
Setelah mandi dan memilih baju yang aku inginkan, aku diantar ke ruang makan oleh kedua orang yang membantuku tadi. Riri dan Aria memimpin jalan. Ruangan yang luas degan meja panjang di tengahnya, di atas meja tersedia berbagai makanan yang terlihat menggugah selera. Tak pernah aku melihat makanan sebanyak itu sebelumnya. Sayangnya pria itu terlihat marah dengan apa yang aku kenakan, saat dia akan menghampiri Riri dan Aria, aku menahan lengannya. Mencegah sesuatu yang kurasa akan terjadi dan itu sepertinya adalah hal buruk.
Senyum tipis terbit di sudut bibir pria itu, seolah wajah marahnya tadi hanya ilusi yang tak pernah terjadi. "Kenapa, hmm?" tanyanya lembut.
"Sa–sa–saya lapar, tuan ...," cicitku ragu, aku mengatakan sembarang alasan tanpa pikir panjang, tapi aku tak berbohong kalau aku memang merasa lapar.
"Baiklah, kita makan dulu," putusnya membuatku bernapas lega.
Pria itu melirik tajam Riri dan Aria. "Kita akan bicarakan ini nanti, lihat bagaimana dan apa yang akan kalian dapatkan!" lanjutnya dingin.
"Tuan, kalau mereka berdua bersalah, tolong maafkan mereka. Mereka berdua sangat baik pad saya, tuan." tuan itu menatapku sesaat lalu tersenyum singkat.
"Baiklah, aku akan memaafkan mereka yang telah memberikan kamu baju seperti itu, jika kamu mau memperbaiki panggilan kamu padaku. Bagaimana, hmm?"
Aku menatap pakaian yang kupakai, tak ada yang salah menurutku. "Tapi, tuan, saya yang memilih sendiri untuk memakai ini," cicitku membela, aku tak ingin orang lain disalahkan atas perbuatanku.
"Apa pun itu, semua tetap tanggung jawab mereka berdua. Jadi, maukah kamu mengubah panggilan untukku?"
Aku mengangguk setuju. "Saya harus memanggil anda bagaimana, tuan?" tanyaku menyetujui syarat yang dia berikan agar dia mau memaafkan Riri dan Aria.
"Panggil aku, Dan, Daniel, atau Niel. Terserah kamu pilih yang mana, kamu juga bisa panggil sayang kalau mau!" katanya mungkin untuk panggilan terakhir dia hanya bercanda.
"Niel saja," aku memilih untuk memanggilnya Niel saja.
"Awal yang cukup bagus untuk saat ini," katanya senang, cepat sekali suasana hatinya berubah.
"Kalian berdua pergilah, layani gadisku dengan lebih baik ke depannya. Ingat, kalian terhindar dari hukuman karena kebaikan hati gadisku ini?!"
"Baik, tuan. Kami akan mengingatnya!" Riri dan Aria bergegas pergi setelah menjawab ucapan majikan mereka dengan sopan.
__ADS_1
"Bisakah kita makan sambil berbicara, hmm?" tanya Daniel, suaranya terdengar lebih nyaring karena hanya ada kami berdua di ruangan yang luas ini.
"Saya mendengarkan!" jawabku cepat, mungkin ini pengaruh dan sudah menjadi kebiasaan sejak saat aku masih berada di bawah tekanan orang tuaku.
"Jangan terlalu formal, sayang. Bicaralah sesantai yang kamu mau." aku mengangguk mengiyakan.
"Baik!" balasku.
"Jadi, berapa umurmu sekarang?" sepertinya sesi tanya-jawab dimulai sekarang.
"17."
"Sama dengan umur Diani? Kalian berdua kembar?"
"Niel kenal Kak Diani?" aku sedikit penasaran kalau boleh jujur.
"Kenal? Ha-ha-ha, kata itu tak terlalu cocok untuk aku, sayang! Aku bukan hanya kenal Diani, tetapi aku pemuja kembaran mu itu! Dan alasan mengapa kamu bisa di sini sekarang, itu hanya karena wajah kalian yang serupa." ah, sekarang aku mulai paham. Daniel begitu memuja kakak, sehingga dia membawa aku yang mirip dengan kakak sebagai pengganti setelah kepergian kakakku.
Aku menghela napas panjang, bingung harus menjawab seperti apa. "Sebenarnya ..., aku juga tak tahu apa alasan aku dikurung. Yang kuingat hari itu ayah datang dengan wajah murka dan menarikku ke kamar yang aku tempati, setelahnya aku tak pernah keluar selangkah pun dari sana!" aku ku jujur.
"Apa kamu tak ingin tahu?" tanya Daniel menanggapi.
Aku menggeleng lemah. "Buat apa? Tak ada yang berubah meski aku tahu, kan?"
Sekarang giliran Daniel yang mengangguk. "Putusan yang tepat! Itu baru gadisku?!" katanya seolah bangga.
"Dan, hmm, kenapa kamu kadang memanggilku 'Gadisku'?"
"Kenapa? Kamu tak suka, hmm?" balasnya menimpali pertanyaanku dengan cepat.
__ADS_1
Aku menggeleng pelan. "Aku hanya ingin tahu saja. Apa alasannya karena aku pengganti? Makanya aku mendapat panggilan yang seharusnya disematkan untuk Kak Diani."
"Gadisku yang manis dan lucu, jika kamu berkata seperti itu, kamu tak terlihat lucu lagi di mataku. Ingat, kamu bukan pengganti! Kamu adalah satu-satunya! Kenapa? Karena Diani telah pergi dan hanya tersisa dirimu yang bertahan!"
Sial, apa bedanya itu dengan pengganti. Dia baik, tapi kebaikan yang dia berikan tak seharusnya ditujukan untukku. Itu semua milik kakakku yang telah tiada, aku merasa bersalah mendapatkan itu atas namanya.
"Kita akan menikah setelah kamu berusia delapan belas. Aku akan mempersiapkan semuanya dan yang perlu kamu lakukan hanyalah makan, tidur, dan bermain sepuas hatimu!"
"Ya? Menikah?" aku tak pernah membayangkan aku akan berdiri di altar suatu saat nanti, aku juga tak pernah bermimpi menikah dengan seseorang. Namun, aku juga tak mau pernikahan yang tak didasari perasaan seperti ini.
"Kenapa? Apa setahun terlalu lama, hmm?"
Gila, pria di depanku ini pasti sudah gila. "Kalau boleh jujur, aku tak terlalu mengenal Niel. Jadi ..., kamu pasti mengerti maksudku, kan?"
"Pftt, apa maksudmu kamu tak memiliki perasaan padaku, hmm?" aku mengangguk dan tak menggubris sama sekali tawa mengejek yang tertahan darinya.
"Masih ada waktu untuk membuat itu terjadi, sayangku. Dan aku yakin itu akan berhasil," lanjutnya penuh keyakinan.
Aku menundukkan kepalaku. "Tapi aku tak ingin dianggap pengganti ...," cicitku bergumam sangat-sangat pelan.
"Sudah kukatakan kamu bukan pengganti, sayang. Kamu satu-satunya untuk selamanya?!" sial, pendengarannya tajam sekali. Kenapa dia harus mendengar gumaman yang kupikirkan tadi coba.
"Jika kakakku masih ada, tak mungkin aku yang berada di sini, di depan Niel, kan?" entah keberanian dari mana yang kukumpulkan untuk melontarkan pertanyaan seperti itu.
Wajah Daniel mengeras, rahangnya mengetat diiringi tatapan matanya yang menusuk ke arahku. Dia menepuk tangannya dua kali, kemudian pintu ruangan yang kami tempati terbuka. "Antar nona kalian untuk beristirahat, dia sepertinya sudah kenyang sehingga mengajukan pertanyaan yang tak berarti?!" Daniel melangkah cepat dan berlalu dengan pandangan dingin.
"Tak berarti? Tapi itu penting untukku?" ucapku keres kepala.
"Apa yang kalian tunggu? Bawa dia?!" teriak Daniel murka.
__ADS_1
"Baik, tuan!" Riri dan Aria segera menuntunku untuk pergi dari ruangan itu. Selepas kamu pergi, suara barang-barang berjatuhan terdengar dari dalam sana, mungkin Daniel mengamuk dan melempar barang-barang yang ada untuk melampiaskan amarahnya.
"Sial! Kenapa susah sekali bicara dengannya. Tidak adik, tidak kakak. Semuanya keras kepala?!" amuk Daniel mengumpat kasar.