Coretan Tangan Iseng.

Coretan Tangan Iseng.
Pengganti 2.


__ADS_3

Suara ribut di tengah malam, pintu yang mengurungku di dobrak keras. Akhir yang kukira akan kudapat, harus gagal hanya karena seorang pria yang tak kukenal. Dia berdiri di depanku dengan tatapan yang berbahaya, senyum pemangsa menghiasi bibirnya. Aku mencoba menjaga ketenangan, dengan berani balas menatap tepat ke arah matanya.


"Aku menemukannya?!" suara rendahnya memecah keheningan.


"Jangan ganggu dia, bereskan semua selain dirinya!" para pria bersenjata yang mengelilingi kami langsung berbalik melakukan perintah pria di depanku.


"Siapa namamu, sayang?" tanyanya dengan lebih ramah.


"Ana, Diana, tuan."


"Walaupun sedikit rapuh dan terlalu kurus, tetapi kamu sangat cantik dan berani, sayangku!" aku tak tahu itu pujian atau termasuk hinaan untukku.


"Maukah kau ikut denganku, hmm?" suara yang rendah, tetapi tetap terdengar lembut, baru kali ini aku mendengar seseorang berbicara seperti itu padaku. Aku mengangguk tanpa sadar, kupikir tak ada juga yang akan peduli akan hidupku. Jadi tak masalah kalau aku ikut dengan pria di depanku ini, sekali pun dia seorang iblis itu tak masalah. Dari pada aku harus terkurung sepanjang waktu di sini.


"Bagus, gadis pintar!" pujinya terdengar tulus, aku melihat dia menarik sudut bibirnya meski sangat tipis.


"Ayo kita pergi dari sini," ajaknya seraya mengulurkan tangan ke arahku. Aku pun menerima uluran tangannya, baru kali ini ada yang membantu diriku, padahal aku pun belum tahu siapa dirinya. "Terlalu kecil, kamu harus makan yang banyak agar cukup kuat, sayang. Bukannya aku tak suka, sekarang pun dirimu terlihat sempurna. Hanya saja, aku tak ingin kamu terbang terbawa angin saking kurusnya." pria itu terkekeh kecil dan aku hanya diam saja.


"Selesaikan semuanya, ratakan dengan tanah. Aku akan pulang dengan gadis kesayanganku sekarang!" titahnya pada pria yang ada di depan pintu kamarku, mungkin itu salah satu orang kepercayaannya.


"Baik, tuan. Serahkan saja kepada kami!"


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Selepas kepergian bos mereka, para anak buah yang ditinggal di rumah orang tua Diana pun sibuk mengurus semuanya sesuai dengan perintah atasan mereka. Lakukan satu saja kesalahan kecil dan mereka pasti tak akan bisa melihat matahari besok, itu hukuman yang paling sering bos mereka gunakan untuk orang-orang yang menurutnya tak berguna.


"Kalian lihat bos kita tadi, bukan? Beliau tersenyum, bayangkan tersenyum, loh?!" ucap salah satu dari mereka yang tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Aku gak percaya dengan apa yang kulihat tadi!" ucap yang lain menimpali.


"Itu urusan tuan, jangan ikut campur. Sudah untung kalau suasana hati tuan kita baik, kalau buruk, kita juga yang kena imbasnya!"

__ADS_1


"Tepat sekali, jadi lebih baik kita lakukan saja tugas kita dengan bersih hingga tuntas. Kalau tidak, siap-siap saja?!" yang satu ini memperagakan lehernya terpotong dengan gerakan tangannya.


Tak ada lagi yang bersuara, semua sibuk mengurus sisa-sisa penghuni yang ada di rumah ini. Di penghujung hari, warna merah melahap segalanya. Menjadikan bangunan megah itu rata dan hanya tersisa puing-puingnya saja.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


"Kita sudah sampai, sayangku. Ayo, turun," ajaknya. Aku hanya ikut saja tanpa membuka mulut. Di depanku terlihat rumah yang sangat besar dan megah, apa ini masih bisa di sebut rumah. Itu terlihat seperti istana yang ada di buku dongeng yang pernah kulihat saat aku masih sangat-sangat kecil dan belum dikurung.


"Aku yakin kamu memiliki banyak pertanyaan, bukan?" katanya lagi.


"Aku akan menjawab semua, tapi kamu harus membersihkan diri terlebih dulu dan makan sesuatu setelahnya!" apa mungkin ini bujukan agar aku mau mandi dan makan sesuatu.


"Saya ..., tak ingin menanyakan satu pertanyaan pun, tuan," balasku yakin. Apa yang harus kutanyakan, aku terlalu malas berpikir saat ini.


Langkah pria yang belum kuketahui namanya itu terhenti. "Meski itu sesuatu tentang keluargamu?" suaranya terdengar lebih rendah.


"Ya, tuan!"


Aku terdiam sebentar, baru kemudian menjawab. "Kalau tuan mengatakannya, saya akan mendengarkan. Tapi kalau tidak, ya tidak perlu, tuan!"


"Ha-ha-ha, bagus-bagus. Gadisku yang pemberani dan pintar!" sepertinya suasana hatinya senang saat ini.


"Bantu dia mandi, berikan pakaian yang nyaman atau apa pun yang dia pilih!" dia berbicara dengan dua orang perempuan yang terlihat masih muda, mereka memakai baju seragam yang terlihat bagus. Mungkin itu seragam pelayan di rumah ini.


"Baik, tuan. Serahkan saja pada kami!" ucap keduanya tersenyum ramah, senyum yang tak pernah kudapat sejak aku dikurung.


"Dan, perlakukan dia dengan baik. Jangan buat masalah atau kalian akan menanggung akibatnya! Paham?"


"Kami paham, tuan!"


"Halo, nona. Saya Aria dan dia Riri, kami yang akan melayani nona saat ini hingga pelayan tetap untuk nona dipilih oleh tuan."

__ADS_1


Aku mengangguk dan mencoba tersenyum meski sedikit terpaksa, kebaikan seperti ini tak pernah kuterima dan aku tak tahu bagaimana aku harus bereaksi. "Bagaimana kalau kita bersiap, nona? Selagi saya menyiapkan air hangat untuk mandi anda."


"Ya, terima kasih," kataku pelan.


"Sudah tugas kami, nona." pelayan yang bernama Riri masuk ke sebuah ruang, mungkin itu kamar mandi.


"Apa ada yang tak nyaman, nona?" tanya Aria kepadaku.


"Emm, sebenarnya saya bukan seorang nona dan kalian tak perlu memanggil saya begitu. Panggil saja Diana," ucapku ragu.


"Itu tak mungkin, nona. Tuan sudah menitahkan agar kamu sopan dan bersikap lembut dengan anda. Kami tak ingin mendapat hukuman dari tuan, jadi tolong biasakan saja, nona."


Riri pun datang dan mengatakan air hangatnya sudah siap, setelah mandi aku disuruh memilih gaun yang ingin aku kenakan dari banyaknya koleksi gaun di kamar ini. "Bisakah, saya mendapat seragam seperti yang kalian kenakan saja. Saya rasa itu lebih cocok dari pada semua gaun indah yang menggantung di sana!" pintaku memelas. Aku tak tahu itu milik siapa, aku juga yakin kalau semua gaun itu tak muat di badanku. Makanya aku meminta baju yang sama dengan mereka berdua saja.


"Apa itu boleh?" tanya Riri berbisik pelan dengan Aria.


"Tuan berkata berikan apa pun yang nona pilih dan mau, sepertinya tak apa," balas Aria mengingat pesan tuannya.


"Akan kami ambilkan yang sesuai dengan ukuran anda, nona. Mohon tunggu sesaat!" Riri berlalu pergi setelah aku menganggukkan kepala.


Beberapa saat berlalu, aku memakai baju yang sama dengan Riri dan Aria. Aku tersenyum tipis, ini sangat nyaman menurutku. "Terima kasih!"


"Sama-sama, nona."


"Mari kita ke tempat tuan!"


Aku mengikuti Riri dan Aria, kami sampai di depan ruang berpintu ganda. Aria membukakan pintu dan menunduk singkat. "Tuan, nona sudah selesai dan kami langsung mengantar nona kemari," katanya.


"Bagus, kemarilah gadisku. Kita makan dulu!"


Aku melangkah maju dengan pelan, mendekat ke arah pria itu. Dia tas meja penuh dengan berbagai makanan mewah. "Dan apa yang kalian pakaikan pada gadis kesayangaku? Kalian sengaja, hah?!" suaranya meninggi, aku segera menangkap lengan pria itu saat dia hendak melangkah mendekati Riri dan Aria. Aku merasa akan ada hal buruk yang terjadi kalau aku membiarkannya.

__ADS_1


__ADS_2