
POV Colin.
Aku tak tahu apa bisa meyakinkannya meninggalkan LA. Aku tak minta sekarang tapi aku jelas tak bisa menunggu dua tahun lagi. Setahun lagi itu batasnya.
"Apa yang Ayahmu inginkan adalah kau melanjutkan hidupmu. Kau sudah melakukan semuanya sebagai putrinya. Sekarang pelan-pelan lupakan semua yang terjadi disini. Setahun ini kita bereskan semua yang ada di sini, akhir tahun depan kita ke London."
Dia tersenyum menatapku.
"Kau baik sekali, tapi aku belum selesai. Dench bahkan belum bisa kumasukkan ke penjara karena dia berlindung dengan profesinya. Aku masih gagal melawannya. Pekerjaanku masih jauh dari selesai. Setahun? Aku tak yakin bisa meninggalkannya. Aku akan mengecewakanmu. Kau terlalu baik."
"Bukan sekarang Emma." Dia menggeleng.
"Colin, qku bahkan tak tahu hasilnya. Bahkan tidak tahu apa aku akan berhasil. Kau benar, hubungan kita sulit, kita akan banyak bertengkar. Dan kau terlalu baik padaku. Aku cuma berharap jadi teman mesramu malam ini."
"Kenapa kau langsung menolakku tanpa memikirkannya."
"Karena aku tahu kau pria yang sangat baik. Jika ini tak berhasil kita akan berakhir saling membenci. Aku ingin jadi temanmu saja." Dia malah memelukku sekarang. Dia memelukku tapi tak ingin menyerah, dia bersedia menjadi kekasihku, tapi tak bersedia mengikutiku.
"Kenapa kau memilih jalan sulit ini."
__ADS_1
"Entahlah. Sudah takdirku kurasa." Dia melihatku. "Maaf aku mengecewakanmu." Aku tak percaya dia menolakku secepat ini, dia bahkan tak memikirkannya dulu, Emma langsung memutuskannya di depanku. Apa permintaan ini begitu sulit untuknya.
"Emma..."
"Aku minta maaf, tapi keputusanku sudah bulat...Kita teman saja oke. Aku siapkan dokumen data keuangan Dench dan Cohen malam ini, besok pagi kuantar padamu di apartmentmu. Aku turun dulu. Selamat malam."
Dan dia berjalan pergi dariku.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Aku kembali ke apartmentku. Dia belum siap melepaskan, aku juga tak bisa maju kemana-mana. Kupikir dia akan mempertimbangkannya, tapi dia langsung menolakku dalam satu kalimat.
Berbeda saat Julie mengatakan lebih baik kami berteman saja, aku merasa tidak rela melepaskan Emma. Kurasa aku salah dengan caraku mememintanya.
"Emma menolakku dalam kesempatan pertama."
"Dia menolakmu? Kenapa?"
"Iya, bilang aku terlalu baik untuknya."
__ADS_1
"Apa kau langsung memaksanya untuk meninggalkan kasusnya yang sedang dijalaninya. Jelas itu yang dia katakan padamu."
"Dia hanya berpikir kami mungkin bisa berkencan tapi tidak dengan hubungan jangka panjang. Bukankah itu sepertinya tidak masuk akal."
"Kau perlu membuatnya yakin hidupnya akan jauh lebih baik, itu tak bisa dilakukan dengan satu kali pertanyaan di satu waktu anak bodoh. Bukankah kau tahun depan harus sering ke USA, gunakan itu untuk meyakinkannya, jangan langsung memaksanya berkomitmen sekarang. Jelas saja dia akan menolakmu. Walaupun kau sudah melakukan banyak hal untuknya tapi bertanya langsung dalam satu waktu jelas tak bisa mendapatkan persetujuan wanita yang terbiasa mandiri sepertinya. Mana mungkin dia mau menyerah padamu seperti itu... Kau pikir dia tidak bisa bertahan tanpamu? Berbeda jika gadis yang kau kejar menganggapmu segalanya, tapi dia terbiasa menjalani jalannya sendiri. Kau jelas salah dalam memintanya."
"Begitukah?" Sekarang aku di posisi yang salah. Kupikir setelah semua yang kulakukan untuknya, dia akan mempertimbangkannya, tapi dia menolakku saat itu juga. Dan Ibuku malah membenarkan tindakannnya dan menyalahkanku.
"Tentu saja itu jawaban yang akan kau dapatkan. Kau yang terlalu arogan dalam memintanya."
"Aku arogan?" Kupikir aku sudah memberinya waktu untuk mempertimbangkannya dengan semua sikapku. Penilaian wanita dan pria memang berbeda. Bahkan Ibu mengatakan caraku salah.
"Begini saja, bukankah Paman dan Bibinya akan liburan ke London setelah Natal ini. Dia dekat dengan Bibinya bukan. Kita akan mengundang mereka ke rumah. Jemputlah mereka, ajak mereka makan malam di rumah. Ibu akan bicara kepada Bibinya meminta tolong dia membujuk Emma untukmu. Kau jangan patah semangat dulu. Semuanya bisa berubah."
"Kau ingin aku menjemputnya."
"Iya selama dia di London, jadilah kekasih yang baik. Buatlah Bibinya menyetujuimu lebih dahulu. Dia tak akan kemana-mana jika kau sudah mengunci keluarganya. Perlahan dia akan bersedia merubah pikirannya. Temani dia ke Paris. Berjuanglah demi calon istrimu itu. Tahun depan bawalah dia kembali ke London."
Ibu membuatku punya harapan lagi. Mungkin benar aku tak bisa merubah keputusannya dalam semalam jelas dia akan menolakku jika aku mencoba melakukannya.
__ADS_1
Aku akan mencoba lagi.
\=\=\=\=\=\=\=