Coretan Tangan Iseng.

Coretan Tangan Iseng.
Pengganti 4.


__ADS_3

Aku mengajak Diana menikah setelah dia berusia delapan belas tahun. Namun, dia malah mengatakan kalau itu terlalu cepat. Dia degan keras kepala mencap dirinya sebagai pengganti, padahal bagiku dia satu-satunya yang aku inginkan. Lalu dengan entengnya dia berkata kalau kakaknya masih ada dia tak akan di sini. Sialan, meski dia benar tapi aku merasa kesal. Memang benar yang kuinginkan itu Diani, gadis ceria dengan senyum sehangat matahari. Gadis tercantik dengan gaun-gaun indah yang selalu melekat di tubuhnya, Dianiku yang rupawan, yang nyawanya direnggut karena kebodohan orang tuanya. Mereka malah menjodohkan Diani dengan pria lain, pria yang terlihat alim dan baik, padahal pria itu pria yang tak pantas untuk gadis cantikku itu.


Aku membiarkan, tetapi aku terus memantau. Sayangnya, seketat apapun aku mengawasi, pasti ada celah dan titik buta yang tak terlihat. Pria tersebut merusak Diani dan membuat gadisku itu mengakhiri hidupnya. Tentu saja aku sudah menuntut balas, membuat pria tadi mati secara mengenaskan. Namun, aku merasa kurang. Makanya aku menghancurkan keluarga Diani sekalian untuk meluapkan amarahku.


Mengikuti kata hati untuk meluapkan amarah, sekitar tengah malam aku menjalankan rencanaku. Siapa yang mengira kalau aku bertemu dengan seorang gadis yang terlihat mirip dengan gadisku. Tentu saja putusan yang kubuat tanpa pikir panjang adalah mengajak gadis tersebut ikut denganku, untungnya dia mau tanpa dipaksa.


Kulit yang putih pucat, pandangan mata yang menatap takut dan ragu, serta tubuh yang sangat kecil juga terlihat rapuh. Aku akan menjaganya dan tak akan melepaskannya walau sedetik pun dari pandanganku.


Baru beberapa jam dan dia sudah membuat aku kesal. Beraninya dia berandai-andai tentang Diani, aku paham dan sangat mengerti apa yang dia maksudkan. Namun, aku kesal semua yang dia ucapkan terlalu tepat. Bagiku dia memang bukan pengganti, tapi satu-satunya, itu pun hanya karena Diani telah pergi. Jadi kurasa dia benar kalau merasa dirinya dijadikan pengganti.


"Mengapa mengerti tentang wanita itu rumit sekali?!" keluhku setengah kesal.


"Apa yang harus kulakukan?" lanjutku sambil menghela napas panjang.


"Mungkin anda bisa memulai dengan meminta maaf pada nona, tuan!" aku sangat hapal dengan suara ini, dia sudah seperti seorang ayah, kakak, dan juga teman untukku. Tangan kanan yang paling kupercaya, Lerian.


"Minta maaf?" aku berpikir sejenak. "Tapi aku tak pernah merasa membuat kesalahan," lanjutku setelah diam beberapa menit.


Lerian yang berdiri di depanku tersenyum kecil. "Meminta maaf tak hanya dilakukan saat seseorang berbuat salah. Namun, juga sering dilakukan untuk menunjukkan kalau kita menyesal dan menghargai seseorang, tuan!"

__ADS_1


"Mungkin perasaan nona akan sedikit tenang kalau anda meminta maaf. Dan, jika nona belum mau terikat, anda bisa mencoba mengikat perasaan nona secara perlahan."


"Hati yang dipaksakan akan merasa lelah, tuan. Anda pasti tidak mau kalau nona berubah seperti boneka tanpa jiwa, bukan?"


Aku berpikir dalam diam, ucapan Lerian sangat benar. Yang kuinginkan seseorang yang bisa kuajak bicara dan bertukar pikiran, bukan manusia yang seperti boneka. "Baiklah, akan kulakukan. Setidaknya sesekali aku harus merendah untuk mencapai apa yang kuinginkan!"


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Kini aku berdiri diam di depan pintu kamar Diana, tak lupa aku membawa beberapa cemilan manis di nampan yang kubawa ini, anggap saja sebagai sogokan.


"Sayang, ini aku," panggilku dengan suara yang terdengar aneh di telingaku sendiri. Kalau bukan Lerian yang menyuruh untuk berbicara lebih halus, aku tak akan mau melakukannya. Ini bukan seperti diriku yang biasanya.


Pintu di depanku akhirnya terbuka, dapat kulihat gadis di depanku sedang cemberut meski tak terlalu kentara. "Boleh aku masuk, hmm?" tanyaku, aku merasa sudut bibirku berkedut menahan diri agar tak tersenyum.


"Terserah Niel!" katanya membuka pintu kamarnya lebih lebar, sepertinya ini sudah termasuk diizinkan, bukan.


"Terima kasih, gadisku!" aku melangkah masuk, dapat kuhirup aroma yang sama yang menguat dari Diana di dalam kamar ini. Baru beberapa menit dia di dalam dan dia sudah menyebar aroma segar yang sangat kusuka mulai saat ini!


"Lihat apa yang kubawa, cicipilah meski sedikit. Tadi kamu tak menghabiskan makanan kamu dan langsung pergi begitu saja," kataku memulai percakapan.

__ADS_1


"Tak apa, aku tak akan sakit hanya karena tak menghabiskan makananku. Aku sudah biasa menahan lapar!" balasnya cepat.


Aku membelalakkan mataku mendengar penuturan gadis di depanku ini. "Apa? Kenapa kamu harus sampai menahan lapar? Apa di rumahmu tak ada makanan yang bisa dimakan, hah?" tanyaku lupa menjaga nada suaraku.


Kulihat Diana membuang pandangannya ke lain arah, dia menghindar untuk menjawab rupanya. "Maaf, tak seharusnya aku berteriak padamu. Aku minta maaf untuk yang sekarang dan yang tadi, saat kita di ruang makan."


"Jika kamu tak suka dengan panggilan semacam itu, aku janji tak akan memanggil seperti itu lagi mulai sekarang. Tapi setidaknya beri aku kesempatan untuk menunjukkan kalau aku benar-benar tak meminta kamu menjadi pengganti sama sekali." jelas apa yang kuucapkan merupakan kebohongan meski setengah benar. Aku memang menginginkan dirinya, ingin mengikat dia dan mengurungnya dalam sangkar emas yang kubuat. Hanya aku yang bisa melihat dirinya, hanya aku yang dia miliki sebagai sandaran dalam hidupnya. Namun, aku tak bisa mengatakan seperti itu atau dia akan semakin tak suka padaku.


Kulihat Diana terdiam sebelum dia menghela napas panjang. "Baiklah, mari kita mulai dengan sebuah pertemanan, Niel. Dan lupakan dulu rencana pernikahan hingga aku yakin dan bisa menerima dirimu, setidaknya begitu keinginanku."


"Mari berteman," ucapku senang. Itu bukan awal yang buruk dan aku memiliki banyak waktu untuk menunggu. Menunda bukan berarti membatalkan semuanya. Hanya menggeser ke waktu yang lebih jauh, atau mungkin bisa lebih cepat nantinya.


"Jadi, apa yang kamu rencanakan untuk ke depannya, Di?" memanggil dirinya dengan nama kecil terdengar cukup manis juga rupanya.


"Jujur, aku tak tahu. Aku terbiasa hidup terkurung dan tak mengerti apa yang harus kulakukan kalau aku keluar. Aku juga tak mengerti bagaimana bicara dengan orang yang belum aku kenal, Niel."


"Jadi itu alasan kamu selalu diam dan baru bicara beberapa saat lalu. Apa kamu sudah mulai merasa mengenal diriku? Jadi, bisakah kita menikah lebih cepat?" aku melemparkan candaan. Lihat wajah gadisku memerah karena Mali, sepertinya tak semua jalan tertutup.


"Hanya bercanda, aku kan sudah janji tak akan memaksa, kawan!" lanjutku tak ingin lanjut menggoda gadisku yang manis ini.

__ADS_1


Aku berharap ke depannya akan selalu ada kebahagiaan saat aku bersama dengan gadisku, hanya kebahagiaan tanpa ada duka sedikit pun yang boleh menggores harinya.


__ADS_2