
Mia, Lisa, Dina, dan Piya sepakat untuk mendirikan tempat praktek sederhana. Mereka sudah punya dokter yang sangat hebat di usia muda, siapa lagi kalau bukan Mia. Lisa merangkap sebagai asisten dokter dadakan sembari menjadi pengawal yang menumbangkan orang-orang yang kadang berbuat onar.
Berterimakasih lah pada Dina yang menawar harga tanah semurah-murahnya dengan semua kepandaian yang dia miliki. Piya tentunya ikut membantu dengan mengacaukan isi pikiran pemilik tanah tersebut. Pokoknya apa pun persyaratan yang diberikan Dina, si pemilik tanah mengiyakan sambil menatap Piya penuh ambisi. Mungkin dia berharap banyak pada Piya.
Akhirnya tanah dan bangunan minimalis yang berdiri di atas tanah tersebut berpindah nama menjadi milik mereka. Mereka tak repot mencari nama untuk klinik kecil yang mereka buka. Mereka menggabungkan nama mereka berempat dan menambahkan tiga tanda tanya di belakang nama tersebut. Semakin unik namanya, menurut mereka semakin banyak yang penasaran dan datang berkunjung.
"Akhirnya, gue punya tempat praktek sendiri," ucap Mia senang.
Lisa menyenggol lengan temannya itu. "Inget, ini milik kita bersama. Bukan cuman punya lo ! Kita usaha bareng-bareng ini?!" katanya mengingatkan.
Dina mengangguk membenarkan ucapan sahabatnya. "Tepat. Meski kita bertiga gak ada keahlian di bidang kedokteran, tapi kita bakalan bantu-bantu sebisanya!" katanya cepat.
__ADS_1
"Terimakasih semua, terkhusus Lo, Piya. Lu udah ngeluarin banyak dana buat ini-itu," ucap Mia penuh haru sekaligus senang.
"Gue cuma bantu dikit. Kalau duit, itu bukan punya gue. Sebagian masih punya ortu gue tahu!" balas Piya merendah.
"Kalian bisa bantu banyak, lah gue cuma bisa di bagian keuangan doang. Jadi, gak usah dipikirin lah!" lanjut gadis itu acuh.
Usut punya usut, Piya pewaris tunggal generasi ketiga dari keluarga kaya raya, mungkin kata yang tepat tajir melintir atau sultan kali untuk kasus Piya. Tapi keempatnya berteman tak memandang apa dan siapa yang ada di belakang gadis itu, mereka juga tak pernah berniat memanfaatkan kekayaan kawannya untuk kesenangan mereka. Semua tulus hanya ingin bersahabat.
"Nah, dengan kemampuan lu yang tingkat dewa itu, gue yakin pasti kita bakalan kebanjiran pasien!" tambah Dina antusias.
"Asal jangan ada pasien yang datang gegara sakit hati aja, gue gak bisa ngobatinnya!" kata si dokter muda bercanda.
__ADS_1
"Bwa-ha-ha-ha, sepertinya emang itu yang bakalan banyak kita tangani," balas Lisa disertai dengan gelak tawa.
""Turut berduka pada pria-pria malang yang hatinya direnggut tapi tak diperhatikan," do'a Dina sok prihatin pada para korban sahabatnya.
"Jadi, tinggal bagian gue ngakak doang kan ini?" dan pecahlah tawa dari keempatnya setelah mendengar pertanyaan Piya.
Begitulah mereka melewati hari. Lima hari dalam seminggu, mereka sibuk dengan urusan mereka masing-masing dan hanya saling bertanya kabar setiap malam saja. Itu pun melalui ponsel dan tidak bertatap muka langsung. Di hari sabtu dan minggu, keempatnya berkumpul di tempat praktek mereka. Saat tak ada pasien, mereka akan bercanda seperti biasa.
Klinik mereka juga lumayan banyak orang yang datang berobat. Sesuai dengan peraturan yang berlaku. Bagi pasien yang kurang mampu diberikan pengobatan gratis, obatnya pun diberi gratis juga. Untuk pasien dari kalangan menengah ditarik biaya penuh, kisaran lima puluh sampai seratus ribu rupiah sekali berobat. Terakhir untuk kaum tajir melintir atau anak orang kaya, mereka diobati dengan biaya yang sesuka hati si pemeriksa. Artinya mereka harus membayar sesuai dengan sakit mereka. Kalau sakitnya hanya flu dan batuk, akan ditarik biaya sekitar tiga ratus ribu rupiah.
Pernah sekali ada pasien yang mengomel dan tak terima ditagih pembayaran sebesar dua juta, padahal dia cuma sakit gigi dan sakit kepala. Lisa sudah siap dengan pentungan di tangannya kalau orang itu bertindak anarkis. Untungnya, Mia menjelaskan sekaligus menyindir secara halus. Menjabarkan kalau biaya yang diminta memang sesuai dengan pengobatan yang diberikan. Piya juga ikut membantu berbicara, dia mengatakan kalau biaya segitu tak ada apa-apanya dari semua item yang dipakai pasien tersebut. Kesuksesan untuk keempatnya, dengan tangan gemetar si pasien tadi membayar lunas. Tentunya sambil misuh-misuh, mengatakan tak akan datang lagi.
__ADS_1
Beginilah kisah MiLiDiPi, empat sekawan dengan satu pemikiran. Mereka ingin membantu kaum yang susah, mereka juga tak akan ragu memeras kaum berada. Siapa suruh jadi orang kaya, orang kaya kan harus membantu yang tak mampu. Anggap saja tempat praktek mereka dijalankan dari hasil pembayaran pengobatan dari orang kaya. Setelah itu uangnya digunakan untuk berobat gratis bagi yang tak mampu. Indahnya saling menolong.