
"Maafkan aku, aku hanya sembarangan bicara. Terima kasih sekali lagi. Panggil aku Emma Tuan Colin, aku tadi hanya sedikit mengetesmu, tak akan kulakukan lagi , aku tahu kau bukan kelinci percobaan. Jika aku pernah membantingmu ke matras di pertemuan pertama, aku minta maaf." Thomas langsung ngakak.
"Kau membantingnya?! Kau punya nyali! Aku bangga padamu." Thomas melanjutkan tertawanya sambil memberiku tos. Colin mèlipat tangannya di depan dada, nampaknya dia menyerah kukerjai.
"Dia bilang level beladiriku tak berlaku di depannya, aku harus menunjukkan padanya itu asli, jika tidak aku akan mempermalukan pelatihku. Tapi akhirnya Sir Colin sangat baik. Aku harus membelikannya minum atau mengajaknya saat dia di LA nanti untuk minta maaf dan bilang terima kasih padanya. Colin kau tak marah padaku bukan?"
"Penghubungmu bangga padamu, bagaimana aku harus marah padamu." Colin menunjuk kepada Thomas yang masih tersenyum lebar.
Aku hanya bisa meminta dia mengampuni kesalahanku sekarang. Tapi nampaknya dia tidak mengambil hati. Aku memberikan senyum perdamaian padanya. Dia harus dijadikan sekutu bukan musuh.
"Kau manis Tuan Colin."
__ADS_1
"Baru dia yang bilang kau manis Colin." Thomas tertawa melanjutkan candaan ini.
"Ohh biasanya dia di bilang apa." Aku penasaran
"Mr. Coldlin." Thomas mengatakannya sambil tertawa. Aku meringis lebar. Iya, awal-awal pertemuan dia menang terkesan dingin, meremehkan, semua hal yang bisa membuatnya dipanggil Coldlin. Itu memang pantas untuknya.
"Aku yakin Mr. Coldlin hanya tak ingin direpotkan oleh gadis-gadis pengagumnya. Tapi gadis-gadis itu malah terpesona dengan sikapnya."
"Kau benar ...kau benar. Si sombong ini memang sangat beruntung." Thomas melanjutkan.
"Dia mungkin akan bekerja denganmu nanti, jadi kau harus baik-baik dengannya." Thomas akhirnya memberitahu bahwa Colin adalah tandemku.
"Aku akan jadi gadis baik. Senang bertemu denganmu Sir Coldlin." Aku mengedipkan mataku dan tertawa padanya. Dia meringis dengan senyumku. Nampaknya aku benar-benar harus mentraktirnya makan malam jika lain kali kami bertemu.
__ADS_1
"Baiklah, jika kau sedang bekerja kau harus menggunakan id palsumu, kita tak perlu bersusah payah mencarikanmu id palsu lagi." Thomas mulai masuk ke bagian teknis.
"Baik Sir."
Pembicaraan memang berkisar pada hal teknis kemudian. Karena Colin akan jadi 'senior-ku', dia juga menjelaskan. Sementara Thomas kebanyakan akan ada di kantor London.
"Yang terpenting kau mengikuti semua arahan, dengan kemampuanmu jika kau berjalan di jalurmu, semua akan berada dalam kontrol dan kami bisa menjamin keselamatan agen-agen kami." Thomas tampaknya punya kekhawatiran tersendiri tentangku.
"Mengerti Sir. Aku juga tak akan mau kehilangaan kesempatan melihat keluarga Herron jatuh." Kuyakinkan saja dia.
Pertemuan itu berakhir. Colin dengan baik hati mengantarku pulang ke hotel.
"Kau memang manis. Terima kasih mengantarku pulang Sir Coldlin." Sekarang aku mencoba batas humornya. Apa dia orang yang terlalu serius atau bisa menghadapi candaan seperti ini.
__ADS_1
"Aku mendengar kisahmu dari Thomas." Dia tidak tersinggung tapi dia juga tak terbawa dengan candaanku. "Pasti berat untukmu."
"Apa yang tidak membunuhmu akan membuatmu lebih kuat. Tak usah mengasihaniku... Aku hidup dengan berani Tuan Colin. Aku sungguh berterima kasih kau dengan baik hati membantuku dari awal. Semoga aku juga bisa membantumu." Aku memandangnya sebentar. Well, semoga dia bisa jadi sekutu bagiku. Tapi bagaimanapun aku sudah belajar, sekutu ada karena saling menguntungkan. Tak usah terlalu percaya pada manusia.