Coretan Tangan Iseng.

Coretan Tangan Iseng.
Luka.


__ADS_3

Namaku Rion, aku memiliki seorang teman masa kecil yang sangat manis dan menggemaskan, namanya Rena. Rena, gadis kecil yang menemaniku bermain dulu, kini sudah menjadi dara manis yang sungguh memikat hati. Status teman membuat aku tak bisa mengambil langkah untuk mengajaknya menjalin hubungan yang lebih dari sekedar teman. Ada saja ketakutan kecil kalau misalnya Rena tahu apa yang kurasakan, dia mungkin akan menjauh dan persahabatan kami yang sangat berharga bagiku akan hancur seketika.


Rena gadis yang ceria, mudah bergaul dengan siapa saja. Tak sedikit teman sekelas kami yang mengaku dan terjerat dalam pesonanya. Berbanding terbalik dengan diriku, aku terlalu acuh dan dingin pada yang lain. Aku seperti memasang dinding tinggi agar tak ada yang bisa mendekati, kecuali Rena tentunya.


Semakin bertambahnya usia, semakin tak terbendung perasaan yang kusimpan untuk Rena. Aku serakah, aku menginginkan lebih. Namun, aku terlalu takut untuk memulai. Takut, kalau aku akan menghancurkan segala ikatan yang aku miliki saat ini dengan Rena.


Masa SMA, masa indah dan masa-masa untuk memulai perasaan baru. Begitu pun dengan Rena, sahabatku itu mulai merias wajahnya yang kurasa sudah sangat cantik tanpa riasan apa pun.


"De, Rion udah nunggu, tuh di depan."


"Bentar, ma." Rena membalas dari dalam kamarnya.


"Bentar, ya Rion. Si Rena biasa, lama banget kalau siap-siap!" ucap ibunya Rena sambil menggelengkan kepala pelan.


"Gak apa-apa, ma," balas Rion. Dia memang disuruh memanggil orang tua Rena dengan sebutan mama dan papa. Itu dikarenakan Rion adalah anak yatim-piatu, pemuda itu dulunya tinggal di panti asuhan. Sekarang Rion bisa menyewa tempat kecil di dekat rumah Rena untuk dirinya tinggal, Rion membayar biaya bulanan kamarnya dari hasil kerja sampingan.


"Ayo, buru jalan. Ntar kita telat?!" Rena menarik lengan Rion seraya melangkah lebar, terlihat jelas kalau dia sedang terburu-buru.


"Na, pelan-pelan aja. Ntar jatuh," tegur Rion mengingatkan.


"Kamu yang lambat siap-siap, kenapa sekarang malah kamu yang nyeret-nyeret Rion, hah?!" rupanya si ibu sedikit kesal dengan kelakuan anak semata wayangnya itu. Sudah telat dan membuat temannya menunggu, harusnya dia minta maaf. Bukannya malah buru-buru begitu.

__ADS_1


"Mama mau kalau kami berdua telat?" balas Rena yang saat ini sedang memakai sepatu.


"Pergi dulu, ya ma. Assalamualaikum!" lanjut gadis itu kemudian melarikan diri, tak lupa dia menggeret teman baiknya.


Perjalanan ke sekolah selalu menjadi bagian terbaik menurut Rion, dia bisa mendengarkan celotehan Rena yang menceritakan apa saja. Namun, untuk pertama kalinya dan baru sekarang terjadi. Rion merasa tak suka dengan apa yang ditangkap oleh pendengarannya sendiri. Temannya, gadis manis yang membuatnya jatuh cinta, Rena-nya, menyebut nama pemuda lain. Belum lagi semu merah muda yang sangat tipis menodai pipi putih kawannya itu. Ingin rasanya dia segera menghentikan ucapan Rena, tetapi dia tak bisa melakukannya. Yang bisa Rion lakukan hanya tersenyum tipis sembari menyembunyikan rasa sakit di hatinya.


Hari-hari berlalu, hubungan Rion dan Rena terlihat seperti biasanya. Namun, nyatanya Rion menarik garis agar tak terlihat kecewa dengan hubungan sahabatnya yang baru terjalin. Yah, sejak minggu lalu, Rena dan Aryo memutuskan untuk mencoba berpacaran. Masih teringat dengan jelas raut kebahagian Rena ketika menceritakan kabar bahagia bagi dirinya sendiri itu.


"Rion, Rion, jangan bilang-bilang sama mama, ya. Aku lagi jalan sama Aryo, kami sepakat untuk pacaran. Kyaaa, seneng banget rasanya. Gebetan aku sekarang udah jad pacar aku, Ren," ucap Rena seminggu yang lalu.


Reno tersenyum tipis seraya mengucapkan kata selamat dengan setengah hati. "Selamat, ya. Aku turut senang kalau kamu sebahagia ini. Semoga awet hubungannya."


Dari situ Rion mulai menjaga jarak, dia tak lagi menjemput Rena. sudah ada sosok yang lebih pantas melakukan hal itu. Rena tak juga mencari dirinya dan malah berterimakasih karena bisa berangkat berdua dengan pacarnya. Tentunya sang pacar menunggu di simpang jalan, karena keluarga Rena tak ada yang tahu kalau dia sedang menjalin hubungan.


"Hmm, ya," balas Rion tanpa menoleh. Pemuda itu tetap fokus pada buku yang ada di tangannya.


"Kamu lagi baca apa, sih?" tanya Rena berusaha untuk akrab seperti dulu. Sepertinya dia sedikit merasa kalau hubungan mereka tak sama lagi dan sedikit menyesal. Dia ingin berteman dan bercanda seperti biasa, hanya saja dia terlalu sibuk, itulah alasannya.


"Buku!" balas Rion singkat.


"Kamu itu–," ucapan Rena terputus.

__ADS_1


Rion berdiri dari duduknya. "Aku duluan, ya. Aku lupa ada janji, Na!" Rion menjauh meninggalkan Rena sendirian.


"Tapi, kan aku mau bicara sama kamu ...," gumam Rena menatap kepergian Rion dengan tatapan yang sulit diartikan. Itu adalah hari terakhir Rena bertemu dengan Rion. Kawannya itu memilih pindah tanpa memberi kabar pada dirinya.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Tiga tahun berlalu, Rena yang telah lulus pun memilih kuliah sambil bekerja lebih dari setahun yang lalu. Tak ada sedikitpun kabar tentang sahabat lamanya itu. Reno menghilang bak ditelan bumi.


"Satu hari lagi kulewati tanpa satu pun kabar yang kudengar tentangmu. Aku merindukanmu, kawan. Sungguh-sungguh rindu," ucap Rena sambil menatap mentari yang perlahan kembali ke peraduannya. Itu kata-kata yang selalu Rena ucapkan setiap malam menggantikan siang.


Suatu pagi yang tenang, sepucuk surat beramplop biru muda diterima Rena. Tak ada nama pengirim, hanya namanya sebagai penerima yang tertera. Rena membuka surat tersebut dengan perlahan dan mulai membaca isinya.


"Tidak, tidak, ini gak mungkin terjadi!" ucap Rena dengan tatapan nanar. Gadis itu berteriak cukup nyaring disertai dengan derai air mata yang perlahan mulai turun.


"Setelah bertahun-tahun kamu gak pernah ngasih kabar. Dan, ini yang aku dapatkan?!" lanjut Rena terisak pilu.


"He-he-he, kamu, kamu pasti lagi bercanda. Ini hanya salah satu kebohongan yang sering kamu lakukan seperti dulu, ya kan!" kekeh Rena penuh harap.


"Gak mungkin kamu udah gak ada di dunia yang sama seperti aku. Gak mungkin kamu ninggalin aku, sahabat kamu duluan! Dan apa-apaan pengakuan ini? Kenapa kamu gak pernah jujur kalau kamu suka dan menyimpan rasa yang sama denganku?"


"Hu-hu-hu ..., kita berdua yang terlalu bodoh dan takut untuk megakuinya. Kini hanya tinggal aku yang merasakan pahit sendirian. Kita benar-benar bodoh rupanya, Rion," keluh Rena mendekap erat surat terakhir dari sahabatnya itu.

__ADS_1


...°°°°°...


...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...


__ADS_2