Coretan Tangan Iseng.

Coretan Tangan Iseng.
Harus Apa.


__ADS_3

Hai, aku orang biasa yang menjalani hidup dengan sangat biasa. Aku juga tak berharap apa pun asal bisa melewati satu hari tanpa masalah. Nyatanya, entah bagaimana aku malah terkirim ke tempat yang tak kutahu setelah aku jatuh pingsan karena menolong seorang anak yang hampir tertabrak. Bahkan yang lebih aneh, ini bukan wajah yang kukenal. Apa aku merasuki tubuh orang lain, menjelajah dimensi lain, atau aku bereinkarnasi seperti cerita-cerita novel yang sering kubaca di kehidupanku yang lalu.


Aku tak memiliki ingatan tentang diriku yang sekarang, aku malah masih mengingat tentang kehidupanku sebelumnya. Aku pun bertanya pada gadis kecil yang selalu berada di sisiku, dia menceritakan apa pun yang aku tanyakan. Rupanya aku anak perempuan satu-satunya di kediaman ini, namaku Catherine Davonte, aku biasa dipanggil Catty. Ayahku yang notaben orang lumayan berada pun sangat-sangat memanjakanku, apa saja yang kuinginkan selalu dituruti. Aku yang tak pernah merasakan arti keluarga dikarenakan di kehidupan sebelumnya aku yatim-piatu, maka aku merasa ini adalah berkah. Aku pun membeli apa saja yang ingin kubeli, memakan semua makanan manis yang belum pernah kunikmati, berbagi pada para pelayan yang berada di sekelilingku, intinya aku menikmati hidupku dengan sangat baik.


Naasnya, aku menutup usia tepat saat berumur empat belas tahun. Aku kelebihan berat dan mengidap gula darah, alasan yang aneh untuk meninggalkan dunia yang seperti mimpi ini. Belum sempat menyesal dan meratapi nasib di alam kubur, aku malah membuka mata dan kembali menjadi gadis kecil berumur dua belas tahun. Apa-apaan ini, apa ini permainan dalam game. Kalau iya, berapa kali aku harus mengulang kehidupan.


Di kehidupan yang kedua kalinya sebagai Catty, aku menghindari makanan yang manis dan berkalori tinggi. Namun, aku masih saja meninggal di usia muda dan kali ini karena kekurangan gizi katanya.


Di kehidupan ketiga, aku bisa bertahan hingga usia tujuh belas tahun. Pas satu hari setelah ulang tahunku, aku diculik oleh psikopat gila dan dibunuh tubuhku dipotong-potong. Setelahnya aku kembali hidup lagi dan lagi. Astaga aku tak tahu apa yang terjadi, mengapa ini terus berulang. Bahkan untuk memikirkan aku akan menjalani hari seperti apa saat ini pun aku terlalu malas.

__ADS_1


Kehidupanku yang terus berulang dan berbagai kematian yang kujalani, bahkan di kehidupan keempat ini, aku dituduh berkhianat dan ditembak mati. Dilanjutkan dengan kehidupan kelima, aku mati membeku karena terjatuh di salju yang rapuh.


Sial, apa aku tak bisa menghindari bendera kematianku. Bosan berbuat apa-apa, aku hanya mengurung diri di kamar di kehidupanku yang ke seratus. Semua jenis kematian sudah kualami. Dibunuh, ditembak mati, penyakit, terjatuh, terpeleset, aku bahkan sudah tak bisa menghitungnya. Daripada berjuang dan tetap juga mati pada masa yang ditentukan, aku lebih memilih mengurung diri di rumah kaca. Memakan semua yang bisa kumakan, berolahraga di sela waktu, membaca buku di perpustakaan mini yang ada di rumah kaca. Berjalan-jalan di taman kecil yang kubuat di dalam rumah kaca, dan berbelanja dengan memanggil pedagangnya langsung. Aku hanya berharap kehidupan kali ini akan kujalani lebih lama, kalau perlu sampai aku melepas status jomblo dari lahir. Seratus kehidupan sebagai Catty, selalu berakhir singkat tanpa pernah berhubungan romansa.


Aku cukup senang di kehidupan kali ini aku bisa melewati usia dua puluh. Ayahku pun sering mengajak untuk menikmati dunia luar, pesiar atau sekedar berkeliling bersama. Untuk kali ini aku tak bisa menolak, kata ayah, ini termasuk hadiah ulang tahunku yang ke dua puluh. Kami menghabiskan waktu dengan berkencan berdua, ayah membawaku ke teater untuk menonton pertunjukan. Kami juga mampir ke festival jalanan yang bertepatan dibuka hari ini.


Sedang asyik berkeliling, aku mendengar keributan kecil. Didorong oleh rasa penasaran yang tinggi, aku mengajak ayah untuk menghampiri dan melihat apa yang terjadi. Seorang pemuda yang terlihat rapuh terduduk di lantai, di depan pemuda itu ada pria paruh baya dengan perut tambun yang membuncit sedang marah-marah. Tangan pria itu menunjuk-nunjuk pemuda yang tertunduk dan membisu tanpa melawan.


Anehnya, aku yang biasanya masa bodoh dan tak mau ikut campur pun, akhirnya maju dan bertanya apa sebenarnya yang terjadi. Kesalahan apa yang sudah dilakukan oleh pemuda itu dan mengapa pria di depannya ini terlihat sangat-sangat gusar. Ayah yang melihat aku tertarik akan sesuatu pun ikut campur tangan, dengan menggunakan nama keluarga kami, pemuda tadi pun dimaafkan dengan begitu mudahnya.

__ADS_1


Sebagai bentuk terima kasih, pemuda tadi menawarkan dirinya bekerja untuk kami sebagai imbalan. Dia hanya memiliki tenaga, begitulah apa yang dia akui. Ayah menempatkan Gelendra sebagai tukang kebun, Gelendra menolak gaji yang ayah siapkan untuknya. Namun, bukan Davonte namanya kalau mempekerjakan seseorang tanpa dibayar.


Seiring berjalannya waktu, aku pun sudah berani bermain sebentar di taman. Ayahku tersenyum dengan lebar seharian itu, ketika dia tahu kalau aku menghabiskan beberapa waktu menikmati indahnya taman di halaman rumah kami.


Dengan segala pertimbangan, ayahku menyelenggarakan pesta kecil-kecilan, semacam syukuran lah ceritanya. Rumah sederhana kami pun disulap dan didekor sedemikian rupanya. Aku mengajak Gelendra untuk menemaniku selama pesta, aku tak mengenal satu pun tamu yang diundang oleh ayahku. Maklumlah, aku terlalu lama mengurung diri dan menjauh dari kehidupan sosial.


Di dampingi ayahku dan Gelendra, aku pun setia memasang senyum manis nan ramah. Entah kesialan dari mana, mungkinkah ini akhirku, semua terulang lagi dan aku selalu menjadi pihak yang mati dengan alasan konyol untuk kesekian kalinya. Seorang pelayan pria yang ternyata kukira sangat baik, ternyata malah orang yang paling gila. Dia mencampurkan minumanku dengan racun yang cukup kuat untuk membunuh dalam satu napas. Gila, aku kembali mati. Untuk kali ini aku memohon dengan sangat agar semua tak terulang dari awal lagi, biarkan aku tenang dalan kematian yang konyol ini. Aku terlalu bosan dan muak mengulang lagi dan lagi, dan selalu saja berakhir dengan satu jalan, kematian.


Jika aku kembali hidup kembali, aku bersumpah akan menembak kepalaku sendiri detik itu juga. Itulah satu hal yang tersirat dalam otakku sebelum aku benar-benar meninggalkan dunia ini. Mari kita lihat apa dewa masih ingin mempermainkan kehidupanku lagi atau aku yang harus mengendalikan semuanya.

__ADS_1


__ADS_2