Coretan Tangan Iseng.

Coretan Tangan Iseng.
Karmaku 2.


__ADS_3

Hari ini hari gue keluar dari rumah sakit, gue gak pernah ketemu Karma sekali pun. Dia ga datang dan gak pernah lagi muncul di taman meski gue nunggu lama setiap gue nanya gak ada jawaban pasti yang gue dapat.


Begitu sampai di rumah, gue langsung minta surat yang katanya dari Karma. "Ma, surat teman Melodi mana? Melodi mau baca," ucap gue meminta dengan tak sabar.


"Mel, bacanya yang pelan, ya. Ingat itu pilihan temen kamu dan bukan kamu yang salah," balas nyokap gue. Jujur gue kurang paham apa maksud nyokap gue ngomong begitu. Namun, gue ngangguk saja.


"Melodi ke kamar dulu, ya ma." gue melangkah degan cepat ke kamar yang sudah lama gak gue lihat. Gue rindu ngeliat barang-barang yang gue susun di sini.


Saking kangennya, gue langsung baring di kasur gue yang empuk ini. Uhh, rasanya lebih nyaman daripada kasur rumah sakit. "Kira-kira apa yang ditulis Karma, ya?" kata gue sedikit menebak-nebak dengan rasa penasaran. Apa temen gue itu menyampaikan rasa bersalah atau henye ingin mengucapkan selamat.


Dengan tak sabar gue buka dan baca surat dari Karma tersebut. "Apa ini? Bercanda, kan?" kata gue menatap nanar surat di tangan gue itu. Air mata gue mengalir dengan sendirinya tanpa permisi.

__ADS_1


Gue segera berlari ke luar kamar dan menghampiri nyokap gue. "Ma, ini gak bener, kan? Dia cuma lagi iseng aja, kan ma?" gue menuntut jawaban dengan tak sabar.


"Mel ..., mama kan bilang baca suratnya pelan-pelan, sayang. Itu kenyataan dan mama hanya bisa berterimakasih pada sahabat kamu itu," jawaban dari nyokap gue udah jadi bukti kalau isi surat yang gue pegang ini benar. Namun, hati gue gak nerima itu.


"Tapi ..., kenapa harus begini, ma?" tangis sudah tak terbendung lagi, gue meraung sejadi-jadinya.


"Kenapa harus Karma yang jadi pendonor, ma. Padahal Melodi pengen liat dia saat Melodi udah bisa ngeliat lagi. Tapi, tapi, tapi apa ini, ma?" keluh gue selayaknya anak kecil.


"Keinginan Melodi cuma satu, dan itu pun gak bisa diwujudkan!" lanjut gue kesal.


Bokap gue mengangguk membenarkan. "Anak itu bilang kalau itu adalah keinginannya, meski dia udah gak ada di dunia ini, setidaknya dia masih bisa melihat melalui mata yang dia titipkan ke kamu, Mel."

__ADS_1


"Kenapa gak papa dan mama cegah," keluh gue lirih dan sedikit keras kepala.


"Kamu kira papa dan mama nerima gitu aja. Papa udah nanya sama dokter yang nanganin Karma dan memang gak ada peluang untuk sembuh. Akhir dari hidupnya hanya satu dan itu keinginan terakhir dari anak itu. Gak mungkin mama dan papa menolak, nak." jelas bokap gue.


"Karma juga berkata dia ingin membantu kamu untuk kembali melihat warna dan dia sudah yakin dengan apa yang dia putuskan," sambung nyokap gue.


"Jalani harimu dengan lebih baik, Mel. Jangan sia-siakan pemberian dari teman kamu dengan melakukan hal-hal aneh seperti sebelumnya. Papa gak minta kamu jadi anak paling baik dan penurut, tapi papa ingin kamu setidaknya tahu mana yang bisa kamu lakukan dan mana yang berbahaya buat diri kamu!" gue mengangguk. Hari itu gue habiskan dengan menangis seharian.


Gue berdiri di depan cermin dan menatap mata gue, warna mata berbeda dengan warna mata gue sebelumnya. "Jadi ..., begini cara kita saling bertemu sekarang, Karma. Terimakasih untuk semuanya, gue janji, gue bakalan jaga baik-baik mata yang lu kasih ke gue. Dan gue bakalan mencoba untuk menjalani hari yang bahagia seperti yang lu tulis di surat lu," ucap gue berbicara dengan udara.


Beberapa minggu kemudian, gue dan kedua ortu gue pergi ke makam Karma. Sesuai janji, gue gak nangis meraung lagi, hanya satu atau dua air mata yang jatuh tanpa permisi dan gak bisa gue cegah yang keluar dari mata gue. Gue mendo'akan sahabat terbaik gue dengan semua do'a terbaik yang gue tahu. Gue juga rutin ke sana kalau gak ada kesibukan, menyapa, berdo'a, dan berterimakasih pada Karma.

__ADS_1


Bertahun kemudian, Karma gue tetep gak pernah gue lupakan. Gue juga masih sendiri, walau banyak yang datang melamar. Gak ada yang sebaik Karma, itu yang gue pikirkan. Semua hanya memandang apa dan bagaimana gue sekarang. Gak ada yang tulus dan mau berbagi dengan gue ketika gue sedang dalam kesusahan. Nyokap dan bokap gue juga angkat tangan kalau masalah jodoh, mereka menyerahkan semua pada pilihan gue. Menurut mereka gue yang jalanin, jadi gue harus yakin kalau gue mau melangkah.


Sampai sekarang gue masih sendiri, bukan karena gue banyak mau. Namun, karena gue pengen dapet pasangan yang betul-betul baik dan mau mendengar keluh-kesah gue. Gue pengen dicintai dalam suka dan duka, gue gak butuh pasangan yang cuma ada buat seneng-seneng doang.


__ADS_2