COLD REVENGE

COLD REVENGE
Part 94. It's Done


__ADS_3

POV Emma.


"Sayang, kau bisa ikut aku sebentar." Colin tiba-tiba menelepon, saat aku baru kembali dari pekerjaan yang malam itu.


"Ikut kemana?"


"Ikut saja, ini penting. Aku sudah dibawah."


Ini sudah jam 9, aku sudah bilang padanya aku ada pekerjaan hari ini. Dia mau kami kemana sebenarnya.


"Kita mau kemana?"


"Pasang seatbeltmu." Dia langsung menjalankan mobil sementara aku memasang seatbelt. "Kau tanya apa ya kulakukan dengan foto yang kau dapatkan. Aku mengadu domba Dench dan Lucchese, dan nampaknya sekarang mereka percaya Dench itu mengorbankan Cohen dan mereka...." Dia menceritakan apa yang dilakukannya. Rencana yang dipikirkan dengan baik. Tapi kenapa mereka termakan oleh provokasi itu.


"Kau ingat dua hari lalu aku memintamu untuk membuat kendaraan DEÀ parkir di dekat kantor Dench, nampaknya mereka percaya dengan itu."


"Sekarang nampaknya mereka pergi menghabisi Dench. Aku menyewa orang mengikuti Dench beberapa hari ini, dia bilang di sekitar Dench ada orang yang mengawasinya. Dan tadi dia di culik sekelompok orang saat sedang akan pulang dari kantornya."


"Lalu?!"


"Entahlah... aku belum mendapat berita lagi. Tapi kita akan mengikuti GPSnya." Aku melihat panduan GPS yang ada di layar ponselnya itu, kami mengarah ke luar kota.


Sebuah pikiran muncul di benakku. Jika gembong narkoba membunuh musuhnya apa yang mereka lakukan? Intravenous overdose, ditembak?


Sebuah telepon datang tak lama setelah kami berjalan.


"Sir nampaknya mereka masuk membuang meninggalkan mobilnya di sebuah rumah kosong luar kota, agak jauh dari jalanan utama. Anda ingin saya mengikutinya? Kemungkinan besar dia akan mungkin dikuburkan. Entahlah saya mengamati dari jauh, mobilnya ditinggalkan begitu saja."


"Kau ingin mengikutinya?"

__ADS_1


"Tidak. Aku mau pulang saja ...Aku tak mau tahu apa yang terjadi padanya. Aku membiarkan dia membayar, yang terjadi padanya akibat perbuatannya sendiri.Aku tak mau tahu..." Aku hanya berharap bisa membawanya ke penjara tapi ternyata yang terjadi lebih dari itu. Tiba-tiba aku takut jika harus memutuskan hidup dan mati.


"Kau yakin? Kupikir kau mau melihat apa yang terjadi."


"Iya, aku tak mau tahu, suruh orang itu kembali."


"Baiklah."


Aku diam sesaat ketika kami kembali. Rasa tidak nyaman membayangkan apa yang terjadi di sana membayangiku.


"Kenapa kupikir kau ingin tahu apa yang terjadi padanya."


"Entahlah rasanya seperti menyebabkan kematian seseorang, tapi di saat yang sama aku juga berharap dia membayarnya."


"Itu yang disebut kau masih memiliki nurani, kau belum melewati batasnya. Bukankah begitu?"


Aku tak bisa menjawabnya. Mungkin benar, padahal sebelumnya aku ingin sekali melihat Dench celaka, tapi begitu diberi kemungkinan memutuskan hidup matinya aku tak mau terlibat sama sekali.


"Apa dia akan mati?"


"Hmm...kemungkinan itu besar. Nanti kita juga tahu apa yang terjadi. Apapun yang terjadi juga bukan salahmu."


"Kenapa mereka langsung percaya sepertinya itu mudah sekali."


"Entahlah... mungkin mereka sudah mencurigai Dench sejak awal, apa yang kulakukan hanya tambah membuat mereka percaya kurasa. Aku tak tahu. Orang-orang seperti itu sangat sensitif dengan masalah kepercayaan kurasa. Lagipula mereka pasti takut keterlibatan mereka bisa dibocorkan oleh Dench ke DEA."


Aku duduk berpikir dengan berbagai macam pikiran di kepalaku.


"Tak usah kau pikirkan, itu sudah resiko dia sendiri terlibat dengan orang semacam itu."

__ADS_1


"Resiko dia sendiri..."


Aku mengamati berita apa yang terjadi keesokan harinya. Belum ada, sampai tiga hari kemudian. Sebuah berita ada di ponselku.


...'Hans Dench pengacara Heron ditemukan terbakar di mobilnya sendiri di sebuah area tanpa penghuni.'...


Akhirnya... dia benar-benar terbunuh. Orang yang menjadikan aku terobsesi untuk menempuh jalan ini sudah tamat riwayatnya. Janjiku sudah lunas.


Satu hari aku tak konsentrasi bekerja. Entah kenapa dia terbunuh, kupikir aku akan gembira tapi ternyata aku biasa-biasa saja. Memikirkan apa yang telah terjadi. Akhirnya aku menelepon Bibi.


"Bibi, Dench bangsat itu sudah tewas terbunuh."


"Benarkah? Karena apa..."


"Dia dibunuh bandar obat Italia."


"Itu bagus, dia membayar dengan setimpal tabur tuai berlaku untuknya, jadi kau tak usah mengurusi Dench lagi. Lanjutkan hidupmu. Menikahlah, pergilah ke London dengan Colin."


"Bibi...kau belum apa-apa sudah menyuruhku pergi."


"Lalu apa yang kau tunggu di sini, kau di tawari perkerjaan di sana, kau di tawari rumah nyaman dan keluarga. Colin sebaik itu padamu. Ayahmu tak mau kau meneruskan masalah ini dari dulu. Lupakan semua ini Emma. Pergilah dan urus hidupmu. Kau sudah melakukan semua sebagai putrinya, ... sekarang dia hanya minta kau berbahagia dan tidak lagi mengingat masa lalu...Kau mengerti. Bibi ini orang tua jadi mengerti 100% keinginan Ayahmu."


"Iya Bibi, aku mengerti. Aku akan memikirkannya."


"Tak usah memikirkannya, lakukan saja." Dia mengomel, aku tertawa. Bibi tersayang ini, dia selalu mengomeliku, walau aku sadar dia tidak berniat buruk sama sekali.


"Ya baiklah Bibi. Aku hanya ingin bicara padamu."


"Lupakan semuanya, ini sudah selesai Emma. Kau tak menanggung beban apapun lagi."

__ADS_1


"Iya Bibi." Aku termenung. Mungkin aku tak gembira karena Ayah tak ingin aku mengejar ini. Atau karena aku tidak mengharapkan ini, mengharapkan dia tewas begitu saja. Tanpa aku memberikan pesan terakhir. Penutup untuk semuanya.


__ADS_2