Coretan Tangan Iseng.

Coretan Tangan Iseng.
Karina Dan Kisah Tentangnya.


__ADS_3

Hai-hai, sebelum memulai cerita ini, izinkan aku mengenalkan diriku. Namaku Karina, Karina Taufani. Aku anak tunggal yang dilahirkan tiga puluh tahun yang lalu. Kehidupan sederhana dengan didampingi ibu yang baik dan ayah yang meski sedikit bodoh tapi sangat-sangat penyabar, itu menjadikan hariku dipenuhi kebahagiaan.


Sayangnya di dunia ini tak ada kebahagiaan yang abadi, tepat saat aku berumur enam tahun. Ayah dan ibuku berpisah, lucunya aku masih bisa tersenyum meski hanya tinggal berdua saja dengan ibuku. Setahun berlalu, ibuku yang nampaknya sedikit lelah menghadapi semuanya sendirian. Akhirnya membawa seorang pria yang terlihat baik, awal aku yang polos dan tak tahu apa pun menerima dia dengan sebuah anggukan dan senyum lebar ketika dia meminta menjadi ayahku.


Yang kukira bisa memberi kebahagiaan, rupanya hanya ada derai air mata dan sejuta larangan dari dirinya. Neraka dunia dimulai saat aku masuk SMP, pengaturan tak jelas mulai diberlakukan. Aku tak boleh berteman dengan siapa pun, dilarang melakukan tugas kelompok, tak boleh bercermin lebih dari lima detik, harus pulang tepat waktu. Diriku yang masih kecil dan belum tahu apa yang ayah tiriku sembunyikan pun menyangka kalau itu semua dilakukan untuk kebaikanku. Agar aku tak salah bergaul dan tetap berada di bawah pengawasan orang tua.


Hingga suatu ketiga, saat matahari sedang terik-teriknya. Ayah tiriku berteriak tanpa tahu malu, mengatakan kalau dia tak membesarkanku sebagai anak. Namun, sebagai pengganti untuk tugas ibuku. Syok, tentu saja. Aku menangis tanpa menyentuh sedikit pun makananku, ibuku tak tahu apa yang terjadi karena saat itu beliau sedang keluar.


Berbekal modal nekat dan rasa sakit yang anehnya kurasakan, aku mencari cara untuk menghilang dari dunia ini. Jalan paling aman yang kudapatkan adalah dengan meminum banyak obat yang berdosis tinggi. Kupikir aku bisa menghilang tanpa rasa sakit, nyatanya aku hanya tertidur tanpa bangun selama dua hari.


Aku depresi menghadapi kenyataan itu, aku tak memiliki tempat untuk bercerita, aku juga tak mau mengatakan semua pada ibuku. Menulis di buku diary, sama sekali bukan gayaku.


Kelas tiga SMA, ayah tiriku mulai melecehkanku dengan kata-kata yang menjijikkan. Jangan tanyakan berapa kali bisikan halus dari setan yang menyuruhku untuk melenyapkannya jika memang aku tak bisa menghilang dari dunia ini. Tetapi aku tak bisa menghancurkan senyum di wajah ibuku, yang tercipta karena mengira keluarga baru kami bahagia.


Tak tahan dengan semuanya, aku memberontak. Begitu lulus, aku kabur dari rumah tak memberi kabar dan hanya meninggalkan sepucuk surat bertuliskan 'Jangan mencariku!'.


Bertahun berlalu, karena rasa rindu yang tak terhingga pada sang ibu. Aku pun kembali, hanya menatap dari jauh. ibuku terlihat kurus dan ada seorang bocah perempuan yang ikut di sisinya.


Aku mencoba mendekat karena penasaran dengan identitas anak tersebut, siapa dia, apa yang dia lakukan, apa dia anak ibuku dan ayah tiriku, apa dia yang menggantikan aku, mengapa ibuku sangat kurus. Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar, hingga tanpa sadar tanganku menahan lengan ibuku. "Ma ...," panggilku lirih.


Kulihat ibuku membulatkan matanya, seakan terkejut melihat aku. Beliau berhambur memeluk diriku, air matanya jatuh berderai. Ibuku menggumamkan kata mengapa dan mengapa berkali-kali, tangannya yang memelukku mulai memukul-mukul pelan diriku. Aku cuma bisa menangis tanpa berkata apa-apa. "Ayo, pulang, nak!" kata ibuku saat dia sudah tenang.


Aku melerai pelukan kami berdua, kugelengkan kepalaku pelan. "Aku tak bisa, ma. Dan aku punya alasan untuk itu, maaf!" kataku menolak. Mataku beralih menatap anak perempuan yang memegang ujung pakaian ibuku. Seakan tahu arti tatapanku, ibuku pun memperkenalkan anak itu. "Dia Namira, adikmu ...," ucap ibuku, ada nada ragu yang kutangkap dari suara ibuku.


"Benarkah? Berapa usianya, ma?" tanyaku ingin tahu.


"Tujuh tahun, sayang," jawab ibuku seraya mengelus rambut tipis anak itu. "Sebenarnya dia keponakan papamu, ibunya meninggal saat dia baru saja dilahirkan. Ayahnya mengalami gangguan mental dan tak kuat melihat anaknya, sendiri!" jelas ibuku berbisik halus.


"Jadi ..., mengapa kamu tiba-tiba menghilang? Kenapa tak ada kabar? Apa ada yang mengganggumu, hmm?" lanjut ibuku, tatapannya menuntut sebuah penjelasan.


Ingin rasanya aku berbicara jujur, suamimu ma, orang yang berstatus sebagai ayah tiriku menginginkanku untuk menggantikan posisimu suatu hari nanti. Apa yang harus kulakukan selain pergi jauh dan menghilang. Namun, bibirku terlalu kelu untuk mengatakan semuanya. Katakan saja ini kesalahan kecil yang kuperbuat untuk mengamankan hati ibuku, aku tak akan pernah lupa kalau ibuku memiliki penyakit lemah jantung. Beliau bisa saja kenapa-kenapa saat mengetahui semua kebenarannya. "Aku hanya ingin mandiri dan mencari kebahagiaan untukku, ma. Aku juga ingin mencari pasangan yang sesuai keinginanku, he-he," sekali lagi aku berbohong, demi senyum dan kesehatan ibuku.


"Setidaknya kamu bisa mengirimi kabar, nak. Kamu tak tahu betapa khawatirnya papamu saat kamu menghilang." tatapan sendu yang mengandung kesedihan semakin membuatku merasa bersalah.


"Papamu marah dan berusaha mencarimu dengan segala cara. Namun, kamu seolah menghilang. Mama tak mengira kita bisa bertemu seperti ini lagi, papamu pasti senang saat tahu kamu sudah kembali."


Aku menahan tangan ibuku yang berniat mengirim pesan pada ayah tiriku melalui ponselnya. "Biarkan ini menjadi rahasia kecil kita, ma. Aku ingin mengejutkan papa," ucapku enggan menyebut lelaki itu sebagai ayah, dia tak pantas menurutku.


Ibuku tersenyum senang, tak tahu kalau aku sebenarnya sedang melakukan kebohongan. Maafkan aku ma, aku tak bisa mengatakan yang sebenarnya. Biarlah semua aku simpan sebagai rahasia, tak akan kubiarkan ibuku tahu apa yang kusembunyikan jika keadaan memungkinkan untuk terus berdusta.

__ADS_1


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Di sinilah aku, di depan rumah yang telah lama kutinggalkan. Yah, bukan seperti aku bisa menghindar dari masalah seterusnya seperti ini. Kurasa semua harus kuhadapi dan saat inilah waktu yang tepat menurutku.


"Jangan takut, aku akan melindungimu! Ingat, ada aku di belakangnmu!" bisik seseorang seraya menepuk pundakku. Ahh, bagaimana aku bisa melupakan dia. Orang yang menjadi sandaranku beberapa tahun terakhir ini.


"Aku tahu, terima kasih!" ucapku sembari mengumbar senyum kecil.


"Tak perlu mengucapkan kata terima kasih diantara kita, bukan?!" lihatlah wajahnya yang mengernyit tak suka itu, terlihat imut dan juga lucu.


"Aku lupa, tak ada maaf dan terima kasih dalam hubungan kita berdua, kan!" kataku seraya menyandarkan kepala ke pundaknya.


"Benar, jadi ayo kita masuk sekarang!"


Di depan pintu, wajah orang yang tak ingin kutemui malah muncul bagai mimpi buruk. Senyum lebar yang tadi menghias wajahnya, langsung sirna. Wajah yang kuingat dengan jelas meski ku tak mau itu pun menunjukkan tatapan penuh permusuhan, padaku dan pada pria yang ada di sampingku.


"Akhirnya kamu mau kembali ke sini, sayang!" ucap ibuku seraya merentangkan tangannya, tentu saja pelukan hangat segera menyambut kedatanganku.


Baru saja aku ingin mengucapkan sesuatu untuk membalas ucapan ibuku, suara berat ayah tiriku terdengar menusuk. "Kalau pulang, mengapa malah membawa orang tak dikenal? Jangan bilang kamu lari dari rumah hanya untuk mencari sembarang pria yang tak jelas asal usulnya?!" kata kasar dengan wajah mengejek berbanding terbalik dengan topeng malaikat yang selalu dia gunakan setiap waktu. Pasti dia sangat terganggu dan kesal, tetapi aku tak peduli.


"Siapa dia, sayang? Kamu tak mau mengenalkannya pada kami, hmm?" kata ibuku disertai senyum tak enak, beliau bahkan melirik ke arah ayah tiriku. Jelas ayah tiriku tak akan mau peduli, dia sudah emosi, mana bisa mengatur ekspresi seperti biasanya.


Aku melingkarkan tanganku ke lengan pria di sampingku. "Karina lupa, ma. Ini Arga, dia seorang teman, pacar, sekaligus suami aku, ma!" aku tersenyum lebar setelah mengenalkan pria yang sebenarnya adalah suamiku, lihat wajah marah ayah tiriku yang seakan ingin meledak setelah mendengar pernyataan ku.


"Jangan bercanda, Karina?!" oh-ho-ho-ho, ayah tiriku secara tak sadar meninggikan suaranya.


"Mengapa kamu terlihat marah, yah?" tanya ibuku seraya menatap ayah tiriku heran.


"Sudah kabur, gak pernah ngasih kabar, lalu sekarang dia pulang dengan membawa pasangan yang tak jelas didapatkan dari mana! Apa aku tak berhak marah, hah?"


"Malah bagus kalau Karina pulang bersama suaminya, itu lebih baik, yah."


"Aku lebih memilih dia membawa uang satu koper, daripada suami yang tak jelas asal-usulnya dari mana?!"


"Kali ini kita tak sependapat, yah. Sebagai ibunya, saya memilih Karina membawa suami, artinya dia bisa menjaga diri dan kehormatannya sebagai wanita. Saya tak akan menerima uang sebanyak apa pun yang Karina bawa kalau itu tak jelas asalnya dari mana!"


Aku dan Arga hanya menjadi penonton, ayah tiriku yang lepas kendali dan ibuku yang dengan tegas menentang. Baru kali ini kulihat sosok beliau yang seperti ini.


Ayah tiriku menatap tajam ke arahku, jari telunjuknya mengacung dengan tatapan mengancam. "Bukankah sudah kukatakan kalau kamu itu milikku, karina!" katanya tak mampu menahan amarah.

__ADS_1


Tanganku mengepal erat, apa orang ini sudah kehilangan akal. Beraninya dia berbicara seperti itu di depan ibuku. "Apa maksudnya ini, yah?" ibuku bertanya dengan nada curiga. "Apa ada yang kalian sembunyikan dariku selama ini, hah?" lanjut ibuku dengan mata memicing.


"Bukan urusan kamu?!" bentak ayah tiriku dengan mata yang melotot ganas.


"Jangan bentak ibuku?! Kamu hanya orang asing yang menipu dengan kata-kata manis dan topeng malaikat, padahal sebenarnya kamu iblis yang berniat menghancurkan keluarga kami, kan!" aku memeluk erat ibuku, tak ingin kalau iblis di depanku ini sampai melayangkan tangannya. Meski tak pernah, tetapi mungkin saja itu akan terjadi menurutku.


"Anak kurang ajar! Kalau kamu kegatalan, aku bisa memuaskan sampai kamu memohon untuk berhenti?!" ucapan kasar dan menyakitkan menodai telinga ibuku.


"Tuan, tolong pelankan sedikit suara anda! Apa anda tak malu, teriakan anda didengar tetangga?" Arga menyela mengingatkan.


"Bocah, kamu sebaiknya diam dan pergi saja dari sini! Saya tak menerima kehadiran kamu?!" bentak ayah tiriku dengan kasar.


"Anda tak perlu mengusir, jika istri saya pergi, saya juga akan meninggalkan rumah ini, tuan!" balas suamiku dengan tenang dan tak terpancing emosi.


"Pernikahan kalian tidak sah, saya tak menerimanya?!" ucapnya menentang.


"Kamu harus tahu, saya yang menjaga dan merawatnya, harusnya saya juga yang memetik manis buahnya. Kenapa orang asing seperti kamu malah datang dan merebut apa yang seharusnya jadi milikku?!" lanjut ayah tiriku meluapkan kemarahannya.


Ibuku menutup mulutnya mendengar apa yang diucapkan suami yang telah menemaninya beberapa puluh tahun ini, beliau tak percaya kalau dia menikah dengan jelmaan iblis yang teramat bajing*n. "Apa ini niat kamu yang sesungguhnya, yah?" tanyanya ragu.


"Aku tak peduli apa yang kamu pikirkan, harusnya dulu tak kubiarkan jal*Ng kecil ini lepas. Harusnya dia kukurung di sangkar besi yang kubuat dan kunikmati setiap waktu. Bodohnya aku menahan diri waktu itu!"


Ibuku memegang dada kirinya, kenyataan pahit yang tak terelakkan menghantam tiba-tiba. "Kita berpisah, aku tak bisa hidup bersama serigala yang ingin menerkam anakku lebih lama dari ini! Aku akan mengajukan talak, kamu bisa keluar dari rumah ini sekarang juga?!" putus ibuku membuatku terkejut. Ibu memilihku, beliau menguatkan dirinya untuk memutuskan masalah tadi.


"Ma ...," lirihku pelan.


Tangan hangat ibuku membelai lembut wajahku. "Maafkan mama, Karina. Mama tak tahu kalau dia jahat dan akan menjadi sosok menakutkan yang mengancam masa depanmu, sayang."


Aku menggeleng kuat, itu tak benar, itu bukan salah ibuku. Pria yang menjadi ayah tiriku saja yang memiliki pikiran kotor dan memainkan rencana jahat. "Karina paham, mama melakukannya agar Karina bisa merasakan kasih sayang seorang ayah, kan!"


"Kamu kira bisa seenaknya membuang aku, hah?" teriak ayah tiriku nyaring.


"Sebaiknya anda pergi! Atau anda perlu bantuan, tuan?" senyum ramah tak lepas dari bibir Arga.


"Apa yang bisa bocah seperti kamu lakukan, huh?!" ayah tiriku menyilangkan tangan penuh arogan.


Arga melebarkan senyumnya hingga matanya semakin menyipit. "Saya bisa melempar anda, tuan. Tentunya itu akan sangat menyakitkan dan saya sangat-sangat tak ingin melakukannya sama sekali!"


Ayah tiriku meluncurkan serangan tiba-tiba, sayangnya Arga malah memblokir serangannya dan berbalik menyerang. Satu tinjuan mendarat tepat di hidung ayah tiriku, darah segar mengucur dari lubang hidungnya. Aku menggeleng pelan, sudah diperingati tapi tak mau mendengar, akhirnya malah melukai diri sendiri. "Bagaimana? Mau pergi sendiri atau saya bantu, tuan?"

__ADS_1


Ayah tiriku berdecih kesal, melontarkan jutaan umpatan dan juga ancaman. Namun, Arga tak menggubris. Dia malah melambai dan menyuruh ayah tiriku untuk hati-hati di jalan. Sejak saat itu, kami tak lagi melihat ayah tiriku. Ahh, haruskah kukatakan mantan ayah tiri. Karena ibuku telah bercerai darinya. Ibu melarang aku ikut ke persidangan, hanya Arga dan pengacara keluarga yang mendampingi hingga proses selesai.


Begitulah cerita tentangku, Karina. Seorang anak yang menutupi semua agar ibunya bahagia, tetapi akhirnya tak tahan dan memilih kabur. Di tengah itu, aku bertemu Arga dan kami menikah. Hingga saat kembali dan ibuku malah berpihak padaku, bukan pada suaminya. Semua terungkap, hal yang ditakutkan tak terjadi. Jantung ibuku lebih kuat dari yang kukira. Ha-ah, kalau kutahu aku pasti akan mengatakan semua pada ibuku sejak awal, sejak sebelum aku pergi meninggalkan rumah.


__ADS_2