
Aku adalah yatim piatu, sejak bayi aku tinggal di panti asuhan. Kata kepala panti, aku ditinggalkan di dalam keranjang bayi. Hanya selembar kertas bertuliskan nama. Dan yah, nama itu yang kupakai hingga sekarang. Adelia, itulah nama yang tertulis di kertas yang ditinggalkan di keranjang bersama denganku ketika aku bayi.
Jika ada yang bertanya apa yang aku harapkan setiap tahunnya, pastinya aku hanya berharap untuk mendapatkan sebuah keluarga. Meski banyak yang mengatakan jika kita diadopsi, kita bukannya dijadikan keluarga. Kita hanya dijadikan pembantu gratis, terkadang kita juga tak diberi makan yang layak dan cukup.
Sebagian anak panti yang sudah diadopsi dan dipulangkan lagi mengatakan demikian, ada yg menambahkan jika orang tua adopsi itu memukuli mereka, meski mereka tak tahu dimana letak kesalahan yang mereka telah perbuat. Namun, aku tetap mengharapkan memiliki sebuah keluarga. Mendapatkan cinta dari ibu dan aya, serta kasih sayang dari kakak. Uhh, itu pasti sangat membahagiakan seandainya itu bisa menjadi kenyataan.
Mungkin karena aku tak pernah putus asa dalam berharap dan terus-menerus memanjatkan doa dengan hal yang sama berulang-ulang. Suatu pagi kepala panti memanggil diriku. Ups, sepertinya aku lupa mengatakan berapa umurku. Sekarang aku berumur delapan tahun, untuk ciri fisik, yah ... seperti anak panti lainnya yang tak begitu terurus, aku memiliki kulit berwarna kecoklatan, rambut panjang yang sedikit kasar. Selebihnya aku merasa diriku cukup bersih karena aku rajin mandi setiap hari.
"Anda memanggil saya, ibu kepala?" tanyaku yang tentunya setelah mengetuk pintu dan diperbolehkan masuk.
"Oh, masuklah, masuk-masuk! Duduk dulu dan tunggu sebentar, ya!" aku mengangguk, kulihat ibu kepala kembali mengurus kertas-kertas yang ada di mejanya.
Adelia duduk diam, matanya melirik ke berbagai penjuru ruang kepala panti. Dia takjub dengan ruangan yang luas dan juga bersih tempat dia berada sekarang. Apalagi ketika dia mendengar detikan suara jam, begitu teratur seperti harmoni musik nan indah.
Seelah beberapa lama menunggu, kepala panti meletakkan pulpennya. "Jadi begini Adel, saya memanggil kamu untuk bertanya satu hal?!" ucap kepala panti menopang dagunya di tangan.
Adelia mengangguk paham. "Dan apa yang ingin anda tanyakan, ibu kepala?" balas bocah itu sopan.
"Apa kamu masih ingin memiliki keluarga, walau itu hanya bersifat sementara, Adel?" tanya kepala panti dengan hati-hati.
Sekali lagi Adel mengangguk, kali ini dia mengangguk lebih cepat dan sangat antusias. "Tentu saja, meski hanya sehari pun tak masalah untuk saya!" ucap gadis kecil itu yakin.
Kini giliran ibu kepala yang mengangguk puas. "Baiklah," imbuh kepala panti senang.
"Anda dengar sendiri apa yang gadis kecil ini katakan tadi, kan tuan?" lanjut kepala panti menatap ke arah pintu. Di sana sudah berdiri pria berperawakan tinggi yang memakai baju mahal. Adelia tak tahu apa nama baju itu, dia hanya pernah melihat di televisi. Baju seperti itu dipakai untuk pergi ke pesta-pesta besar.
__ADS_1
"Ya, dan saya akan segera menyampaikan kepada tuan saya. Saya harap anda mau menunggu beberapa hari lagi, nona! Tidak, saya usahakan besok saya akan kemari lagi bersama tuan saya." Adelia sedikit kecewa awalnya, tapi dia mengangguk setelah mendengar janji pria di depannya ini. Dia masih memiliki harapan yang diberikan pria dewasa di depannya ini.
"Saya akan menunggu dan terus menunggu sampai anda datang, tuan!" balas Adel cepat.
"Saya permisi kalau begitu." Pria itu menghilang begitu saja, seakan dia tak pernah ada sebelumnya. Adel sedikit terkejut dan juga takjub.
"Jangan terlalu terkejut, orang tadi memiliki beberapa barang bagus untuk melakukan sedikit pertunjukan seperti tadi, Adel!" jelas ibu kepala membuat Adel mengangguk paham.
"Ya sudah, kembali ke kamarmu. Ingat jangan katakan apapun pada temanmu yang lain!" lanjutnya.
Malamnya Adel tak dapat memejamkan mata, dia dengan tak sabar menunggu matahari terbit. "Keluarga, semoga kali ini aku mendapatkannya. Walau hanya sesaat," ucap Adel dengan mulut menguap lebar. Mata gadis kecil itu berair, dia pun memejamkan mata ketika rasa kantuk tak lagi tertahan.
Adel bangun lebih pagi, dia tersenyum lebar sambil memegang jemari tangannya. Gelisah sudah pasti. Takut akan harapan, itu juga. Tapi Adel tak ingin menyerah, dia sangat menginginkan sebuah keluarga.
Pria kemarin datang bersama dengan seseorang. Dia terlihat lebih tinggi dan putih dari pria yang kemarin ditemuinya. "Anda, benar-benar datang!" ucap Adel dengan mata berkaca-kaca.
"Kemarin saya belum memperkenalkan nama saya, bukan? Ekhem, kalau begitu, perkenalan nama saya Leonardo, nona bisa memanggil saya Leo." pria yang bernama Leo itu tersenyum hangat.
"Dan yang ini tuan saya, namanya Richard, nama panggilannya Richi," lanjut Leo bercanda.
"Jangan mengatakan omong kosong pada anak kecil, Leo!" ucap pria yang bernama Richard dengan suara datar yang terkesan jahat.
"Ha-ha-ha, maaf tuan. Saya hanya ingin membuat nona lebih nyaman, makanya saya sedikit bercanda," imbuh Leo tersenyum kaku.
Richard diam tak menanggapi, dia malah menatap lurus Adel. "Jadi, dia yang harus jadi anakku, meski aku belum pernah menikah?" tanyanya datar.
__ADS_1
"Seperti yang anda lihat, tuan!" balas Leo cepat.
"Kamu hanya cukup tahu, aku bukan orang yang ramah yang bisa bersuara lembut dan sebagainya. Jadi, jangan merengek hanya karena masalah sepele," jelas Richard seraya menatap lurus Adel.
"Tuan, anda sedikit kasar barusan!" sela Leo mengingatkan.
Richard mengangkat bahu acuh. "Dia harus terbiasa kalau ingin menjadi nona di keluarga Pratama," timpalnya cuek.
"Jadi ..., Anda yang akan menjadi keluarga saya?" tanya Adel penuh harap.
"Begitulah yang terjadi sekarang, meski entah sampai kapan."
Adel tertunduk lemah. "Jadi, ini hanya sementara. Aku pasti akan dikembalikan lagi, bukan?" pikir Adel dengan kening berkerut.
"Tak apa meski sementara, kuharap kita menjadi keluarga yang hangat, tuan!" Adel menegakkan kepalanya, dia tersenyum lebar menatap Richard.
"Ayah! Mulai sekarang panggil saya 'Ayah'!
Leo dan Adel terbelalak terkejut, Adel kaget karena harus memanggil ayah secepat ini. Sedangkan, Leo terkejut karena tuannya terlalu gampang menyerah dari biasanya.
"Baik, ayah!" senyum Adel semakin lebar, dia senang sekaligus terharu. Walau sesaat, dia akan menikmati semua yang bisa dia lakukan bersama dengan keluarga sementaranya ini.
"Leo, urus semuanya. Aku akan membawa putriku sekarang juga!" titahnya sebelum menghilang dari hadapan Leo bersama dengan Adel.
Leo berkedip pelan. "Dia ... masih tuan aku, kan?" katanya tak percaya.
__ADS_1
Dan mimpi Adel menjadi kenyataan, semoga mimpi itu berlangsung untuk waktu yang lama, bahkan kalau bisa selama-lamanya.