
Seperti lingkaran, takdir hidup terus berputar. Nama aku Reza, aku anak tunggal dari keluarga yang lumayan berkecukupan. Aku punya seorang ibu yang sayang banget sama keluarga, aku juga punya ayah yang penuh tanggung jawab dan memenuhi semua kebutuhan keluarga. Aku hidup dan diajarkan untuk bertanggungjawab sejak dini. Hadiah dan hukuman juga kudapat sebagai balasan.
Aku juga gak punya cita-cita muluk yang tinggi-tinggi amat, gak punya hobi yang terlalu aku dalami juga. Namun, bukan berarti aku cuek dan hidup aku monoton, ya. Dari kecil aku sangat suka kalau diajak bermain bola. Tahu bola, kan. Pasti tahu lah, kalau gak tahu, aku juga gak mau jelasin. Kenapa, ya malas aja.
Bermodalkan bola buluk satu-satunya hadiah dari ibu dan ayah aku, kami berempat pun bermain bersama hingga sore hari. Gak pernah juga kami berangan menjadi pemain bola kalau sudah besar, kami hanya niat bermain dan menghabiskan waktu saja.
Begitu sore menjelang, aku langsung pulang ke rumah. Pastinya disambut dengan omelan penuh cinta dari sang ibu. Gimana gak ngomel, badan aku penuh lumpur, baju kotor pakai banget, trus banyak lecet sana-sini. Lengkap sekali bukan.
__ADS_1
Kalau dari ibu aku dapat omelan sayang, lain lagu dengan ayah yang mengacungkan dua jempol seolah bangga anaknya berani main kotor-kotoran. Saat ibu minta ayah untuk menegur aku, ayahku malah bilang kalau itu gak masalah. Kalau gak ada luka, bukan anak laki-laki namanya. Yang penting gak parah-parah amat lah jatuhnya tuh luka.
Itulah cerita masa kecil aku, sekarang itu semua cuma jadi kenangan. Aku harus serius menjalani hariku sebagai pelajar. Waktu bermain bolaku menjadi sangat-sangat berkurang, sukur-sukur seminggu sekali dan itu pun kalau gak ada PR dari guru.
Doni, Adi, dan Rizky pun sering mengeluh kalau semakin besar semakin susah untuk bermain. Aku hanya tersenyum dan menyabarkan ketiga kawan sepermainanku itu. Kalau aku itu orangnya terlalu malas mengeluh, aku tipe orang yang menjalani apa yang memang ditugaskan padaku. Ada pr, ya kukerjakan. Kalau gak ada, ya aku mengulang pelajaran. Tahulah guru sekarang, sangat suka mengadakan ulangan dadakan.
Suatu waktu ibuku bertanya padaku. "Gimana sekolah kamu, nak?" sebenarnya hampir tiap hari sih aku ditanya seperti itu, tapi kali ini ayahku juga hadir seakan ingin ikut mendengar jawaban dariku.
__ADS_1
"Ibu nanya yang serius, kamu ini jawabnya kok ngasal, sih Re," omel ibuku, tapi beliau tersenyum tipis.
"He-he-he, maaf bu. Reza cuma bercanda tadi. Semua aman terkendali, kok bu. Semua PR sudah Reza kerjakan, tugas-tugas praktek juga sudah kelar tinggal dikumpul saja. Gak ada masalah sama sekali!" kataku serius. Kalau aku keterusan bercanda, bisa-bisa rambutku botak karena ditarik ibuku. Makanya aku cuma bercanda sesekali saja dan harus lihat-lihat dulu situasi dan kondisinya. Pas gak buat bercanda.
"Sebentar lagi kamu ujian akhir, jangan terlalu keras belajarnya!" aku mengangguk mengiyakan perkataan ayahku. Beginilah beliau, ayahku tak pernah memaksakan segala sesuatunya.
"Benar kata ayahmu. Ibu gak minta anak ibu bisa mencapai nilai sempurna, ibu cuma berharap kamu lulus walau dengan nilai pas-pasan."
__ADS_1
Aku tertawa kecil karena ucapan ibuku. "Iya, bu. Reza sudah belajar dari lama, kok. Jadi paling Reza tinggal ngulang baca sedikit-sedikit nanti."
Aku beruntung dilahirkan dari kedua orang tua yang sangat pengertian seperti ayah dan ibuku. Aku tak berharap banyak, aku hanya ingin hidup dan membahagiakan kedua orang tuaku di masa depan. Tak perlu kaya atau uang melimpah, aku hanya butuh tawa bahagia keduanya. Semoga Tuhan mengabulkan sedikit permintaanku ini.