
Aku, anak bungsu yang tiba-tiba mendapatkan adik secara tak disangka-sangka. Dia, saudari perempuanku yang sangat lucu dan imut menurutku, Mia namanya. Gadis kecil yang diadopsi oleh ibuku karena kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan. Aku tak keberatan sama sekali, lagipula aku sudah duduk di bangku SMP dan hampir lulus sebentar lagi.
Umurku dan Mia terpaut lima tahun, dia yang sangat menggemaskan membuatku selalu memanjakan dirinya. Semakin besar, dia semakin manis dan lucu. Sikap malu-malu dan sedikit ceroboh membuatku harus ekstra memperhatikan dirinya.
Ngomong-ngomong, aku rupanya belum memperkenalkan diriku sendiri karena terlalu terpaku pada adik baruku nan lucu. Namaku Laila, semenjak Mia datang dan menjadi adik angkatku, semua yang bisa kuberikan akan kukasih padanya. Mia kubebaskan keluar-masuk kamarku, memakai pakaianku atau meminjam perhiasan-perhiasanku. Aku juga tak keberatan ibuku lebih mencurahkan kasih sayang dan perhatiannya pada Mia, aku berpikir kalau itu sudah sewajarnya, Mia masih kecil dan butuh banyak perhatian.
Suatu hari pamanku yang datang dari kota lain pun berkomentar dengan pedas, mengatakan kalau ibuku berubah menjadi orang bodoh. Menyayangi anak orang lain dengan sangat, tetapi anak sendiri malah tak diperhatikan. Aku yang mendengar hanya tertawa kecil, menurutku pamanku terlalu berlebihan saat itu.
Belum lagi bibiku malah mengatakan kalau aku akan menyesal kalau meneruskan ini dan menjadi kebiasaan yang sulit dihentikan, tetapi aku masih ingin percaya kalau semua akan baik-baik saja. Adikku yang imut tak akan menyakiti diriku, dia terlalu lembut untuk bisa berbuat jahat. Belum lagi, aku dengan tulus mencurahkan kasih sayang padanya tanpa meminta imbalan.
Tahun berlalu, aku sudah memasuki usia dewasa dan Mia tumbuh menjadi gadis rapuh yang sangat lemah lembut dan cukup manis. Tunangan yang dipilihkan oleh almarhum kakekku datang berkunjung, meminta kepastian tanggal pernikahan. Benar, aku dijodohkan tanpa pernah tahu bagaimana wajah calon pasanganku. Baru kali ini aku melihatnya secara langsung, dia tak terlalu tampan, tetapi aku tak peduli dengan penampilan atau latar belakang. Aku hanya ingin menjalankan wasiat terakhir kakek, beliau dan teman baik beliau yang membuat perjanjian perjodohan ini.
Tak butuh waktu lama, hanya dua bulan berselang setelah kedatangan Dion, kami pun melangsungkan upacara pernikahan dengan sederhana karena aku tak terlalu suka hal-hal yang mewah. Mia menangis, merengek agar bisa ikut denganku. Aku pun mengangguk mengiyakan tanpa berbicara dulu pada suamiku, benar kebiasaan rupanya sangat mengerikan.
Rumah lantai dua yang memang sudah lama kumiliki menjadi tempatku tinggal setelah aku menikah, Dion bersikap dingin dan aku tak mencoba berbicara padanya. Aku menganggap dia masih tak terbiasa dengan perubahan status yang tiba-tiba seperti sekarang.
Beberapa hari setelah pernikahan dadakan, aku malah ditugaskan untuk ke luar kota menemani bosku. Aku seorang sekretaris di sebuah perusahaan yang sedang menanjak naik, makanya aku juga sibuk. Saat aku pulang, rumah kudapati kosong. Mia tak ada, teleponku juga tak diangkat. Kalau Dion aku tak terlalu memikirkan dirinya, dia terlalu dingin dan cuek jadi aku tak mau memulai langkah pertama untuk mendekatinya.
Suara kunci yang berputar dan pintu yang terbuka dengan kasar mengagetkan diriku, aku sengaja bersembunyi di kamar Mia untuk mengejutkan adikku yang paling kurindukan. Bukan aku yang dikejutkan, tetapi malah aku yang terkejut. Adik yang paling kusayangi saat ini malah sedang melingkarkan tangannya dengan manja di leher seorang pria yang sangat-sangat kukenali, pria yang menjadi suamiku beberapa minggu yang lalu, Dion yang dingin berubah menjadi pria ganas yang terlihat sedikit menakutkan.
"Apakah kakak ipar sudah tak sabar? Mana yang terbaik, aku atau kakakku yang sangat baik hati itu, hmm?" aku dapat dengan jelas mendengar pertanyaan Mia, aku menutup mulutku kaget. Benarkah dia adikku yang lemah lembut dan selalu merengek manja padaku, apa tadi itu hanya ilusi dan pertanyaan tadi hanya kebohongan yang kudengar karena terlalu lelah. Aku bersyukur aku memilih bersembunyi di dalam lemari dan bisa mendengar semuanya, tetapi kenapa hatiku masih tak mempercayai apa yang kudengar dan kulihat saat ini.
"Heh, perempuan angkuh itu tak cocok denganku. Hanya kamu satu-satunya yang aku inginkan, sayangku," balasan yang kudengar sudah cukup untuk mengosongkan isi kepalaku, aku tak bisa berpikir dan tetap berdiri diam di balik pintu lemari.
"Lagipula aku tak berselera merasakan dirinya, siapa yang mau dengan perempuan bekas!" lanjut suamiku membuatku mengernyit, siapa yang bekas, apa maksudnya bekas, apa itu aku.
"Seharusnya aku tak menceritakan itu pada kakak ipar, tetapi aku tak mau kakak dibodohi," timpal Mia dengan wajah penuh sesal.
"Aku malah berterimakasih padamu, sayang. Kamu udah membuka mataku kalau apa yang kulihat belum tentu benar." kulihat Mia menyeringai sambil memeluk Dion, apa dia merangkai kebohongan makanya Dion selalu bersikap dingin dan acuh padaku. Selanjutnya adegan buruk itu berputar di depan mataku, suara erangan memuakkan dan ******* yang saling bersautan memenuhi telingaku. Ingin rasnya aku keluar dan melabrak mereka saat ini juga, tetapi aku tak suka asal bicara tanpa bukti. Akan kubuat kalian mempertanggungjawabkan apa yang kalian berdua perbuat di belakangku.
Saat keduanya sudah selesai dengan aktivitas laknat yang mereka lakukan di belakangku, keduanya bergegas ke kamar mandi bersama. Aku segera keluar dan mengambil kembali koperku, aku memilih menginap di hotel. Aku tak mungkin bisa menatap wajah mereka berdua. Anehnya aku tak menangis atau bersedih sedikitpun sama sekali, aku malah muak dan jijik dengan kelakuan keduanya. Di saat aku dengan setulus hati selalu bertanya-tanya apa ada yang salah dengan diriku, nyatanya aku malah dibutakan dan dibodohi layaknya keledai yang dungu. Ironis sekali bukan.
Dua hari menginap di hotel, aku pun memilih pulang ke rumah orang tuaku. Pengajuan perceraian sudah kuurus, bukti-bukti kelakuan bejat Mia dan Dion sudah kusiapkan. Sekarang saatnya aku mengatakan semua pada orang tuaku.
"Apa kabar kamu, sayang? Pasti capek kan habis kerja?" ibuku menyambutku dengan senyuman, tak lupa beliau memelukku meski hanya sesaat.
__ADS_1
"Kakak, Mia kangen," ucap Mia malu-malu. Aku menarik napas panjang menyabarkan hatiku sendiri, belum saatnya.
"Kenapa kamu nyuruh ibu ke sini juga, sih? Bikin repot orang tua aku aja?!" protes Dion membuka mulutnya.
Aku hanya tersenyum kecil lalu menatap ibu dan ayahku. "Ada yang ingin kusampaikan pada kalian semua dan ini sangat penting. Ayo kita ke dalam." aku berjalan lebih dulu dan menyiapkan diri untuk menguak topeng yang digunakan Mia. Ibu dan ayahku menatap aneh diriku, terlebih Mia yang biasanya tak pernah tak kuhiraukan.
"Ada apa, sih? Sepenting apa hal yang mau kamu sampaikan?" tanya Dion ketus.
"Apa kamu hamil, sayang?" tanya ibu Dion penuh harap.
"Wah, selamat ya kak. Mia gak sabar ketemu sama ponakan Mia, pasti lucu!" kata Mia penuh kegirangan.
"Omong kosong?!" bantah Dion tak sadar.
"Apa maksud kamu? Kenapa kehamilan istri kamu menjadi hal yang bisa dikatakan sebuah omong kosong, hah? Kalian kan udah lumayan lama nikah!"
Aku tersenyum kecil mendengar pertanyaan dan pernyataan dari ayah mertuaku. "Ayah salah bertanya seperti itu dan ibu juga salah bertanya padaku. Aku gak akan bisa hamil karena suamiku tak pernah menyentuh diriku," jelasku tak peduli dengan mata Mas Dion yang melotot ke arahku.
"Apa? Kamu anggap apa anak saya? Kenapa kamu berbuat hal jahat seperti itu, Dion? Apa kamu memiliki wanita yang kamu inginkan makanya kamu berbuat begitu, iya?" ayahku yang angkat bicara kali ini.
"Jangan diributkan lagi, aku tak apa, sungguh. Maka dari itu aku mengajukan perceraian agar suamiku bebas dan tak perlu berselingkuh di belakang aku!" suaraku yang tenang malah membuat seluruh orang yang hadir di pembicaraan ini malah diam karena terkejut.
"Siapa yang berselingkuh?" tanya ayahku marah.
"Kak, mungkin kakak hanya salah paham saja." aku menikmati wajah adikku yang berubah menjadi pucat pasi, ahh, apa dia masih bisa kusebut adik sekarang.
"Kenapa wajahmu begitu pucat adikku tersayang? Apa kamu merasa bersalah? Atau hati nuranimu merasakan rasa bersalah? Yah, jika kamu masih memiliki yang namanya hati nurani, sih!"
"Nak, jangan begini. Coba jelaskan agar kami semua mengerti," pinta ibuku menggenggam tanganku dengan lembut.
"Kami tak bisa menerima ini, tak ada anggota keluarga kami yang bercerai selama mereka menikah!" kata ayah mertuaku dengan wajah garangnya.
"Benar! Apa pun alasannya, perceraian tak dibenarkan dalam keluarga kami dan kamu tahu itu Laila?!" timpal ibu mertuaku.
"Diam dan biarkan anak saya menjelaskan semuanya. Masalah perceraian mungkin masih bisa dibicarakan," ucap ayahku bijak.
__ADS_1
"Ibu ... apa ibu akan tetap mempertahankan ayah, jika ayah berselingkuh dengan wanita lain? Dan wanita itu adalah orang yang paling ibu sayangi?" tanyaku tanpa rasa takut dan ragu.
"Jangan hanya mengatakan iya dengan yakin, bu. Jika ibu menjawab iya, maka saya akan mencarikan ayah seorang wanita agar ibu tahu bagaimana yang saya alami!" lanjutku seengah mengancam, mana mau aku benar-benar mencari wanita untuk ayah mertuaku.
"Astaga, astaga, mengapa menantuku satu-satunya sangat kurang ajar," keluh ibu mertuaku.
"Keputusanku sudah bulat, kuharap tak ada yang membujukku lagi!" ucapku tegas.
"Baik, mari kita bercerai?!" kata suamiku dengan lantang dan tatapan melotot.
"Tapi jangan harap kamu mendapatkan sepeserpun uang dariku!" lanjutnya megancam.
"Siapa yang peduli dengan uangmu." aku mengangkat bahu acuh.
"Satu-satunya yang kuinginkan darimu adalah tanda tangan kamu di surat perceraian kita?!" aku menatap tajam suamiku.
Kualihkan tatapanku kepada mia, perlahan aku mendekatinya. Begitu sampai di depan Mia, aku mengangkat tanganku dan mengelus lembut pipi adikku itu. "Selamat, kamu bisa memiliki sampahku, adikku yang cantik!" aku tersenyum hingga mataku menyipit.
"Kak ... apa mak, mak, maksud kakak?" tanyanya tergagap, keringat membanjiri dahinya yang putih. Rupanya Mia masih memiliki rasa takut.
"Jangan mengganggu Mia hanya karena rasa irimu?!" Dion menepis tanganku dengan cukup keras. Namun, aku tak peduli dan malah tersenyum remeh.
"Sampai jumpa di pengadilan, suamiku yang baik," ucapku seraya berbalik ingin menjauh dari Dion dan Mia.
"Ahh, ngomong-ngomong, aku belum menjelaskan semuanya, ya. Baiklah, aku memiliki hadiah untuk kalian berdua. Semoga kalian suka dan selamat menikmati!" aku benar-benar pergi setelahnya. Tak kupedulikan teriakan ibu mertuaku, sayang sekali aku tak bisa melihat wajah mereka saat menonton kebejatan anaknya.
Singkat cerita, aku resmi bercerai. Manjadi janda muda yang tak pernah disentuh oleh suaminya, tak seburuk yang dikatakan. Mama dan papaku juga tak lagi mengurus masalah pernikahanku, mereka membebaskan aku memilih pilihanku sendiri.
Ayah dan ibu Dion, berkali-kali datang dan meminta maaf. Keduanya berkata kalau Dion sudah diusir, mereka tak mau mengakui pria itu sebagai keluarga. Hanya membuat malu saja. Harta keluarga Dion malah dilimpahkan kepadaku selaku mantan istrinya, aku padahal tak mengharapkan apa-apa, tetapi aku malah mendapat semuanya.
Mia diusir dari rumah, meski dia meminta maaf dan bersujud. Ibuku tak bergeming, ibuku bahkan jatuh sakit karena merasa bersalah telah membawa Mia ke dalam keluarga kami. Aku mengatakan kalau itu bukan kesalahan ibuku, memang dasarnya saja si Mia tak memiliki rasa terima kasih dan malah menginginkan semua yang aku miliki.
Mia cemburu padaku karena aku anak sah dari papa dan mamaku, sedangkan dia hanya anak angkat. Kebaikanku malah jadi racun yang semakin menumpuk kebenciannya padaku, dia berkata aku tak benar-benar baik. Menurutnya aku hanya kasihan padanya dan memberikan barang-barang yang sudah tak kupakai lagi. Makanya dia ingin membuatku terluka dan terpuruk dengan megambil semua yang aku miliki, termasuk suamiku.
Dua orang bodoh itu malah tak tahu kalau aku sudah sejak lama memasang cctv, karena aku sering tak berada di rumah. Jadi demi keamanan aku memasang benda itu, siapa yang tahu kalau itu bisa digunakan untuk membuktikan kebusukan Mia, adik angkatku.
__ADS_1
Beberapa lama berlalu, Mia mendatangiku dan berlutut dengan tampang menyedihkan. Mengucapkan kata penyesalan dan permintaan maaf, dia berharap aku membantunya. Dion pun melakukan hal yang sama, dia menyesal telah percaya pada semua kebohongan Mia yang mengatakan kalau aku perempuan dengan pergaulan yang penuh kebebasan. Dia menyesal dan meminta memulai dari awal. Aku menolak dengan tegas, sampah yang tak memiliki rasa percaya pada istrinya dan adik yang sanggup menikam kakaknya, pasti keduanya akan menjadi pasangan yang terhebat. Aku meninggalkan mereka tanpa menoleh, tak peduli kalau keduanya saling berdebat dan melempar kata makian. Bahkan kalau mereka saling membunuh pun aku tak akan peduli.
Aku akan berjalan terus ke depan tanpa menoleh ke belakang, biarlah yang berlalu menjadi pengajaran dan pengalaman. Agar aku tak terperosok dalam kesalahan yang sama.