
Hai-hai, halo, halo, selamat pagi, siang, sore, dan malam buat kalian semua. Masih inget dong sama aku yang cantik tapi gak cantik-cantik amat. Masih dong, ya kan, ya dong, hmm, hmm.
Aha, kalau lupa biarkan aku merangsang memori anda kembali. Di bab kemarin aku udah menceritakan soal keluarga aku, loh. Ada Nurhasanah ibu aku. Ada Rudiat, suami tampan sekaligus jelek aku. Ada Nasmi, adik bawel aku. Ada Ardi dan Arti, keduanya anak aku. Dan aku sendiri, tentunya si ceria Lea. Bagaimana, sudah ingat kan sekarang, hmm, hmm?"
Untuk kali ini aku bakalan nyeritain soal nyinyirnya ibu aku, maklum kan kalau ibu-ibu nyinyir. Untung aja aku bukan ibu-ibu, aku cuma sebatas wanita dengan status beranak dua. Apa bedanya, beda nama lah kalau kalian gak paham.
__ADS_1
Ngomong-ngomong, akhir-akhir ini aku sering merasakan sakit kepala yang super-duper nyebelin. Gimana gak, kalau kedua anak aku lagi sibuk ngurus pelajaran mereka. Yang satu lagi masa-masa aktif-aktifnya, yang satu lagi lagi masa serius-seriusnya. Arti lagi sibuk mencoret tembok rumah, semua tembok yang tadinya putih polos, kini sudah penuh dengan gambaran abstrak atau lingkaran indah yang WOW sekali.
Di lain sisi, Ardi malah lagi serius belajar menghitung perkalian, pembagian, penambahan, dan pengurangan. Pelajaran yang paling-paling menjengkelkan yang kalau bisa dihilangkan saja. Kalau kalian sependapat, artinya kita satu server kawan.
Suamiku yang baik hati lagi tak sombong, tak banyak bicara dan hanya diam saja melihat anaknya mencoret beranekaragam gambaran di tembok rumah. Di sana ada susunan angka yang tak berurutan, di sebelahnya ada alfabet tak lengkap dan berhambur antara huruf besar dan kecil, di sisi lainnya terdapat gambaran pemandangan yang khas anak TK sekali. Pasti tahu yang gimana itu kalau punya adik atau anak kecil di rumah.
__ADS_1
Bukannya gak mau mengecat ulang, tapi apa gunanya kalau bakalan dicoret-coret lagi. Mending uangnya dibelikan yang lebih berguna, misalnya beras atau gas gitu kan. Lalu bocah aku udah berhenti coret-coret, baru deh temboknya diganti warna baru.
Masalah tetangga itu tak perlu dipusingkan, aku kan hidup dengan keluargaku, bukan tetanggaku. Terserah mereka mau ngomongin apa, yang penting aku masih napas, ya aku gak terlalu peduli. Aku merasa aku sudah cukup ramah dan tak pernah mengganggu mereka.
Jujur, aku bukan tetangga yang suka bersosialisasi. Aku ibu rumah tangga yang bener-bener ngurusin rumah aja kerjaannya. Bahkan nama tetangga sebelah aku aja aku gak tahu, udah untung aku masih tahu rumah Pak RT di mana. Kalau gak, aku pasti bakalan jadi warga ilegal di sini.
__ADS_1
Hmm, sekian dulu, ya dari saya. Jangan lupakan Lea, si cantik dan ceria ini. Kapan-kapan aku bakalan mampir lagi untuk menyapa kalian kalau ada waktu. Sekarang aku lagi mau sibuk-sibuk ngurusin rumah, mau balik-balik tanah, mau benerin genteng, mau nyuci dan jemur, sekalian mau dengerin dangdutan versi India ala emak-emak zaman now gitu loh.