Coretan Tangan Iseng.

Coretan Tangan Iseng.
Iseng.


__ADS_3

Hari senin, berbeda dengan hari yang lain, ini hari yang dibenci sebagian besar orang, khususnya para pekerja dan pelajar. Kenapa, karena hari senin menandakan waktu libur mereka telah habis dan harus memulai kembali aktivitas seperti biasa.


Dari kejauhan terlihat seorang anak perempuan dengan tinggi yang tak seberapa, dia tak mau dikatakan kecil, apalagi pendek. Jangan sekali-kali mengatakan kata haram itu di depannya, kalau tidak kalian akan mendapat hadiah berupa tonjokan atau sekedar tendangan salam sayang dari gadis itu.


Gadis bar-bar yang mengikat rambutnya di kedua sisi, itupun karena paksaan ratu di rumahnya, alias sang ibu yang lembut tetapi sedikit pemarah. "Huft, bosan," desah gadis itu sambil menendang-nendang udara kosong.


"Papa sibuk kerja! Mama, entah apa yang sekarang mama lakukan. Kalau tidak menelepon bibi-bibi yang dikatakan temannya, pasti mama sedang menonton siaran drama yang ujung-ujungnya gitu-gitu aja," keluhnya menggembungkan pipinya yang putih.


"Tak ada yang menemani aku!" kepala yang dihiasi helaian rambut berwarna hitam legam itupun menunduk dalam, kakinya yang menendang udara berhenti bergerak.


"Setiap hari selalu seperti itu, sungguh-sungguh membosankan!" gadis yang belum diketahui namanya itupun melompat turun dari kursi taman yang dia duduki sejak tadi.


Tak lama datanglah seorang bocah lelaki kecil seumuran dengan bocah perempuan itu. Umur mereka baru lima belas tahun, jadi masih bisa dikatakan bocah bukan. Iya aja deh, ya. Daripada cerita ini gak bisa disambung lagi, he-he. Kalau menurut kalian gak nyambung, ya ... tinggal disambung-sambungkan saja. Beres, kan.


"Kania!" teriak bocah itu dengan nyaring.


"Eh, Rere," pekik bocah perempuan yang ternyata bernama Kania tadi. Raut bosannya terganti dengan senyum cerah dan sedikit bersemangat, dia senang temannya datang.


"Ha-ah, ha-ah, gue tadi ke rumah lo. Hosh, hosh, tapi lu nya gak ada. Jadi gue yakin kalau lu ke sini, makanya gue nyusul," kata anak laki-laki yang dipanggil Rere tadi.


"Dan satu lagi, Kania. Nama gue Reza, R-E-Z-A! jadi panggil gue REZA, jangan panggil gue Rere tahu!" lanjut bocah itu, dia protes namanya disingkat dan dipanggil menjadi seperti nama anak perempuan.


"Yaelah, sama aja Re," imbuh Kania memutar bola matanya.


"Mana bisa begitu! Lu mau gue panggil Kankan atau Yaya, hah?" balas Reza, wajahnya bertekuk kesal.


"Cih, begitu aja terus. Marah-marah ntar cepat tua lo!" decih Kania membuang muka, dia kalah telak saat ini.


"Seperti dia tidak begitu saja?!" balas Reza ikut-ikutan membuang muka.


"Huft, bosen nih. Main, yuk," ajak Kania setelah beberapa menit perang diam dengan Reza.


Bocah laki-laki yang merasa diajak bicara itupun menengok temannya. "Ngomong sama gue, lu?" tanyanya dengan tampang bodoh sambil menunjuk dirinya sendiri.

__ADS_1


"Gak, gue lagi ngomong sama jin di belakang LO?!" ketus Kania jutek, harus ya pakai nanya segala.


"Ohh, lanjut deh," balas Reza sambil mengangguk-angguk masih setia dengan tampang blo'on nya.


"Astaga, Re! Ya, gue lagi ngomong sama lu lah. Mau sama siapa lagi memangnya, hah?" timpal Kania gregetan, emosi bocah itu naik satu tingkat lebih tinggi.


"Gitu aja harus dijelaskan, harus nanya-nanya! Kepala bukan cuma pajangan doang, kan?" Kania melirik tajam Reza yang terlihat acuh.


"Salah sendiri, nanya gak manggil gue dulu. Mana gue tahu lu lagi ngoceh sama gue!" kata Reza membela diri.


"Huft ..., ya udah. Rere yang baik, yang manis, dan sahabat gue satu-satunya! Kita main, yuk. Kania bosen, nih." Kania memasang senyum setengah hati, menatap Reza yang balas menatap dirinya juga. Kedua bocah itu saling tatap-menatap lah saat ini singkatnya.


"Kankan yang barbar, gak bisa dibilangin, ditambah keras kepala! Memangnya lu mau main apa?" Reza rupanya membalas sindiran Kania.


"Huft, bisa gak lu gak usah manggil gue Kankan?" keluh Kania.


"Huh, boleh. Asal lu juga berhenti panggil gue RERE!" dengus Reza menekankan nada suaranya saat dia menyebutkan namanya sendiri.


"Owh, kalau untuk yang satu itu gue minta maaf duluan. Gue gak bisa janji, soalnya gue suka khilaf!" kilah Kania beralasan.


Kania menekuk wajahnya mendengar ucapan Reza, dia tak menahan dengusan kesalnya sama sekali. "Ha-ha-ha-ha-ha, jangan cemberut. Lo jadi makin jelek tahu," ucap Reza mengejek Kania yang masih betah cemberut.


"Terus aja ketawa sampai kiamat!" ketus Kania kesal.


"Ha-ha, mana gue mau! Ha-ha, ketawa sampai kiamat. Bisa-bisa gue mati duluan sebelum kiamat datang!" Reza menimpali di sela tawanya yang tak dapat dia tahan.


"Mati aja sana lo!" dan Reza kembali tergelak hingga air matanya keluar.


"Gitu aja pakai acara ngambek, sih." Reza yang berniat mencolek dagu sahabatnya itu, tapi sayangnya tangan Kania dengan cepat menepis tangan Reza yang baru terulur.


Reza mengibas-ngibas tangannya sambil memasang raut sok kesakitan. "Sakit tahu, Kan," keluhnya dengan nada teraniaya.


"Jangan lebay! Cowok kok lebay, sih?" ketus Kania sambil memutar bola matanya malas.

__ADS_1


"Seriusan sakit, Kan. Tuh merah tuh, tuh!" imbuh Reza menyodor-nyodorkan tangannya kepada Kania.


Kania melirik singkat, kemudian mendengus sambil membuang muka. "Lu nya aja yang terlalu putih, makanya pas gue tepis dikit langsung merah-merah gitu," cibir bocah perempuan itu kesal. Untuk warna kulit, Reza memang lebih putih daripada Kania. Reza seperti orang yang tak pernah terkena sinar matahari, sedangkan Kania seakan selalu berjemur di teriknya matahari yang panas. Kania tak hitam-hitam amat sih, dia hanya kurang putih dalam bahasa halusnya orang sekarang.


"Ya udah, berhubung gue baik. Skuy, kita main. Mau main apaan?" kata Reza akhirnya mengalah.


"Pencet bel rumah orang terus kita lari sebelum pintunya dibuka?" seru Kania penuh semangat.


"Tet, tet, ditolak!" Reza menggeleng tak setuju.


"Ngejar kucing yang lagi mojok, atau ngagetin si kucing pas lagi tidur?" Kania memberi usul permainan lain yang menurutnya seru.


"Astaga, gak ada permainan yang manusiawi dan gak ganggu plus iseng apa?!" desah Reza tak paham.


"Kejar-kejaran?"


"Berantem?"


"Manjat pohon buah?"


"Main air? Berenang?"


"Trus apa? Lu dari tadi cuma bisa geleng-geleng, ya?!" ketus Kania kesal.


"Yah, gimana gue gak nolak semua ide lu, lu isengnya kebangetan?! Gue gak mau kejar-kejaran pas panas gini, gue juga gak doyan berantem karena gue cinta damai. Manjat pohon? Lu jatuh, gue yang diomelin sama nyokap lo! Berenang? Gak usah makasih, gue gak renang disembarang tempat!" jelas Reza panjang dan lebar.


Kania melongo menatap Reza. "Kalau gue iseng, lah terus lu apaan? Ocehan lu barusan aja lebih iseng menurut gue!" dengus Kania membuang muka.


"Kalau gitu mari kita main yang gak bakalan merugikan orang lain, membuang tenaga, dan gak bikin capek." Kania kembali menatap Reza dengan penasaran.


"Dan, kita main apa?" imbuhnya cepat.


"Main tebak-tebakan!" jawab Reza disertai senyum lebar.

__ADS_1


"Ogah, ntar lu malah nyuruh gue nebak kapan kiamat, atau kapan lu tinggi dan kaya. Mending gue balik terus tidur, bye?!" Kania meninggalkan Reza sendirian.


"Lah, dikira gue seingeng itu apa? Masa, sih gue iseng?" dan Reza berjalan pulang ke rumah sambil bertanya-tanya, apakah dirinya iseng atau tidak.


__ADS_2