COLD REVENGE

COLD REVENGE
Part 64. Hans Dench


__ADS_3

Saat menerima itu aku langsung melihat ke kaca di depanku.


Aku melihat dengan hati-hati pantulan di kaca. Seorang pria yang tidak muda lagi. Tubuhnya agak gemuk, wajahnya belum terlihat sepenuhnya karena dia menunduk.


Siapa? Saat wajahnya terangkat aku mengenalinya. Detektif Cohen? Sejak kapan dia mengikutiku? Lalu apa yang dilakukan Colin disini? Dia mengikutiku?


Lupakan itu aku harus menghilang terlebih dahulu dari pandangan Cohen. Aku membayar apa yang kuinginkan sebelum menghilang dalam kerumunan orang di sebuah lobby luar yang sedang menampilkan live music.


Aku menelepon Colin.


"Kau bisa melihatku? Apa Cohen masih mengikuti?" Aku langsung bertanya padanya.


"Aku tak bisa melihatmu saat kau bergabung di lobby luar, tapi pria itu juga nampak kebinggungan sekarang. Aku di tangga lobby atas."


"Kau tahu dia mengikutiku dari mana?"


"Tidak, aku hanya melihatnya nampak mengawasimu. Tapi kurasa dia melihatmu di dalam mall."


"Kau mengikutiku?"


"Aku hanya kebetulan bertemu denganmu." Aku tak percaya kebetulan, dia mengikutiku. Kenapa dia mengikutiku. "Cohen siapa? Aku merasa kau pernah menyebutkannya." Pertanyaannya muncul kemudian.


"Dia polisi korup teman Dench. Kurasa dia tidak percaya aku ada di New Jersey."

__ADS_1


"Dimana kau, mau pulang akan kuantar?" Aku menyebutkan posisiku padanya. Aku ingin tahu kenapa dia bisa berakhir mengamatiku.


Aku duduk di sampingnya sekarang.


"Kenapa kau mengikutiku?"


"Aku hanya kebetulan melihatmu lalu melihat orang itu memperhatikanmu."


"Aku tak percaya kebetulan."


"Terserah padamu percaya atau tidak." Dia tidak menyerah di perbedaan pendapat. "Cohen itu, dia mungkin masih penasaran padamu. Dia pernah melihatmu?"


"Pernah tentu saja, tapi sudah lewat 15 tahun yang lalu. Saat aku masih memakai kacamata, mungkin. Seperti tampilanku di foto resmi. Perbedaannya cukup signifikan. Karena dandanannya berbeda.


"Kau tak perlu pindah?"


"Aku tak mengikutimu sudah kubilang padamu." Aku melihatnya dengan kesal. Baiklah. Aku tak akan bertanya lagi.


"Jika itu wajah Emma dan Tara cukup berbeda, dia tak mungkin mengikutimu. Mungkin kau akan dicari."


"Aku tak takut mereka mencariku... Akan kukatakan aku Tara Reiley sesuai dengan indentitas yang kupunya. Jika aku ketahuan Emma pun yang menjebloskan mereka adalah DEA. Kau tak usah terlalu khawatir." Besok aku tak akan bertemu dengannya lagi.


Aku ingin menjauh darinya malah berakhir menemukan dia lagi. Sungguh akhir yang menyebalkan.

__ADS_1


"Turunkan aku di lobby gedung itu." Aku menunjuk sebuah gedung yang merupakan bioskop.


"Kau ingin menonton?"


"Iya."


"Boleh aku ikut?" Aku menoleh padanya.


"Tidak."


"Kenapa."


"Senang sendiri saja."


"Aku ikut saja. Aku tak punya sesuatu untuk dilakukan."


Kurasa dia semacam menjadikanku sebagai pengisi kekosongan dalam akhir pekan ini. Julienya itu mungkin masih belum terlupakan. Baiklah karena dia sudah terlalu baik padaku apa yang bisa kau lakukan, Senior yang terlalu baik ini entah kenapa ada orang seperti dia. Aku menghela napas lagi.


Sebuah telepon dari nomor yang tak kukenal. Siapa ini. Aku mengangkatnya....


"Jadi rupanya kau benar anak Johnson Wright. Emma Wright. Kenapa tak memberitahu Paman Dench kau ada di LA."


Ini Dench, si pengkhianat teman sendiri itu. Dia masih berpikir aku tak tahu apa yang telah dilakukannya.

__ADS_1


bersambung besok...


Hari ini ngabsen doang


__ADS_2