
Hai, namaku Lea, untuk usia, kuharap kalian tak bertanya. Kenapa, karena aku benci memberitahukan umur pastiku, bukan hanya aku, kurasa semua perempuan di dunia ini tak suka kalau usianya dipertanyakan.
Aku bukan orang berada, rumah pun hanya kontrakan petak kecil saja. Tapi aku cukup bahagia hidup bersama-sama dengan keluargaku. Ada ibu yang baik hati dan sedikit cerewet, ada adik yang pintar-pintar bodoh, tetapi sok tahu segala hal. Dua pasang malaikat kecil pelengkap hidupku, dan tentu saja kalau ada malaikat kecil, berarti ada sosok pendamping dalam hidupku.
Apa aku belum bilang kalua aku sudah menikah, kalau iya maaf, mungkin aku sedikit lupa karena kebiasaan melupakan statusku.
Mari kuperkenalkan keluargaku pada kalian, dimulai dari ibuku tercinta. Nama ibuku iyalah Nurhasanah, biasa dipanggil Bu Nur. Baik, ramah, dermawan, kalau marah suka meledak-ledak.
Kedua, suamiku yang gak tampan tapi gak jelek juga, seperti lirik lagu 'Yang sedang-sedang saja' tepatnya. Orangnya penyabar, gak pernah berteriak marah apalagi memukul. Urusan cucian dia yang menanggung, katanya aku hanya harus fokus dua malaikat kami saja. Bukankah itu kerena, menurutku sih keren banget malah. Kalua soal kesetiaan masih dipertanyakan, tapi sampai detik ini dia setia kok, semoga ke depannya juga tetap setia.
"Ketiga, adikku yang paling hitam manis ala kereta api. Namanya, Nasmi. Orangnya gak bisa diam, setiap detik selalu saja ada yang keluar dari mulutnya. Julukan kereta api tanpa henti cocok sekali untuk adikku ini. Dia gak pintar, tetapi selalu sok pintar dalam segala hal. Padahal yang diandalkan ya cuma Mbah Gugel yang ada di ponselnya.
Keempat anak laki-laki aku, namanya Ardi. Sedikit penakut, cengeng, dan hobi makan. Namun, entah mengapa dia gak pernah gemuk meski makan sebanyak apa pun. Bisa jadi itu faktor turunan kali ya.
Kelima anak perempuan aku, namanya cukup singkat dan gampang, Arti, itu nama yang aku buat untuk dia tepat saat dia lahir. Bocah kecil peramai suasana dan selalu berbuat seenaknya. Lucu, imut, gemesin. Ini menurut survey sekampung loh ya, bukan pendapat pribadi aku sebagai orang tuanya. Orangnya kadang-kadangan, kadang berani, kadang juga takut. Kadang pintar, kadang juga kumat malas mikirnya. Yah, pokoknya kadang-kadangan itu tadi lah.
Apa ada yang bertanya ke mana ayahku. Dia minggat, menghilang, memiliki keluarga baru. Bertemu, mungkin itu lebih sulit dari mencari jarum di tumpukan jerami. Lupakan dia, lagi pula dulu aku juga memiliki ayah pengganti, mau tahu bagaimana dia. Nanti aku ceritakan.
__ADS_1
Pagi yang biasa, dengan cuaca dan suasana yang seperti biasanya. Tak ada yang istimewa sampai ibu kepala suku di kontrakan kecil berteriak cukup nyaring. "Kakak, sudah bangun belum? Sekolah, loh hari ini?!" teriakan lantang yang dilakukan tanpa peduli tetangga mungkin akan terganggu.
"Sudah, ma. Sarapan kakak mana?" balas si anak tanpa berteriak tentunya.
"Di dapur, tadi mama udah masakin nasi goreng sama telur mata sapi," kata si ibu. Sang anak sulung pun bergegas ke dapur yang berjarak sepuluh ribu kilometer, bercanda. Sepuluh langkah pun tak sampai nyatanya.
"Ne, sarapan dulu, nanti maag nya kumat lagi. Bubur udah siap!" lanjut Lea menyuruh ibunya untuk makan.
"Iya, iya, belum juga lapar, disuruh makan, makan, dan makan terus!" gerutu si ibu seolah kesal, padahal beliau sedang tersenyum senang karena diperhatikan.
"Kak Lea, katanya telur mata sapi, kok matanya jereng gini, sih?" protes Nasmi menunjuk telur yang ada di piringnya.
"Jiah, Kak Lea sa ae, kak. Seneng banget dah sama otak kakak yang encer dan cepet muter mikir jawaban!" kata Nasmi setengah memuji.
"Meski jawaban asal, ye," timpal si ibu sambil meniup buburnya.
"Biar asal tetep aja jawaban!" bela Rudiat, suami dari Nyonya Lea.
__ADS_1
"Ho'oh, jawaban juga, tapi nilainya beda," kata Nasmi tertawa kecil.
Arti mengangkat tangannya yang kecil dan pendek. Terlihat sangat imut dan lucu dengan tumpukan lemak di tangannya. "Kenapa sayang?" tanya Lea memberi perhatian penuh.
"Kata Bu gulu, kalau dapat nol sampai lumah disuluh goleng," katanya dengan nada cadel yang menggemaskan. Ahh, anakku memang ratunya menggemaskan dari lahir.
"Digoreng jadi telur, ya de? Besok-besok Abang dapetin nol, deh buat adek!" celetuk Ardi sambil mengusap rambut adiknya penuh sayang.
"Makasih, bang," ucap Arti yang belum paham sama sekali kalau nilai nol itu jelek.
"Carikan nol nya yang dua, ya bang. Trus jangan lupa diundang angka satu buat ngiket si nol tadi?!" kata si mama penuh ancaman.
Nasmi tertawa, Arti bertepuk tangan, si ayah sibuk mengopi sambil membaca koran (Koran bekas, sih), si nenek sibuk menghabiskan bubur di dalam mangkuknya.
Begitulah rumah aku setiap harinya, kadang ribut, kadang sepi, kadang menggila, kadang-kadang lah pokoknya. Tapi kami tetap rukun, ada makanan tetap dibagi rata. Hidup kami bahagia tanpa kebohongan. Walau ada masalah, tak pernah ada pertengkaran yang berarti. Hanya perbedaan pendapat kecil yang bisa diurus dengan mudah.
Rumah kembali sepi begitu anak-anak ke sekolah, ibuku juga kadang jalan ke tempat temannya dan pulang saat makan siang. Suamiku makan di kerjaan, tentu saja dia membawa bekal yang aku siapkan. Kalau aku pastinya mengekori anak bungsuku ke sekolahnya. Mencegah penculikan lebih baik daripada menunggu terjadi.
__ADS_1
Kalau penculiknya mau ditukar dengan diriku tak apa, kalau tidak, alamat meninggoy di tempat dah. Bukan aku, tapi penculiknya. Karena sampai kapan pun aku gak akan melepaskan mereka sampai mereka membebaskan anak-anakku.
Hedeh, mikirin soal penculik kok malah menjalar lebar begini, ya. Ya sudah, aku mau menemani anakku Arti ke sekolah dulu. Nanti kita lanjut lagi.