
"Kau lama di LA?"
"Tidak hanya seminggu sebenarnya. Tiga hari lagi aku harus berada di Chicago. Untuk urusan bisnis bukan pekerjaan Thomas."
"Ohh begitu."
"Ada kesulitan?" Senior ini memang serius dengan pekerjaannya. Dia selalu berusaha membantu dengan baik orang yang berada di bawahnya.
"Tidak, selain aku takut pekerjaanku terungkap sekarang. Tapi seperti katamu aku juga tak bisa mengacuhkannya sebenarnya, jika seperti katamu mereka membutuhkan aku bekerja sama nanti. Tapi apa aku tak akan di curigai double agent karena ini."
"Thomas akan memikirkan caranya, lagipula DEA dan FBI adalah institusi yang berbeda." Harusnya memang begitu. Thomas tak akan mau kehilangan agent berharga sepertiku. "Robert itu dia tidak menggangumu bukan?"
"Tidak, nampaknya dia masih menganggapku berharga. Sampai sekarang dia hanya pernah memintaku sekali naik ke apartmentnya. Aku yakin bisa menolaknya. Lagipula aku bisa minta bantuan temanku Antonio sebagai pacar bohongan, agar dia tidak menggangu."
"Pacar bohongan? Temanmu itu nampaknya baik sekali."
__ADS_1
"Tentu saja, aku sudah memberikan keuntungan yang banyak untuknya."
"Keuntungan macam apa?" Sial aku kelepasan bicara. Sesaat aku membeku mencari jawaban yang pas.
"Ehmm tidak .. Dia hanya teman lama yang bisa diandalkan. Teman lama saat masih masuk pelatihan agen aku banyak membantunya." Kuharap jawaban itu memuaskan Colin, tapi aku bahkan tahu jawaban itu sama sekali tidak memuaskan.
"Kau membicarakan keuntungan tadi, jadi jangan berbohong."
"Tidak ada, hanya dulu aku sering membantunya." Kuharap dia menyudahinya. Aku harus segera mencari pembicaraan lain. "Kau tinggal dimana di LA?"
"Kau bahkan berusaha mengalihkan pembicaraan?" Dia menatapku sambil mengemudi. Sial kenapa aku bisa mati langkah begini.
"Kau bukan orang yang memakai cara itu, otakmu terlalu pintar untuk itu. Caramu mengatakan kau memberinya keuntungan itu jelas soal uang. Begini saja akan kulaporkan kau ke Thomas jika kau tidak mengaku. Biar dia yang menginterogasimu sendiri. Kau tak berani bicara karena ada hubungannya dengan Herron bukan. Kau bahkan tak berani bicara denganku."
Aku benar-benar dipojokkan sekarang.
"Colin. Tidak..."
__ADS_1
"Bicaralah, atau aku akan bicara ke Thomas."
"Tidak ada apa-apa. Sudah kubilang kau salah sangka. Itu hanya karena kami berteman sudah lama dan aku selalu membantunya. Tak ada apapun kau jangan menduga macam-macam...." Aku berkeras tidak akan memberitahunya sekarang.
Dia diam sesaat. Tapi berikutnya aku mendengar ancaman yang lebih mengerikan.
"Jika begitu akan kupastikan kau keluar dari apapun yang berhubungan dengan Herron. Bahkan perkembangan beritanya. Aku tak main-main dengan ancamanku."
"Kau bangs*at!" Aku mencercanya dengan kesal. "Sudah kubilang tak ada apapun, sia*lan!"
"Terima kasih." Dia malah tersenyum menang. "Kau sudah selesai, Thomas sudah mengancammu kau tak bisa mengambil tindakan apapun tanpa persetujuannya. Kau yang pembangkang. Sudah kubilang padanya melibatkanmu dalam operasi ini akan terlalu rumit hasilnya."
"Aku memang tak melakukan apapun! Kau tidak..." Dia mengangkat tangannya dingin.
"Aku malas berdebat denganmu, diamlah." Dia langsung memotong perkataanku. "Akan kupastikan kau dikeluarkan dari kasus ini. Dan kali ini tidak ada kompromi lagi."
Senior satu ini tak bisa diajak kompromi. Sangat menyebalkan. Bagaimana dia bisa terlalu curiga seperti ini, padahal aku hanya menyebutkan satu kata 'keuntungan' tapi dia menggiringku ke mana-mana.
__ADS_1
Bagaimana jika dia benar‐benar serius dengan ancamannya itu. Dia bahkan mendiamkanku dan menolak bicara sampai sekarang.