_1


Dia hanya terdiam membeku di tempat duduknya. Tenang, aku sama sekali tidak merasa kasihan padanya. Tidak sedikitpun sembari terus memasang senyum penuh arti itu.


“Yaudah, kita pakai caranya si Rei aja. Kalau terus begini gak akan selesai pembahasannya. Makan dulu habis itu kita berangkat!”


Pada akhirnya kami akan berangkat dengan perencanaan yang belum sangat matang. Tapi benar apa kata Bang Sema. Hal ini bisa dilanjutkan setelah sarapan.


Setelah kami semua selesai sarapan, tanpa aba-aba dari siapapun, masing-masing orang mendatangi kotak penyimpanan dan mempersiapkan semua barang yang mereka butuhkan. Termasuk diriku.


Aku membawa semua barang yang sebelumnya kumasukkan ke dalam kotak penyimpanan. Tidak lupa juga dengan sebotol deodoran. Aku juga mengambil satu ozyline lagi dan memasangnya di pakaianku karena ozyline yang sebelumnya terjatuh saat aku mati dibunuh oleh seekor semut tadi malam.


“Jangan lupa pakai deodoran  sama bawa senter, yah! Sekalian, kalau ada yang punya tali sama pasak besi tolong dibawa! Kutunggu di luar.”


Aku berjalan ke luar kabin dengan membawa AR-15 milikku. Sesampainya di luar kabin aku menggunakan deodoran yang kubawa sambil menunggu mereka.


Dimas, Lazy, dan Bang Sema keluar dari dalam kabin dan segera berkumpul di dekatku.


“Oya, aku lupa ngasih tau kalau tadi malam aku juga nemu tempat yang mengarah lebih dalam di ruangan telur. Tempatnya penuh arang gitu.”



“Gak nyoba masuk?”


Aku menggelengkan kepala untuk menjawab pertanyaan Bang Sema.


“Dalam banget, seriusan dah. Pas disenter aja gak keliatan dasarnya.”



“Hmm… menarik.”


Setelah itu satu persatu mereka keluar dari kabin dan saat semuanya berkumpul, kami segera pergi ke arah sarang dengan Bang Sema berada di barisan paling depan.


Sama sepertiku tadi malam, para semut mendekati kami untuk memastikan saja. Tidak ada satupun dari mereka yang mencoba untuk menyerang kami. Syukurlah jika hal tersebut tidak terjadi.


Sesampainya di lubang yang mengarah ke dalam sarang, Bang Sema mengeluarkan tali baja beserta pasak besi yang memang sudah menyatu. Dia melempar tali baja tersebut ke dalam lubang dan mencoba untuk menancapkannya ke permukaan pasir,


“Ah, bentar Bang!”


Aku mendekatinya dan menggalikan pasir. Setelah itu dia menancapkan pasak tersebut ke dalam lubang kecil yang kugali, lalu menguburnya. Jika hanya ditancapkan di permukaan saja tentu tidak akan kuat menahan berat tubuh kami karena permukaan di sini bukanlah tanah melainkan pasir.


Aku membersihkan taganku dari pasir yang menempel, lalu mendekati lubang tersebut dan melihat ke dalamnya. Yah, kedalamannya tidak mungkin berubah begitu saja, bukan?


“Kalau gitu aku duluan!”


Aku turun dengan cara yang sama persis seperti tadi malam. Sedangkan Bang Sema melompat dari atas ke bawah tanpa melukai dirinya sendiri. Maksudku, dia benar-benar jatuh bebas dari atas. Jujur aku terkejut dia bisa melakukan hal itu!


“Whoa!!! Apa-apaan itu?! Superhero landing?!”



“Hm? Memangnya kamu gak bisa?”



“Gak lucu Bang! Bisa-bisa kaki karakterku patah!”



“Hehehe… kurang bar-bar kamu!”


Selain kami, tidak ada yang tidak menggunakan tali baja tersebut. Mereka semua turun dengan perlahan dan sangat berhati-hati.


Tidak jauh dari tempatku berpijak, aku melihat sebuah senter, botol deodoran, dan ozyline. Aku mengambil dan memasukkannya ke dalam inventaris, kecuali senter. Karena aku yakin barang-barang tersebut adalah milikku tadi malam, itu sebabnya aku mengambil mereka kembali.


Jika seorang pemain dibunuh oleh pemain lain, maka semua barang yang pemain tersebut miliki akan secara otomatis berpindah ke pemain yang membunuhnya. Sedangkan jika seorang pemain dibunuh oleh monster, maka barang-barangnya akan terjatuh di tempat dia mati. Itu adalah salah satu sistem dasar dari permainan ini.


“Semuanya sudah turun?”


Aku bertanya sambil melihat ke arah mereka semua untuk memastikannya dan semua sudah turun.


“Oke, jangan coba-coba hal konyol yang bisa ngebuat kita semua mati! Terutama kamu, Syah!”


Lanjutku sambil membuka pengaman AR-15 yang kupegang. Meski begitu, aku memutuskan untuk menggendong AR-15 di punggungku dengan tali yang telah terpasang dan menggantinya dengan FN-57 sambil menyilangkan kedua tanganku yang juga sedang memegang senter.


Sampai kami bertemu dengan jalan bercabang dan memutuskan untuk berpencar. Aku juga menyuruh Syah untuk membagi C4 yang dibawanya. Masing-masing orang membawa 45 buah bom C4. Aku juga sudah memberitahu cara tercepat untuk menemukan tempat Ratu adalah dengan mengikuti semut yang masuk semakin dalam. Untuk detonator, aku memercayakannya pada Bang Sema.


Kami tidak dapat menggunakan earpiece untuk saling berkomunikasi karena tidak ada yang mengurus sambungan channel dari markas. Yang biasanya itu adalah tugas Lazy. Jadi kami tidak akan saling berkomunikasi.


Yang jelas, saat seseorang menemukan ruangan Ratu, maka orang tersebut harus sebisa mungkin menggunakan semua C4 yang dibawanya dan sedekat mungkin dengan Ratu. Setelah itu harus mengirimkan pesan lewat WhatsApp, pesan teman, pesan klan, atau apapun itu. Selama bisa mengirimkan informasi, maka itu sudah cukup.


Tentu saja aku mengambil jalan yang berbeda dari tadi malam dan mengikuti salah satu barisan semut yang ada. Sembari berharap bisa menemukan ruangan Ratu dengan cepat, aku justru melihat kilatan cahaya dari depan lorong tempatku berada.


Setelah berlari dan mendekati sumber cahaya tersebut, aku justru bertemu dengan Fadli di ruangan telur.


“Eh, Rei?!”



“Lah, kok?! Jalanmu sama jalanku terhubung yah?”



“Yah… keliatannya gitu. Tapi baguslah. Kita bisa nemu ruangan Ratu kalau gini. Tinggal ikutin arah sebaliknya dari semut yang bawa telur.”



Hal tersebut sama sekali tidak terpikirkan olehku semalam! Jika iya, mungkin tadi malam pun aku sudah menemukan ruangannya!


Dengan begitu aku mengikuti Fadli tepat di belakangnya. Karena dia berada di depan dan juga menggunakan senter, aku memutuskan untuk menyimpan FN-57 dan senterku dan menggunakan AR-15.


Tidak membutuhkan waktu lama bagi kami untuk menemukan sebuah ruangan di mana para semut menempel di setiap sisi sampai sedikit terlihat menjijikkan sekaligus geli untuk melihatnya. Di samping semua itu, terdapat tempat yang sedikit tinggi dari yang lain dan di sanalah kami melihat seekor semut yang berukuran tiga kali lebih besar dari yang biasa.


“Fad, itu… Ratu?”



“Dari ukurannya sih iya.”



“Woah… DIA GEMUK!!!”


Fadli hanya tertawa mendengar apa yang baru saja kukatakan. Karena kami sudah menemukan ruangannya, kami harus menggunakan C4 yang ada dan meletakkannya sedekat mungkin terhadap Si Ratu.


“Nah, gimana sekarang kita ke sana?”


Jarak kami berpijak ke ratu setidaknya lebih dari 15 meter.


“Ahh… um… lempar?”



“Yaudah lempar aja yak!”


Dan akhirnya pun kami berdua setuju untuk melempar bom berjenis C4 ini ke arah Si Ratu semut tersebut. Dengan wajah tidak bersalah kami melempar semua C4 yang kami miliki ke arah Ratu satu persatu. Beberapa ada yang mendarat tepat di kaki-kakinya.


“Coba kirim pesan ke yang lainnya, Fad!”



“Oke, bentar.”


Aku mengeluarkan salah satu botol deodoran dan menggunakannya. Tidak lupa aku juga menyemprotkannya pada Fadli selagi dia mengirimkan pesan.


“Sudah! Kusuruh mereka balik ke jalan pas pisah, terus ambil jalan yang kamu atau aku ambil.”



“Makasih. Sekarang balik ke ruang telur yuk!”



“Kuy!”


Aku bersamanya kembali ke arah ruang telur karena kedua jalan yang lalui sebelumya terhubung ke sana, maka jelas yang lainnya akan berkumpul di sana. Dalam perjalanan kami bertemu dengan Lazy, Zia, Putri, dan Haqqi.


Aku melambaikan tangan untuk memberikan tanda. Setelah itu kami tetap lanjut berjalan ke ruangan telur.


“C4 nya sudah dipasang?”



“Iya.”


Aku menjawab Lazy sembari melihat ke arah belakang untuk memastikan tidak ada yang tertinggal.


“Jadi tinggal nunggu semuanya ngumpul, keluar dari tempat ini, terus ledakin dah.”


Lanjutku sambil mendorong Fadli yang berjalan di depanku. Dia menjadi semakin lambat- justru dia berhenti dan menghalangi jalan.


“Oi, jalan! Ada apa?”


Aku mengintip dari belakang bahunya dan melihat seekor semut yang berukuran sedikit lebih besar dari yang lainnya. Kepala dan rahangnya juga berukuran besar. Jujur saja itu cukup mengintimidasi.


“Itu semut tentara!”



“Oh, jadi yang tentara bentuk fisiknya gitu, yah?”


Fadli mengangguk mendengar pertanyaanku. Semut tersebut melihat tepat ke arah kami dan perlahan mendekat. Yah, tanpa berpikir dua kali aku menyuruh Fadli untuk menyingkir dan menembak semut itu di bagian kepala sekali.


Meski terjatuh, dia masih dapat bergerak dan mencoba untuk bangkit. Aku mendekatinya, menginjak kepalanya dan memberikan dua lagi tembakan di kepala sebelum akhirnya dia berhenti bergerak sepenuhnya.


“Dah! Ayok, lanjut!”


Setelah akhirnya kami berenam mencapai ruangan telur, di sana sudah ada Dimas, Novan, Rei, dan Syah yang menyadari kedatangan kami.


“Lah, Bang Sema mana?”


Mereka berempat serempak menoleh ke dalam ruang telur. Di mana Bang Sema sedang membantai para semut yang ada sekaligus menghancurkan telur-telur yang dia lewati hingga tidak tersisa.


Hanya dengan pukulan dan tendangan, dia dapat menghancurkan kepala dari semut-semut yang ada. Jika itu aku, hal seperti itu tidak akan dapat kulakukan. Itu sebabnya aku lebih memilih menggunakan senjata. Meskipun begitu, sarung tangan miliknya memang barang yang bagus.


“Um… Bang? Ngapain?”



“Hm? Bersih-bersih kok!”

__ADS_1


Dengan santainya dia menginjak lalu mencabut kepala dari seekor semut sambil menjawabku.


“Yah, bukan itu masalahnya. Tau gak, kalau mereka bisa berkomunikasi satu sama lainnya kalau terancam?”



“Gak tuh. Lagian, aku rada bosan. Jadi nyari hiburan!”


Aku menghela nafas panjang dan berbalik untuk melihat ke setiap lorong yang ada. Dan benar saja para semut mendekati kami dari segala arah dengan jumlah yang tidak terhitung.


“Nah, itu yang kumaksud!”


Sambil menunjuk ke arah semut-semut yang medekat dengan kecepatan tinggi.


“Owh… maaf!”


Aku memasang wajah sayu ke arah Bang Sema.


“Semuanya masuk! Cara kita udah gagal! Prioritas sekarang bunuh semut sebanyak mungkin!”


Aku menyuruh mereka semua untuk segera masuk ke dalam ruangan telur sambil memberikan tembakan-tembakan kecil pada semut yang ada.


“Hoho…! Gak gini aja dari tadi!”


Dengan ekspresi tak tertahankan, Bang Sema mendekat ke arah lubang masuk ruang telur dan menghajar semua semut yang ingin melewatinya.


“Ah, Bang! Hati-hati!”



“Santuy!”


Satu pukulannya adalah kematian bagi satu semut. Terlebih reflek dan kecepatannya tinggi. Meski begitu dia sendiri bilang kalau tidak dapat mengatasi semuanya. Itu berarti hanya masalah waktu.


“Yang punya senjata api, bantu Bang Sema! Jangan sampai kena dia!”


Kami membantu Bang Sema yang mempertahankan tempat masuk ke tempat ini dengan tembakan-tembakan kecil pada semut yang menurut kami berada di luar jangkauannya.


Zia menggunakan senjata Desert Eagle, Dimas dengan QBZ-95, Fadli AK-47, Syah dan Putri menggunakan UMP45, dan Novan bersama Vector miliknya. Sedangkan untuk Rei, Lazy, Haqqi, dan Syah berdiri di belakang kami semua karena mereka tidak memiliki senjata api.


Rentetan suara bising dan kilatan api yang keluar moncong senjata terus terjadi sampai dua menit lebih sampai aku sendiri kehabisan magazen untuk AR-15 milikku. Aku melemparnya ke punggung dan menggantinya dengan FN-57 sampai dua magazen berikutnya.


“Mereka gak ada habisnya!!!”


Saat aku meneriakkan itu, aku teringat jika kami sedang berada di dalam ruangan telur. Aku melihat ke arah di mana dinding yang terbuat dari arang itu berada.


“Bang Sem, masih punya tali sama pasak kah?!”



“HAH?! GAK KEDENGARAN!”


Suara bising dari senjata yang kami gunakan sampai menyebabkan kepekaan pendengaran kami berkurang.


“Jangan sampai nembak aku!”


Aku meminta hal tersebut pada Zia, Dimas, Fadli, dan Novan sebelum berlari ke arah Bang Sema sambil memasukkan FN-57 milikku ke dalam holster dan mengeluarkan sebilah pedang. Untuk waktu singkat aku menebas beberapa semut yang ada di dekatnya.


“Tali sama pasak! Tali sama pasak! Masih ada?”



“Ada!”


Dia melompat mundur untuk membuka inventaris dan mengeluarkan apa yang kupinta. Sekaligus dia menyerahkan padaku untuk mempertahankan jalan masuk ke dalam ruang telur dari para semut.


Aku tidak sekuat dan secepatnya, jadi beberapa kali aku hampir terkena rahang semut yang ada. Tapi untungnya Bang Sema segera kembali maju dan menyuruhku mundur selagi dia menahan kembali semut yang ada.


“Itu! kamu mundur dah!!”



“Oke!”


Aku berlari ke belakang sambil membungkukkan badan untuk menghindari peluru-peluru yang beterbangan dan segera mengambil tali baja yang sangat panjang dan pasak yang dikeluarkannya.


“Syah, ikut sini!!!”



“Iya!”


Aku berteriak sambil berlari ke arah dinding yang terbuat dari arang tersebut bersama dengan Syah.


“Pasang ini! Yang kuat!”


Aku memberikan bagian pasak pada Syah selagi merentangkan tali bajanya dan melemparnya ke dalam lubang yang aku sendiri tidak tahu mengarah ke mana. Tapi kuharap itu bisa menjadi tempat pelarian.


Aku melihat Syah yang menancapkan pasak tersebut dan menginjaknya sampai benar-benar masuk ke dalamnya.


Aku mencoba untuk menarik tali baja tersebut untuk memastikan jika pasaknya dapat menahan kami saat turun. Setelah memastikannya aku menyuruh mereka satu per satu turun terlebih dahulu.


“Syah, kamu turun duluan cepat! Rei, Laz, Put, Haq, sini!”


Setelah mereka berempat berlari ke arahku, aku meminta mereka untuk mengikuti Syah menuruni lubang itu menggunakan tali baja yang telah kami siapkan. Setelah mereka paham, aku berlari ke arah Zia, Dimas, Novan, dan Fadli untuk meminta mereka melakukan hal yang sama.


“Bang, bisa tahan 30 detik?”



“Kamu liatnya aku lagi ngapain?!”


Yah, itu ada benarnya. Setelah Zia, Dimas, Novan, dan Fadli menuruni tali tersebut, Bang Sema meninggalkan tempatnya dan berlari ke arahku. Aku kembali menembakkan peluru yang masih tersisa pada HG yang kupegang untuk menjauhkan semut-semut yang mengejarnya setelah melemparkan pedangku.


“Jangan loncat! Itu dalam!”


Aku memperingatkannya untuk tidak menuruni lubang tersebut dengan cara yang sama seperti saat dia masuk ke dalam sarang.


Dengan cepat Bang Sema menuruni tali tersebut dan aku menyusulnya. Semut-semut yang mengejar kami entah mengapa berhenti di atas dan tidak mencoba untuk turun. Justru mereka seperti meninggalkan kami dan aku kebingungan saat melihat hal tersebut saat menuruni tali.


Beruntungnya tali yang Bang Sema keluarkan mecapai dasarnya dan kamipun lolos dari kejara para semut. Hanya saja kami jutsru masuk semakin dalam.


...[Player (Syah) has entered Serpent’s Shrine]...


...[Player (Arlone) has entered Serpent’s Shrine]...


...[Player (Lazy) has entered Serpent’s Shrine]...


...[Player (Putri) has entered Serpent’s Shrine]...


...[Player (Haqqi_SNLK) has entered Serpent’s Shrine]...


“Eh?!”


Barusan, aku mendapatkan pemberitahuan secara global.


...[Player (Zia) has entered Serpent’s Shrine]...


...[Player (Zatfley) has entered Serpent’s Shrine]...


...[Player (NowFun02) has entered Serpent’s Shrine]...


...[Player (Fadli_Robby_A) has entered Serpent’s Shrine]...


...[Player (Watuk) has entered Serpent’s Shrine]...


“Lagi?!”


...[Player (Reiga) has entered Serpent’s Shrine]...


Mereka semua yang mencapai dasar telebih dahulu telah menyalakan senter, jadi kami memiliki sumber cahaya. Jujur saja tempat ini sangat gelap.


“Hahh… huft… barusan itu intens banget! Ngomong-ngomong, kalian dapat pemberitahuan global?”


Mereka semua mengangguk. Aku meletakkan kedua tanganku di pinggang sembari menghela nafas panjang.


Pemberitahuan global adalah pesan yang dikirimkan oleh sistem secara langsung ke seluruh pemain di semua server. Hal ini biasanya terjadi saat seorang pemain mendapatkan penghargaan atau artefak. Tapi kali ini berbeda.


“Yaaah… puas mukulin semut kayak tadi. Ahahahaha!!!”



“Terus? Sekarang kita malah masuk lebih dalam loh!”


Aku sedikit meninggikan suaraku pada Bang Sema dan dia hanya mengangkat kedua bahunya.


“Hahh… yah coba kelilingin tempatnya! Siapa tau ada jalan.”


Aku mengeluarkan senter dan mengarahkannya ke berbagai arah. Tempat ini bukanlah lorong, melainkan sebuah ruangan yang sangat besar. Aku sedikit berjalan dan menginjak sesuatu yang memiliki suara gemerisik.


Aku berjongkok sambil menyenter apa yang baru saja kuinjak untuk memastikannya. Benda tersebut terlihat seperti koin emas. Tidak jauh dari situ aku menemukan benda berbentuk oval berwarna kuning muda yang memutih, mengkilap, dan keras.


“Syah, coba sini!”


Aku meminta Syah untuk mendekatiku, tapi justru mereka semua mendekatiku sambil menyenter dua buah benda yang sedang kupegang itu.


“Itu emas, Kak Rei?”



“Kayaknya sih emas. Kalau ini… kayaknya sisik?”


Aku melihat ke arah tanganku yang memegang benda mengkilap itu dan merasa jika bisa mendapatkan informasi darinya.


“Apa?”



“Coba keluarkan benda yang bisa ngeliat informasi monster itu!”


Dia segera membuka inventaris dan memberikan benda tersebut padaku. Tanpa berpikir dua kali aku mencoba untuk menggunakan benda mengkilap tersebut untuk melihat informasinya. Jika benda tersebut bukanlah milik monster, maka harusnya tidak akan bekerja.


Sayangnya itu berhasil dan memperlihatkan hasil yang sebenarnya tidak ingin kulihat. Tenganku seketika gemetar dan segera berdiri dari posisiku sebelumnya. Mecoba untuk mengarahkan senter ke arah jauh di depan sebelum akhirnya terlihat kilatan pantulan cahaya senterku.


Aku kembali melihat ke arah alat yang kupegang untuk memastikannya sekali lagi. Tapi terkadang ada kenyataan yang sangat tidak ingin kuakui sampai-sampai tidak dapat mengatakan apapun kecuali satu huruf yang keluar dari mulutku.


“A!”


__ADS_1


__ADS_2