
"Kau tak punya kekasih, wanita secantik dirimu."
"Ini hanya masalah aku mau atau tidak. Sudah kubilang hidupku masih kacau. Kekasih akan menambah kacau di banyak hal."
"Kau nampaknya punya kehidupan yang baik Emma. Karier yang cemerlang, kenapa kau mencari masalah dengan terlibat semua ini."
"Iya kehidupanku baik Bibiku. Dia mendampingiku dengan baik. Tapi itu tak cukup, dari awal itu tak cukup. Bibiku memohon padaku untuk menyudahi semua ini, tapi aku tak bisa."
Dia diam. Senior yang perhatian. Julukan Coldlin itu tidak pantas untuknya. Mungkin dia hanya memilih circle-nya, dia bukan pria yang tebar pesona ke siapa saja. Dia hanya menghindari terlalu banyak orang yang lalu lalang dalam hidupnya. Dia cukup perhatian.
"Jadi kita kencan Coldlin?" Aku melihatnya sambil bertopang dagu di kursiku.
"Tidak, aku tak bisa membuat kekacauan dengan rekan kerja. Ini sama sekali tak bisa diterima." Dia tertawa dan akhirnya mumutuskan. "Jangan tersinggung, aku bukan menolakmu, kau sangat cantik, tak ada laki-laki yang tidak mengakuinya, hanya tak yakin hal ini mempergaruhi pekerjaan kita."
Dia nampaknya orang yang logis. Aku menghargai orang-orang dengan pemikiran tenang sepertinya. Atau dia tak nyaman dengan caraku memulai hubungan seperti ini, aku tahu kami adalah orang asing sebelumnya. Itu tak bisa disalahkan.
__ADS_1
"Tidak, aku tidak tersinggung. kau pria yang baik Coldlin. Baiklah, jika kau ke LA beritahu aku oke."
"Iya. Jauhkan dirimu dari masalah sebelum itu terjadi."
Pertemuan itu berakhir. Aku kembali ke LA keesokan harinya. Teman-temanku mengkhawatirkanku, tapi kujawab aku baik-baik saja. Hanya kelelahan penerbangan panjang dan udara yang tiba berbeda.
Antonio meminta bicara denganku setelah aku kembali.
"Kami sudah mulai menerornya. Tapi nampaknya dia tak percaya. Sudah kukirimkan padanya foto satu rekeningnya yang kau ambil. Kita lihat saja apa dia akan menyerah atau tidak."
"Dia akan membayar. Tenang saja. Jika tidak dia akan diselidiki dia akan kehilangan lebih banyak lagi. Kita hanya perlu mengancamnya lagi." Aku merasa juga begitu. Sihlakan menikmati sakit kepala bertubi-tubi sampai nanti kau masuk penjara.
Ada pekerjaan yang harus kutangani kemudian. Kali ini mengharuskan aku ke kantor polisi lagi. Sementara belum ada kabar apapun dari Thomas, tapi sekarang Colin menelepon.
"Colin, sayang, kau meneleponku. Apa kita ada pekerjaan?"
__ADS_1
"Tidak, aku hanya mau menelepon menanyakan keadaaanmu."
"Aku baik-baik saja. Tenang saja aku tidak akan melakukan hal yang berbahaya. Sudah kubilang padamu dan Thomas."
Walaupun jika aku berdiri di depan Hans Dench rasa ingin meni*nju mukanya sendiri sampai dia terjungkal sangat kuat tapi aku akan bertahan tidak melakukannya. Itu akan terlalu mudah untuknya. Siksaan tiap malam memikirkan uangnya akan habis akan lebih baik.
"Kuharap kau menempati itu untuk keselamatan dirimu sendiri. Dia mungkin mengirim pembun*uh bayaran untuk melenyapkanmu sendiri jika dia tahu kau memburunya."
"Iya, aku tahu. Kapan kau ke LA?"
"Belum, tapi mungkin dalam waktu dekat ada yang permintaan data. Karena kau salah satu sumber data kami. Itu akan berasal dari Thomas langsung."
"Terima kasih untuk mengingatkanku. Kau senior yang perhatian."
"Ada kabar baik dari Thomas, orang yang kau potret di klub itu benar adalah tangan kanan saudara laki-laki Assad. Kami mengawasinya secara ketat sekarang. Kegagalan pengiriman itu sudah 6 bulan yang lalu seharusnya mereka akan mulai mengirim batch baru. Karena itu jangan membuat gerakan oke. Kapal-kapal Herron pasti membawa barang itu lagi. Tapi pasti portnya akan berubah."
__ADS_1
"Ohh, benarkah. Itu bagus. Tapi mereka belum mendapatkan jadwalnya bukan."