Coretan Tangan Iseng.

Coretan Tangan Iseng.
Alat.


__ADS_3

Aku, seorang anak yang tak memiliki tempat bersandar, tak ada seorang pun yang akan menangisi diriku meskipun aku tiba-tiba mati. Umurku sekarang empat belas tahun, selama hidupku, aku sering kali mencuri makanan untuk bertahan hidup. Ahh, aku lupa bilang kalau aku bukan yatim-piatu. Aku hanya seorang anak perempuan yang tak diharapkan kehadirannya oleh ayahku yang teramat kaya dan bermartabat. Menjadi kaya membuatnya bisa melakukan apa saja meski itu dalam bentuk kejahatan, termasuk menodai wanita yang menjadi pelayan di rumahnya. Bermartabat, jangan buat aku muntah dengan kata itu. Jika dia memiliki sedikit saja martabat dalam dirinya, dia tak akan tega memaksa ibuku yang tak berdaya. Begitu aku terlahir, itu menjadi kesalahanku dan ibuku. Padahal selangkangannya yang gatal minta dirajam.


Aku selalu hidup bersembunyi, hanya ibu yang bersikap hangat padaku. Sayangnya beliau tak berumur panjang, beliau meninggalkan aku sendirian di tengah keluarga gila martabat. Apa nasibku akan seperti ibuku, jangan bercanda aku menolak semua itu. Aku akan keluar dan kabur dari lingkaran setan ini dan hidup sendirian. Kalau aku memiliki kekuatan akan kuhancurkan keluarga busuk ini.


Bertahun berlalu, kehidupan damai yang kurasakan harus sirna. Aku ditemukan, satu kata itu pun sudah membuatku mampu mati karena ketakutan. Apa yang bisa dilakukan seorang anak kecil yang tak memiliki kekuatan, apa aku akan berakhir hanya seperti ini. Tak ingin menyerah pada nasib buruk yang mungkin kujalani, aku pun mengangkat tongkat kayu yang berada di dekatku. Kuarahkan tongkat tadi ke orang yang ada di depanku, meski tanganku gemetar. Namun, aku memegang tongkat itu seperti harapan yang menentukan kelangsungan hidupku.


Aku mengernyit bingung saat orang di depanku terkekeh kecil, aku memiringkan kepalaku tak mengerti, tetapi masih tetap waspada. "Ekspresi kamu sangat lucu," katanya dengan suara yang terdengar ramah.


Aku tetap menatapnya dengan tatapan tajam dan tak menurunkan kewaspadaanku, kulihat dia mengangkat tangannya seraya berdehem kecil. "Maaf kalau aku mengagetkan kamu," katanya lagi disertai senyum tipis.


"Aku tak bermaksud seperti itu, sungguh!" lanjutnya, matanya terlihat sangat jujur saat berbicara denganku.


Aku menghela napas lega, sepertinya dia tak berniat jahat seperti yang lainnya. Biasanya ada dua jenis orang yang mendekatiku, jenis satunya adalah orang yang ingin mendapatkan keuntungan dariku, dan jenis lainnya lebih cenderung ke seseorang yang lemah dan mencari pelampiasan amarah. "Siapa namamu, kucing kecil?" tanyanya dengan nada santai.


Aku melotot tak percaya, aku tahu aku masih kecil, tapi haruskah aku dipanggil kucing kecil. "Saya bukan kucing kecil?!" ingin sekali aku berteriak, sayangnya aku masih tahu tempat dan statusku yang tak lebih tinggi dari seorang budak.


"Ahh, sepertinya aku salah bertanya. Haruskah aku mengenalkan diriku terlebih dahulu?" aku tak menanggapi, terserah dia mau berbuat apa asal tak mengganggu atau menyakiti diriku.

__ADS_1


"Izinkan aku mengenalkan diri, namaku Demian, hanya Demian untuk sekarang," katanya sambil menggaruk pipinya. Orang aneh, aku juga tak ingin tahu nama panjangnya, kok.


"Jadi, siapa namamu kawan? Aku sudah mengatakan namaku, loh," lanjutnya menatap diriku ingin tahu.


"Laras, nama saya Laras, tuan muda." aku menunduk hormat, dilihat sekilas saja sudah ketahuan kalau dia anak orang kaya, jadi aku harus menjaga kesopanan meski tak suka.


"Baiklah, kita berteman mulai sekarang, Laras. Panggil saja aku Demian, jangan tuan muda," katanya dengan nada ceria.


"Saya tak bisa," kataku cepat.


"Hmm, aku tak akan memaksa kalau begitu. Aku hanya harus menunggu, bukan?!" timpalnya sembari berlalu pergi setelah dia mengatakan selamat tinggal. Aku terpaku, menatap punggungnya yang semakin menjauh. Apa dia tak tahu siapa aku, atau ini trik baru untuk bermain-main. Membuatku luluh dan kemudian mengolok-olok diriku saat aku sudah tak waspada lagi.


Beberapa tahun berlalu, Demian harus kembali ke tempat ayahnya. Dia berpamitan dengan wajah menunduk dalam, aku tersenyum kecil dan mengatakan akan ikut dengannya dan menjadi perisai untuk melindungi dia, kawanku satu-satunya yang paling berharga.


Kami semakin dekat, tetapi aku selalu menekan keserakahan yang ingin meluap keluar dari diriku. Dia hanya temanku, aku tak boleh memiliki pikiran untuk mendapatkannya meskipun dia begitu baik padaku. Aku juga dekat dengannya agar dia bisa melewati jalan berbunga tanpa hambatan, dan aku tak meminta imbalan apa-apa.


"Laras, tahukah kamu? Ayahku, ayahku! Dia, dia akhirnya menatap bangga ke arahku!" kulihat Demian berlari dengan wajah sangat ceria ke arahku.

__ADS_1


Aku tersenyum kecil. "Bukankah itu yang selalu anda inginkan, tuan," timpalku tulus.


Dia berdecak pelan mendengar panggilanku padanya. "Ck, ini semua hanya karena aku satu-satunya anak yang tersisa di sini," balasnya bergumam pelan. Terdengar nada kesal dari suara Demian.


"Tapi harapan tuan menjadi kenyataan, berbahagialah dan nikmati semua!" kataku. Andai dia tahu kalau aku yang membersihkan semua batu penghalang di jalan yang akan dilewatinya, apa yang akan dia lakukan kira-kira. Apa dia akan berterimakasih, ataukah dia akan menjauhi diriku dan takut padaku.


"Kau benar. Harusnya aku tak terlalu memikirkan hal yang telah berlalu. Tapi ..., jika aku menjadi penerus, akankah kamu tetap berada di sisiku, Laras?"


"Tentu tuan, saya akan pastikan bahwa saya tak akan pernah meninggalkan atau mengkhianati anda di masa depan!"


Musim berlalu, hingga Demian berhasil menjadi penerus di keluarganya. Aku tersenyum kecil menatap kawanku yang mendapatkan apa yang sangat dia inginkan. Aku juga memenuhi janjiku untuk selalu berada di sisinya sampai kapanpun. Hingga suatu hari, kebenaran yang menutupi mataku akhirnya terbuka. Dia tak pernah menganggap diriku sebagai kawan, hanya aku satu-satunya yang tulus dalam hal itu. Dia melirikku hanya karena bakatku, dia mencurahkan kelembutan hanya untuk menjinakkanku dan menjadikan diriku alat yang bisa dia gunakan tanpa diminta.


Kata-kata manis yang dirangkai dan semua senyuman yang dia berikan adalah kepalsuan yang menjeratku, sayangnya aku terlambat menyadarinya. Aku menyadarinya saat pisau yang dia genggam menusuk tepat di jantungku, dia yang kuanggap kawan mengakhiri hidupku hanya karena fitnah tak berdasar yang dilontarkan beberapa orang.


Aku terkekeh kecil, menahan rasa sakit. Darah menetes di sudut bibirku, aku menatapnya dengan tatapan penuh pengertian. "Tak apa, tuan. Tak apa. Aku tak masalah walau tuan menginginkan nyawaku yang tak seberapa. Namun, mengapa tuan malah membuat skenario rumit seperti ini? Coba ada langsung memintanya saja, tuan. Maka akan kuberikan dengan suka rela." napasku tersengal, susah payah mengucapkan kata yang ingin kukatakan karena luka yang menganga di perutku.


Wajahnya tak bergeming, tak ada ekspresi yang berubah sedikitpun dari dirinya. Kata-kata tulusku tak dihargai, bahkan mungkin tak dianggap berarti sama sekali. "Mengenalmu membuatku merasakan kebebasan, meski itu palsu, tetapi aku tak akan menyesali setiap waktu yang kulewati denganmu."

__ADS_1


Aku tersenyum seraya menahan sakit yang kurasakan, aku tahu waktuku tak banyak lagi. "Selamat tinggal, Demian!" kuhembuskan napas terakhirku untuk menyebut namanya. Meski semua tipuan dari awal, aku ingin menganggap dia tulus menunggu diriku memanggil namanya meski hanya sekali.


Inilah kisahku, seorang anak haram yang menemui ajalnya dan dimanfaatkan oleh satu-satunya orang yang kuanggap kawan. Ternyata alasan aku lahir hanya untuk dijadikan alat hingga kematian menjemputku. Menyesal pun tak berguna, usiaku sudah tutup. Kuharap dirimu sedikit merasa bersalah meski itu tak mungkin terjadi. Semoga kamu mengingat aku, alat yang kamu gunakan untuk mencapai keberhasilan, kawanku.


__ADS_2