Coretan Tangan Iseng.

Coretan Tangan Iseng.
MiLiDiPi?


__ADS_3

Cerita kali ini berkisah tentang empat gadis yang menjadi sahabat karib. Persahabatan mereka tak terpatahkan, kesetiakawanan dan kekompakan menjadikan mereka semakin akrab lebih dari pada saudara kandung. Tak ada adu mulut yang berarti, hanya sesekali saling mengeluh tapi tak serius, semacam bercanda bareng saat berkumpul.


Mari gue perkenalkan dengan keempat gadis itu.


Yang pertama itu si pintar Mia, dia seorang dokter sukses di usia mudanya. Manis, cantik, dan ramah. Mia juga disukai banyak orang karena selain baik hati, dia juga seorang yang penyabar serta jauh dari kata bar-bar. Namun, aslinya. Ha-ha-ha, Mia ini gadis yang sangat suka mengumpat saat kelelahan dan itu dia lakukan hanya di depan kawan-kawannya saja.


Yang kedua itu si Lisa, sejak kecil dia bercita-cita menjadi polwan dan alhamdulilah dia berhasil mewujudkannya. Anaknya tegas, salah, ya salah. Benar, ya benar. Hitam gak akan pernah berubah jadi putih di depannya. Anaknya juga ramah, tapi seperti ada dinding yang memberi jarak agar tak ada yang terlalu dekat dan sok kenal dengannya. Nyatanya, Lisa itu sebenarnya cuma gadis cengengesan yang tukang ngeluh kalau sudah ngumpul. Setiap waktu ada yang dikeluhkannya.


Ketiga si imut, Dina. Si pintar yang menjadi dosen muda di salah satu universitas terkemuka. Perawakannya yang kecil dan mungil sering membuat dia dikira anak kuliahan daripada seorang dosen. Si pintar ini pun kalau di depan teman-temannya berubah menjadi orang yang selalu mengeluhkan tentang anak-anak yang ikut mata kuliahnya. Meng-cape katanya, belum lagi dia sering digodain. Rasanya pengen digebukin tuh orang.


Yang terakhir adalah si Piya, gadis yang satu ini tukang tebar pesona. Senyum sana-sini dan hobi mengedipkan matanya kalau melihat makhluk tuhan yang tampan. Apalagi kalau tampannya tak tertolong, pasti bakalan langsung diajak jalan atau sekedar foto bareng. Aslinya, Piya gak pernah sekalipun berpacaran. Dia percaya kalau langsung nikah lebih baik dari pada pacaran lama dan putus di tengah jalan. Sikap Piya yang dia pamerkan di muka umum berbanding terbalik dengan apa yang ada di depan kawan-kawannya. Dia suka pameran foto-foto yang baru saja dia ambil bersama para cogan yang jadi korban flirting dirinya.


Keempatnya merupakan anak baik dengan ciri mereka masing-masing. Akhir pekan menjadi waktu berkumpul bagi mereka semua dan menjadi ajang untuk melepas semua keluhan atau pun hanya cerita-cerita singkat yang sama sekali tak ada artinya. Seperti saat ini, keempat dara manis itu sibuk saling berceloteh secara bergantian sambil sesekali mengunyah cemilan yang mereka bawa masing-masing. Tak jarang mereka bertukar makanan yang mereka bawa.


"Yo, gimana kabar kalian seminggu ini? tanya Piya memulai.


"Meng-cape lah kerjaan gue," keluh Mia.


"Pasien yang datang semua pada ngeluh, belum lagi mata mereka pada jelalatan kemana-mana. Rasanya pengen gue tonjok, untuk gue sadar diri dan mereka berstatus sebagai pasien gue, huh!" tutup Mia mengakhiri keluhannya.


"Lu gimana Di?" tanya si Mia sambil melirik Dina.

__ADS_1


"Gak beda jauh sama lo. Bedanya yang jadi biang masalah gue itu para mahasiswa yang suka goda-godain gue, terus mereka juga seneng banget bersiul seperti burung, mungkin tenggorokan mereka sama tenggorokan burung sama, soalnya bunyinya asli kayak burung yang lagi lomba cuit-cuit siul gitu," balas Dina, helaan napas lelah terdengar dari bibir gadis itu.


"Gak ada apa-apanya sama yang gue alami. Sumpah gue kesel banget, masa ada pengendara motor yang nekat ditilang cuma biar dia bisa gombal gembel gak jelas. Terus minta nomor telepon gue, idih meng-kesel deh?!" sela Lisa dengan wajah bertekuk masam.


"Terus lu kasih?" tanya Piya melirik kawannya itu.


Lisa mengangguk sembari menyunggingkan senyum jail. "Oh, jelas gue kasih. Gue kasih nomor komandan gue yang paling sadis. Bwa-ha-ha-ha, panas, panas tuh kupingnya. Gue bodo amat lah?!" ucap Lisa disertai tawa sadis, tampaknya dia sangat bahagia sudah berhasil memberi balasan pada orang yang diceritakannya barusan. RIP untuk si pengendara yang malang itu.


"Lu gimana Pi?" tanya Mia mewakili kedua temannya yang lain.


"Koleksi lu nambah apa gak?" tambah Dina ingin tahu.


"Gue tebak pasti nambah dan lumayan banyak jumlahnya!" sambung Lisa dengan senyum penuh keyakinan.


"Gue kadang kasihan sama para korban lu, mereka pada lu PHP-in!" ucap Lisa sambil menggelengkan kepalanya.


"Eit, gak ada yang namanya korban di sini, ya. Mereka setuju dan gue gak ada maksa sama sekali. Gue minta izin dan mereka mengiyakan, terus kita foto bareng. Cekrek, cekrek, cekrek, terus bilang makasih dan selesai."


"Tetep aja mereka pada berharap sama lu," imbuh Dina.


"Gue gak ngasih harapan, ngasih nomor telepon aja gak."

__ADS_1


"Oke, stop bahas itu. Gue lagi bosen dan butuh kerjaan nih," potong Mia cukup serius.


"Lu kekurangan kerjaan, Mi? Di rumah gue banyak tuh numpuk!" balas Piya sambil terkekeh kecil.


"Di rumah gue juga," sambung Lisa nyaring.


"Rumah gue sama aja, banyak numpuk baju, piring, terus lu juga bisa ngepel dan bersih-bersihin kaca jendela!" Dina mengakhiri ucapan dengan senyum sok manis tanpa dosa.


Mia menoyor kepala ketiga teman lucknut-nya itu. "Di rumah gue kalau cuma yang begitu juga banyak, Maimunah?!" ketus Mia kesal.


"Maksud gue kita kerja sama di akhir pekan biar gak boring begini. Kalian gak takut melar kalau ngumpul-ngumpul sambil ngunyah tanpa henti kek begini?" lanjut gadis itu.


"Gendut itu relatif, gue masa bodoh sama angka ditimbangan. Semakin gue pikirin, gue sendiri yang bakalan makin stress tahu!" balas Dina, Lisa mengangguk setuju dengan ucapan kawannya itu.


"Gak ngaruh apa yang gue makan, berat gue tetep aja tanpa perubahan. Jadi gue gak pernah mikirin soal berat lagi!" ucap Piya santai.


"Trus lu mau buat kegiatan apaan buat ngisi waktu luang, biar lebih bermanfaat, ya kan?" lanjut Piya melirik Mia.


"Hmm, Gak banyak sih yang gue pikirin bisa kita buat. Paling kita buat acara lelang amal, lelang barang-barang kita yang udah gak kepakai, terus hasil lelang disumbangkan ke panti atau apalah-apalah gitu."


"Itu cuma untuk jangka pendek Mi. Kalau lu masih bosan, lu bakalan ngapain?" tanya Dina ikutan serius.

__ADS_1


"Gimana kalau kita buat tempat praktek kecil-kecilan, buat pasien yang gak mampu kita kasih gratis, tapi kalau pasien-nya orang berada kita kasih tagihan yang banyak, he-he," usul Lisa asal tanpa pikir dulu.


"Gue setuju!" kata ketiga kawannya serempak. Ternyata ide yang tanpa pikir panjang pun bisa jadi solusi yang diinginkan.


__ADS_2