
Nama gue Roy, gue baru lulus kuliah dan dapat kerjaan di sebuah perusahaan. Umur gue baru menginjak yang ke-25 bulan lalu, sudah cukup lah buat gue untuk tinggal sendiri. Bukannya gue gak pernah tinggal sendiri, tapi mama gue masih sering bolak-balik kamar kost gue dulu. Dan untuk saat ini, gue bener-bener pengen mandiri. Untuk itu gue mencoba menyicil apartemen sederhana di sekitaran kantor tempat kerja gue.
Alhamdulillah-nya lagi, gue dapet tempat yang murah di lantai 6. Nomor kamar gue 666, pas gue periksa gak ada yang salah. Semua oke dan akhirnya gue tanda tangan aja semua yang butuh tanda tangan gue. Kapan lagi dapat apartemen lumayan luas dengan harga yang sangat-sangat terjangkau, meski gue masih nyicil lah hitungannya.
Sebulan berlalu, gue mulai ngerasa ada yang aneh sama tempat yang gue tempati saat ini. Kadang lampunya kedip-kedip sendiri, kadang siaran TV berganti sendiri, bahkan kadang radio pajangan yang memang ada sebelum gue pindahan menyala dengan sendirinya. Oke, gue mulai was-was. Bukannya takut, gue gak suka aja kalau ada hal-hal ganjil yang menggangu begini. Bayangin aja, pas enak-enaknya tidur, tiba-tiba suara radio rusak menyala dengan volume paling keras. Kesel, pastinya dan itu yang gue rasakan beberapa malam ini.
Makin ke sini, makin banyak gangguan yang terjadi. Air yang tiba-tiba mengalir sendiri dari kerannya. Tentu saja gue mengeluh pada pemilik sebelumnya, tapi yang gue dapat hanya sanggahan kalau itu biasa. Mungkin ada pipa yang bocor untuk masalah keran, atau mungkin kabel lampu goyang makanya lampunya sering kedip-kedip sendiri.
Suatu hari, saat bersih-bersih di area tempat tinggal gue. Banyak yang curi-curi menatap gue sambil berbisik-bisik. Oke, gue gak ambil pusing. Gue anggap aja mereka cuma pengen tahu tentang gue, tetangga baru mereka. Lalu, seorang pria paruh baya mendekati gue. Dia duduk di sebelah gue waktu gue lagi rehat sebentar, duduk ngaso lah istilahnya.
__ADS_1
"Boleh bapak duduk di sini, nak?" tanyanya basa-basi. Gue mengangguk mengiyakan, orang ini bukan punya gue, masa iya gue larang.
"Kalau bapak tidak salah, kamu tinggal di apartemen nomor 666, kan?" tanyanya lagi seperti mulai mengorek informasi dari gue.
Gue mengangguk lagi. "Iya, pak," jawab gue sopan. Bagaimana pun lawan bicara gue lebih tua dari gue dan gue paham tata krama dan sopan santun. Gak sopan namanya kalau cuma ngangguk-ngangguk tanpa menjawab terus.
"Kalau boleh tahu, kenapa orang yang sebelum saya pindah, ya pak?" tanya gue ingin tahu.
"Loh, memangnya kamu gak ngalamin apa-apa selama tinggal di sana?" si bapak itu malah balik bertanya, wajahnya sedikit heran menatap gue.
__ADS_1
Gue bingung harus jawab jujur atau menutup-nutupi semua. Akhirnya gue milih jawab apa adanya saja. "Banyak, kejadian aneh, sih pak. Tapi kata si pemilik itu karena bangunannya sudah tua aja."
"Huh, dasar bangkotan tukang nipu. Pinter banget ngeles-nya!" decih si bapak kesal.
"Kamar 666 itu kamar kutukan! Semua orang selalu diganggu sama penghuni kamar itu. Yang beruntung memilih pindah, yang masa bodoh berakhir celaka. Pernah ada yang tinggal di sana terus langsung koma tanpa ada penyebab apa-apa. Entah gimana kabarnya dia sekarang, saya juga sudah lupa namanya." oke, gue mulai panik. Kalau apa yang dibilang bapak ini benar, berarti tempat tinggal gue sekarang itu sangat-sangat bermasalah.
"Kalau begitu saya permisi, pak." gue langsung cabut dan balik ke kamar. Gue kemas seadanya barang-barang gue yang paling gue perlukan. Peduli setan sama duit, itu bisa dicari. Gue harus hidup dulu baru bisa mikirin masa depan. Mending balik ke tempat ortu atau nginap di asrama perusahaan daripada tinggal di sini dan berujung berjudi dengan nyawa gue. Nyawa gue cuma satu dan gak ada cadangannya, gak ada juga yang jual eceran buat gantiin kalau nyawa gue hilang.
Terserah duit gue bisa balik apa gak, gue gak peduli lagi. Yang penting gue selamat dulu intinya. Masalah belakang biar diurus nanti, sisa barang juga bisa gue ambil pakai jasa pindahan. Gue gak mau menginjakan kaki di kamar 666 lagi. Gue kapok, jera, dan gak mau diganggu lagi.
__ADS_1