Coretan Tangan Iseng.

Coretan Tangan Iseng.
Pengganti.


__ADS_3

Namaku Diana, gadis yang terkurung di kamarnya dari kecil hingga saat ini. Tak ada kebahagiaan yang pernah menyentuhku sekali pun. Aku selalu dihina dan direndahkan, padahal aku juga anak kandung ayah dan ibuku. Entah apa kesalahan yang aku buat sehingga aku mendapatkan perlakuan semacam ini dari kedua orang tuaku. Hidup tanpa kasih sayang, dikurung sejak kecil, pelayan yang tak menghormatiku sama sekali. Masih banyak yang lainnya yang terlalu menyakitkan untuk dijabarkan.


"Kamu anak pembawa sial! Kamu hanya membuat kakak kamu terluka saja. Jangan berani-berani keluar dari ruangan ini tanpa izin dariku?!" aku berkedip bingung ketika ayahku mengucapkan kata seperti itu dengan penuh amarah. Kulirik ibuku meminta perlindungan dari beliau, tapi yang kudapatkan hanya dengusan kesal dan wajah yang terlihat enggan menatapku balik.


"Turuti saja ucapan ayahmu, sana!" kata ibuku membuka mulut, beliau berbicara dengan nada tak peduli.


"Baik." aku menurut meski tak tahu apa kesalahan yang kuperbuat. Itulah awal aku terkurung di tempat ini, aku hanya melihat matahari dari bingkai jendela yang tak bisa terbuka. Pelayan yang semena-mena kadang tak mengantarkan makanan untukku tepat waktu. Aku adalah nona muda yang terlupakan dan sangat mudah dirundung, bahkan oleh seorang pelayan kecil.


Berbeda dengan diriku yang terlupakan, kembaranku, Diani hidup dikelilingi dengan segala hal-hal indah. Tawa Inda selai menghiasi bibirnya, sesekali aku bisa melihat kembaranku itu berlarian di taman. Wajah yang berseri, kuyakin dia sedang tergelak bahagia saat itu. Aku menunduk dan hanya bisa tersenyum getir memikirkan diriku sendiri.


Hari demi hari berlalu, aku mendengar kalau rumah ini akan mengadakan pesta ulang tahun nona muda mereka yang ke-17. Aku segera membuang segala harapan kalau aku juga akan dapat hadir di acara itu. Apa aku masih termasuk nona muda, aku bahkan lebih rendah dari semut yang hanya sekedar lewat. Mungkin debu di rumah ini pun lebih berharga dari pada diriku, Diana.


Aku hanya ingin segera keluar dari rumah ini, aku ingin merasakan hembusan udara bebas, aku ingin melihat keindahan alam. Aku terlihat baik-baik saja di luarnya, padahal nyatanya aku terlalu lemah. Kulitku sangat pucat karena tak pernah terbakar matahari, rambutku yang panjang sama sekali tak pernah diurus. Hanya kusisir tanpa pernah dipotong sekali pun.


Aku bergegas ke arah pintu saat mendengar suara berisik dari lorong, begini lah cara aku mendengar kabar dan apa saja yang terjadi di luar kamarku ini.


"Kamu sudah dengar belum? Katanya tuan membelikan baju yang sangat-sangat mahal dan penuh hiasan permata untuk nona kita. Pasti nona akan terlihat semakin menawan!" gosip pertama sudah dimulai. Aku melihat baju yang melekat di badanku, sudah berapa lama kira-kira baju ini menemaniku. Sepertinya aku tak pernah mendapat baju baru selama hidup di sini.


"Itu belum seberapa. Rumor yang beredar mengatakan kalau orang paling tampan dan kaya menginginkan nona muda sebagi pendampingnya. Nona muda sangat diberkahi!" kakakku dapat jodoh rupanya, kuharap dia bahagia.

__ADS_1


"Tapi tuan sepertinya tak setuju, bukan?"


"Gimana mau setuju, kedua keluarga itu kan bermusuhan sejak lama!


"Sudah, sudah, itu semua bukan urusan kita sebagai pelayan. Kita cuma harus bekerja dengan baik saja, biarkan orang di atas kita yang memikirkan masalah ini!"


Aku kembali duduk di depan jendela, menatap jauh ke arah taman. "Sampai kapan aku harus begini? Sebenarnya apa yang sudah aku lakukan hingga dikurung seperti ini? Aku disuruh introspeksi, disuruh merenung dan menyesali. Namun, aku tak tahu apa yang harus kurenungkan dan sesali sebenarnya! Kuatkan aku, ya Tuhan. Jangan biarkan aku mengeluh hanya karena hal ini!"


Seminggu kemudian ayahku datang ke kamarku, kukira aku akan dibawa keluar dari ruangan ini. Harapan dan kebahagiaan seketika membuncah di hatiku. Namun, semua harus pupus saat ayahku melayangkan tangannya ke pipiku. "Kamu puas sekarang, kan?" teriaknya menggema.


"Tentang apa, ayah? Saya selalu terkurung di sini dan hanya sedikit yang saya tahu tentang yang terjadi di luar. Itu pun kalau saya bisa mendengar apa yang terjadi dari pembicaraan para pelayan, ayah. Kalau ayah ingin bertanya, saya mohon jelaskan dulu. Saya tak paham apa maksud ayah kalau saya 'Puas' saat ini!" jantungku berdebar kencang, siap menerima berbagai makian dari ayahku. Hanya saja aku ingin tahu sebenarnya apa maksud ayah menamparku seperti tadi.


"A–a–apa? Bagaimana itu mungkin terjadi? Baru saja kakak merayakan ultahnya dengan sangat meriah, bukan? Apa yang terjadi pada kakak, yah?" aku menangis tak berdaya, meminta penjelasan dari ayah kandungku.


"Semua pasti karena kamu! Kamu pasti mengutuk Diani karena merayakan ulang tahunnya sendirian. Kamu pasti iri dan berharap anakku menghilang agar kamu bisa menggantikan tempatnya, ya kan?!"


Aku mengepalkan tanganku, siap melayangkan tinju seandainya aku tak ingat kalau yang di depanku ini adalah ayahku. "Saya bersumpah tak pernah melakukan atau berbuat seperti yang ayah tuduhkan. Saya malah berharap Kak Diani bisa bahagia selamanya!" ucapku menahan amarah.


"Dan ayah, saya juga anak kalian. Apa pun yang terjadi itu kebenaran yang tak bisa diingkari! Saya tak pernah ingin menggantikan tempatnya, saya juga tak pernah berharap keburukan akan jatuh pada kembaran saya. Saya menerima hukuman ini walau saya tak tahu apa kesalahan yang saya buat. Saya tak pernah mengeluh atau protes, saya juga tak meminta diperhatikan dan terus diam menerima semuanya. Tapi kenapa saat hal buruk terjadi, selalu saya yang disalahkan?! Kenapa, yah? Kenapa?"

__ADS_1


"Jangan pernah berharap kamu bisa keluar dari sini! Kau akan menghabiskan sisa waktumu tetap terkurung seperti ini?!" pintu yang menjadi penghalang diriku dengan dunia luar kembali terkunci, ancaman yang jelas akan dilakukan. Aku seperti pendosa yang tak bisa dimaafkan saja rasanya.


Sebulan berlalu, di tengah malam kudengar teriakan menggema dimana-mana. Ingin rasanya aku menerobos keluar, tetapi aku tak bisa. Pintu ganda ini depanku ini tertutup dan terkunci dengan rapatnya. Akhirnya aku hanya menatap diam, terlalu malas untuk memikirkan apa-apa. Mungkin saja ayah atau ibuku yang sedang membuat keributan karena belum merelakan kepergian Diana. Sampai sekarang pun aku belum jelas bagaimana saudara kembarku itu bisa meninggal. Aku hanya dilimpahkan kesalahan bagai pendosa tanpa dijelaskan apa kesalahan yang sudah dilakukan.


Aku menoleh saat pintu yang mengurungku didobrak dengan kasar. Namun, aku tetap duduk tanpa ada niat bergerak dari kursi yang ada di depan bingkai jendelaku.


"Tuan, ada seseorang di sini. Apa harus saya bereskan juga?" sebuah suara yang tak pernah kudengar menyapa indera pendengaranku.


"Lakukan saja dan jangan banyak bicara?!" suara lain menyahut dengan nada dingin dan angkuh. Seolah dia yang paling berkuasa.


"Baik, tuan!" seorang pria dengan sebilah pisau di tangannya mendekati diriku. Apa itu pisau, tapi terlalu panjang untuk dikatakan kalau itu pisau.


"Maaf nona, saya hanya melakukan apa yang disuruh majikan saya. Jangan membenci saya!" katanya membuatku mengernyitkan dahi, sedikit bingung.


"Sial, baru kali ini aku merasa bersalah. Wajahnya terlalu polos dan tak tahu apa-apa," umpat pria di depanku seraya menghela napas kasar.


"Tak apa, lakukan saja agar anda tak ditegur dan dimarahi oleh majikan anda, tuan." aku melihat mata pria di depanku itu terbelalak kaget, sepertinya dia terkejut dengan apa yang aku katakan. Padahal niatku hanya ingin menenangkan dirinya agar tak bingung.


"Maaf sekali lagi, nona!" pisau di tangannya melayang. Ah, apa ini akhirku. Aku menutup mata sembari tersenyum kecil. Mungkin dengan begini aku bisa segera terbebas dari tempat ini, bukan.

__ADS_1


"BERHENTI!" sebuah suara menghentikan semuanya. Sedikit lagi padahal leherku akan terlepas dari tempatnya. Ah, ini pun tak berhasil rupanya. Pemilik suara tadi melangkah mendekat, menarik daguku agar aku mendongak ke atas. "Aku menemukannya!" suara yang rendah, mata yang berkilat berbahaya. Kurasa aku akan menghadapi masalah lainnya lagi sekarang.


__ADS_2