
"Benarkah?"
"Mandilah, gantilah bajumu kita makan malam." Aku senang saat dia datang aku bisa mengajaknya makan malam. Ini seperti bisa membalas sedikit kebaikannya.
"Tentu saja, sangat pas, tunggu aku." Dia masuk ke kamarnya aku ke dapur menyiapkan pasta dan salad tambahan. Aku punya saus carbonara buatan sendiri tinggal merebus pasta. Tak lama aku selesai, ini tak memerlukan waktu banyak bertepatan dengan oven yang berbunyi.
"Aku tak menyangka turun pesawat aku langsung dapat makanan enak. " Dia keluar dan wangi panggangan membuatnya langsung duduk di meja marmer di dapur. "Masakan rumah, senang bisa mendapatkannya disini. Wanginya enak ..." Dan wangi sabun mandinya juga enak. Aku membayangkan terlalu jauh saat dia duduk di depanku dengan kaus abu-abu polosnya. Postur atletisnya, lengannya yang kekar, membuatmu menarik napas panjang sembunyi-sembunyi.
"Ini hanya masakan rumah. Mungkin rasanya tidak terlalu sesuai, semoga kau suka." Aku memotong ayam panggang bagian dada yang masih panas itu. Dia sudah mengambil sendiri pastanya dan menyuapkannya, kuharap dia suka resep Bibi.
"Ini enak, aku tidak mengada-ngada ini enak." Sebagai koki rumahan, aku senang di puji tentu saja. Dia makan dengan lahap, aku sudah kenyang dengan melihatnya makan makanan yang kubuat.
"Ayo makan, ...kenapa kau hanya melihatku." Aku tersenyum, sekarang aku mengerti kenapa dulu Mama terlihat bahagia saat Papa makan dengan cepat dan lahap. Rasanya memang membahagiakan. Tapi sekali lagi Colin bukan pria milikku, dia sudah punya Julie yang sempurna itu. Aku tak boleh jatuh cinta padanya.
Sudahlah aku berpikir terlalu jauh. Aku mengambil salad. Menuangkannya dalam piringku. Nanti aku akan bertemu seseorang yang benar untukku, saat ini anggap saja hiburan.
"Kau mau? Kau bukan pembenci sayuran bukan?"
__ADS_1
"Tentu aku mau. Semuanya kelihatan enak." Aku tersenyum lebar dengan pujian tulusnya. "Kau ternyata suka memasak."
"Aku sering membantu Bibi, dia sering mengajakku memasak bersamanya, dulu Mama juga punya hobi memasak. Aku jadi senang masakan rumah. Jika sempat aku akan menyiapkan makanan sendiri, memasak itu hiburan buatku. Tinggal dimasukkan microwave untuk dihangatkan dan jadi."
Colin melihatku bicara, menyenangkan punya seseorang yang suka masakanmu, menemanimu mengobrol di meja makan.
"Kau sungguh suka, ini bukan masakan koki. Aku tahu kau sering makan di luar. Mungkin kau tak suka tak apa mengatakan kekurangannya." Aku tak yakin ini sesuai dengan seleramu.
"Kita perlu wine." Sekarang aku tertawa.
"Untuk merayakan sebentar lagi kasus Herron selesai. Lagipula aku tak sekedar memuji ini enak." Dia menjangkau ke sebuah rak, aku tahu ada penyimpanan wine dan minuman lain di sana, aku tak menyentuhnya karena itu bukan milikku.
"Nampaknya kau juga sedang senang? Kenapa kau tiba-tiba membuka wine." Dia sekarang tersenyum.
"Ahhh benar rupanya ada yang sedang senang?"
"Ehm Julie menerimaku akhirnya." Dia tersenyum lebar, membuka botol wine itu, aku diam melihatnya. Ohh ternyata mereka sudah resmi sepasang kekasih. Hatiku sakit, tapi aku tahu aku tak bisa mengharapkannya. Siapa aku?! Hanya junior yang di tolongnya. Dia hanya kasihan padaku.
__ADS_1
"Selamat, akhirnya setelah penantian panjang." Aku mencoba tersenyum, bersulang untuknya, dia terlihat gembira. Aku tak punya harapan lagi walaupun sejak awal memang aku tak punya harapan sebenarnya, kenapa aku menipu diri sendiri, tak usah merasa sakit hati.
"Kau benar setelah penantian panjang."
"Dia sering ke LA bukan? Dia banyak bekerja di sini. Kau perlu apartmentmu? Aku bisa langsung pindah."
"Tidak, dia sedang di Paris sekarang, kau tidak perlu pindah. Pakai saja selama kau perlu. Operasi ini akan segera menemui ujungnya begitu kapal melabuhkan jangkar di pelabuhan US. Tak apa kau di sini."
"Thanks Senior Coldlin." Aku akan selalu memanggilnya seperti itu.
"Terima kasih juga untuk makan malamnya."
"Kata Thomas kau ke NY untuk mendapatkan dukungan politik soal kasus ini." Aku mengubah pembicaraan.
"Iya, itu harus. Jika tidak mereka akan melakukan lobi kotor hukuman minimal dengan uang mereka. Itu tak boleh terjadi, harus ada sorotan media yang memastikan itu tidak terjadi. Lagipula ini kasus besar."
"Aku sudah tak sabar menyaksikan mereka masing-masing di penjara." Melihat anggur di tanganku. Aku sudah membayangkan saatnya datang terutama saat aku bicara sendiri dengan Dench.
__ADS_1