COLD REVENGE

COLD REVENGE
Part 12. Just Need You Come Back Home.


__ADS_3

Dalam beberapa hari berikutnya aku sibuk memenuhi semua informasi yang diinginkan oleh pengacara istri Hans Dench.


Semua yang diberikannya pada Carol, selain asset rumah dan mobil setahun lalu. Aku membayar seorang peretas di FBI dan dia membantu meretas media sosial pribadinya Carol dan menemukan foto-foto menarik di sana.


Jangan lupa aku adalah teman, tentu aku bisa saja berkata aku punya akses ke media sosialnya.


Bibi meneleponku sekarang.


"Sayang bagaimana kabarmu disana."


"Aku baik Bibi, bagaimana kabar Paman dan Bibi."


"Kami baik. Sebentar lagi Thanksgivings. Jangan lupa kembali ke rumah." Setiap tahun sejak aku pergi untuk kuliah dan bekerja jauh dari rumah dia selalu mengingatkanku untuk kembali.


"Bibi, aku akan melihat keadaan, aku sedang menyelidiki Dench teman Papa pengkhianat murahan itu. Aku punya teman yang bisa mensupport sekarang untuk membuat masalah dengan mereka." Bibi diam di seberang sana.

__ADS_1


"Emma, kau sekarang sudah punya pekerjaan bagus, karier bagus, kenapa kau tak lupakan saja semua itu. Apa yang kau punya untuk melawan orang seperti itu. Kau tahu semangkin Bibi pikir, apa yang dikatakan Ayahmu benar, kita tak punya apapun untuk melawan mereka." Hal yang sama yang dikatakan Ayah. Aku kira Ayah menulis surat untuk Bibi untuk mencegahku balas dendam dan membahayakan diriku tapi aku tak bisa menahan balas dendam ini. Ini harus kutuntaskan.


Tidak ada kata mundur, lima belas tahun aku mengusahakan ini mana mungkin aku melepaskannya.


"Bagaimana jika kau berakhir seperti Ayahmu."


"Aku lebih baik mati melawan daripada mati menyerah Bibi. Percuma saja Bibi melarangku, sudah kukatakan pada Bibi aku akan menuntut balas pada mereka. Lagipula orang yang melawan mereka adalah sebuah negara. Bukan perorangan yang mudah ditumbangkan. Mereka itu punya bisnis obat-obatan terlarang Bibi."


Bibi kehabisan kata melarangku lagi sekarang.


Dia masih tak menjawabku. Aku tahu dia khawatir padaku. Kadang itu membuatku tak kuat melawannya, aku tahu dia menganggapku kadang mungkin lebih dari keponakannya.


"Bibi,... kau marah padaku. Aku akan berhasil Bibi, berikan aku kepercayaan."


"Emma... Kau tahu apa pesan Ayahmu, Bibi tak sanggup menanggung rasa bersalah jika terjadi sesuatu padamu. Ayahmu ingin kau hidup damai, anggaplah kami ini keluargamu Emma, pengganti Ayah dan Ibumu. Kenapa kau mengejar hal berbahaya... Bagaimana jika..." Dia tak bicara lagi dia terisak di telepon. Aku tak bisa menenangkannya lagi sekarang.

__ADS_1


"Bibi, aku bersumpah padamu, aku tak akan mati sia-sia. Kau harus yakin itu. Aku juga tak mau membuat siapapun sedih. Baiklah aku pulang oke...Aku usahakan pulang ke New Jersey. Aku akan pulang, kau jangan menangis seperti ini. Kau mau dibawakan apa... Mau peralatan masak baru aku bawakan oke, kulihat ada series baru di favorite brandmu. Nanti kubelikan oke." Mataku panas, asal dia bicara seperti ini aku tak sanggup mendengarnya.


"Kau pikir kau bisa menyuapku dengan peralatan masak dasar keponakan licik. Aku hanya mau kau pulang setiap Thanksgiving dan Natal, membawakamku cucu. Kau pikir aku tak bisa membeli panci." Dia memarahiku tapi menyurut dengan tangisnya. Aku tertawa kecil.


"Yang membelikanmu panci dan perlengkapan makan hanya aku Bibi. Kau selalu tersenyum lebar tiap tahun membuka hadiahku. Aku pulang oke ...jangan kuatir."


"Kau harus pulang tiap tahun. Sampai aku mati kau harus pulang, keponakan menyusahkan. Aku tak pernah minta apapun selain kau pulang ke rumah setiap Thanksgivings dan Natal." Dia masih memarahiku.


"Iya maafkan aku, aku akan pulang, pasti aku pulang Bibi tersayang."


Kadang aku berpikir aku mungkin harus bersyukur dengan adanya Bibi, jika tidak entah apa yang terjadi padaku. Aku berhutang padanya dan suaminya yang menyediakan keluarga kedua untukku.


Udara musim gugur mulai mendingin di LA yang panas ini, tapi di New Jersey sudah jauh lebih dingin. Tapi sejak lama dinginnya New Jersey tak pernah memadamkan bara di hatiku.


Tapi demi Bibi aku berjanji akan selalu pulang ke sana, naungan sejuk yang membuatku tak terbakar dendamku sendiri. Aku harus pulang, hidup, dan tak mati sia-sia ...

__ADS_1


__ADS_2