Coretan Tangan Iseng.

Coretan Tangan Iseng.
Pukul Dua Belas Malam.


__ADS_3

Lagi, kali ini aku terbangun untuk kesekian kalinya dengan napas terengah. Mimpi yang sama dan menakutkan kembali hadir, membuat tidurku tak nyenyak. Aku pun enggan menutup mataku kembali. Mimpi buruk yang sama yang selalu menghantuiku beberapa malam ini.


Aku menoleh, menatap jam di atas nakas. Ahh, ini masih tengah malam. Jam dua belas tepat, tak kurang dan tak lebih satu detik pun. Bagus sekali, aku tak bisa tidur lagi dan ini masih tengah malam. Apa yang harus kulakukan untuk menunggu pagi menjelang.


Aku menapakkan kakiku ke lantai yang terasa dingin, sengaja diriku tak memakai alas kaki. Aku berpikir sepertinya aku akan bisa tidur jika aku mencari udara segar, bukankah segar, dingin, atau sejuk adalah sesuatu yang memiliki arti yang sama. Menurutku sih iya.


Kubuka pintu kamarku dengan teramat pelan, aku tak mau menimbulkan keributan dan membuat seisi rumah mengetahui kalau aku tak bisa tidur. Memang tak ada yang salah dengan hal itu, tetapi aku terlalu lelah menghadapi kekhawatiran berlebih dari orang di sekitarku, terkhusus ayah dan ibuku.

__ADS_1


Menikmati semilir angin malam yang membelai tubuhku, aku sungguh menikmati ini. Dan yah, memang ini yang kubutuhkan setelah aku bermimpi buruk.


Dirasa sudah cukup, beberapa jam kemudian aku pun kembali ke kamarku. Hanya agar tak ketahuan oleh keluargaku kalau aku diam-diam keluar dari kamar di tengah malam. Pastinya akan ada keributan yang tak penting yang akan terjadi kalau sampai ketahuan.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Pagi kumulai seperti biasa, setelah selesai mandi dan berpakaian, aku turun untuk sarapan bersama keluargaku. "Pagi, sayang!" aku tersenyum membalas sapaan dari ayahku.

__ADS_1


"Kamu gak bangun di tengah malam dan curi-curi ke luar lagi, kan, Des?" kakakku menyela sebelum aku sempat membalas pertanyaan ibuku.


Aku menarik napas pelan sebelum membuka mulutku untuk menjawab ketiga keluargaku yang perhatiannya terlalu berlebihan padaku. "Pagi juga ayah! Tidurku sangat-sangat nyenyak, ma. Dan jawabannya tidak untuk pertanyaan dari kakak?!" bagus, di pagi hari yang cerah ini aku mengawali semua dengan kebohongan kecil. Astaga, kapan aku bisa melewati hari tanpa takut mereka akan khawatir padaku.


"Bagus, kalau begitu ayo kita sarapan!" aku pun tersenyum kecil seraya mengangguk pada ibuku.


Untuk informasi, namaku Desi, Desi Puspasari. Aku anak bungsu di rumah ini. Kalian tak akan bisa membayangkan betapa overnya keluargaku pada diriku. Ini dilarang dan itu dilarang, alasannya hanya karena takut aku terluka atau jatuh sakit. Sedikit saja aku demam, mereka akan membawaku ke rumah sakit.

__ADS_1


Oke, bukannya tak senang. Hanya saja, aku merasa semua yang mereka lakukan terlalu berlebihan. Aku sudah dewasa, sudah kepala dua. Namun, perhatian mereka masih selayaknya ketika aku berusia 6 tahun. Dan aku tahu alasannya dengan sangat jelas mengapa mereka berbuat seperti itu sampai sekarang, itu semua dikarenakan aku pernah nyaris diculik saat ikut ibuku berbelanja. Itu jugalah yang menjadi penyebab mimpi burukku selalu hadir. Aku lelah, tetapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku juga tak mau bercerita pada keluargaku, aku tak mau membuat mereka lebih khawatir daripada saat ini.


Waktu terus berlalu dan aku yakin mimpi buruk yang selalu hadir setiap malamku pun pasti akan segera berahir, yah seiring berjalannya waktu. Itulah harapan terbesar dalam hidupku yang sederhana ini.


__ADS_2