Coretan Tangan Iseng.

Coretan Tangan Iseng.
Perbedaan.


__ADS_3

Pernahkah kamu merasa kalau apa yang kamu lakukan atau apa yang kamu tulis sama sekali tak didasari dengan logika. Aku pernah, terkadang aku merasa kenapa harus aku. Kenapa dari sekian banyak manusia, hanya aku yang diharuskan. Anehnya, aku tak tahu maksud dan tujuan dari semuanya. Aku hanya diharuskan tanpa diperbolehkan untuk mengeluh atau bertanya.


Oh, aku lupa mengenalkan diriku. Aku, Leana, seorang anak yang duduk di bangku SMA kelas akhir. Aku sudah mengerjakan semua tugas tepat waktu, aku juga menjawab semua soalan yang diberikan dengan benar. Menurut logika yang benar, pasti aku akan meraih peringkat pertama di kelas, bukan. Namun, nyatanya itu tak terjadi. Malah kawanku yang tugasnya banyak nunggak yang meraih gelar itu. Awal aku tak masalah, tapi makin kesini aku sedikit kesal. Kenapa aku yang sudah berusaha keras tak mendapatkan apa yang harus kudapatkan. Tetapi, temanku yang nyantai malah meraihnya dengan gampangnya. Ironis memang.


Apa lagi aku hanya anak yatim piatu, tanpa adanya seorang yang menjadi pendukung untukku. Kata-kata yang paling sering kudengar hingga kini adalah, sudah untung bisa mengenyam pendidikan tanpa membayar sedikit pun, jadi jangan minta lebih. Atau mungkin kata lainnya yang mengatakan, apa gunanya pintar kalau kesempatan untuk bekerja untuk kamu sangat kecil. Semua butuh usaha dan koneksi, kalau cuma pakai usaha ya percuma saja. Yang paling dibutuhkan untuk hidup di zaman sekarang itu ya koneksi. Kalau sudah diberi ucapan seperti tadi, aku hanya bisa menunduk. Melawan toh percuma saja, yang berkuasa selalu menang.


"Gimana? Gagal lagi?" pertanyaan itu langsung kudengar begitu aku keluar dari ruang kepala sekolah. Rita merupakan satu-satunya orang yang mau bergaul dan menjadi temanku sejak zaman SMP.


Aku menghela napas pelan. "Gak apa-apa, sudah biasa begini, kan!" jawabku kembali bersabar. Aku terlalu malas memendam dendam, itu tak berguna dan hanya merusak kesehatanku sendiri.


"Lea, harusnya kamu melawan. Masa kamu diginiin terus!" ucap Rita kesal.

__ADS_1


"Atau mau aku temani buat protes?" lanjutnya bertanya dengan serius.


Aku menggelengkan kepalaku sambil tertawa kecil. "Gak usah macam-macam, deh Rit. Bukannya didengar, yang ada kita malah ditegur dan dapat sanksi nanti."


"Ya, tapi kan ini ngeselin, Lea!"


"Biarin aja, gak usah dipusingkan. Nanti juga kita lulus dan gak bakalan ketemu sama mereka-mereka lagi, kan?!" Rita mengangguk pelan, meski masih kesal tapi Rita tetap diam sesuai permintaan kawannya.


"Tapi kalau kaya, jangan lupakan aku, ya Lea," ucap Rita memelas.


"Gak akan, kalau aku beneran bisa sukses, aku akan buat usaha bersama buat kita. Biar kaya-nya bisa nular ke kamu, Rit, he-he," balasku asal.

__ADS_1


Ucapan adalah do'a, itu yang aku tahu. Makanya semua kata baik harus diaminkan. Mana tahu ada yang terwujud di masa depan.


...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...


Lima tahun berlalu, rupanya semua ucapan kawanku dulu menjadi kenyataan. Aku bisa dibilang cukup sukses, bahkan aku bisa membiayai beberapa anak yatim untuk menunjang pendidikan mereka.


Sesuai apa yang kukatakan, aku dan Rita membuka dan menjalankan usaha bersama. Usaha kuliner dan toko kecil-kecilan yang menjual perlengkapan sekolah.


Rita sudah bertunangan dan akan menikah bukan depan, sedangkan aku masih menunggu jodoh yang ditakdirkan. Aku bukan orang yang terburu-buru kok. Jadi aku santai saja menunggu sambil bekerja seperti biasa.


Harapanku gak muluk-muluk, asal dapat pasangan yang setia dan dapat diandalkan itu sudah cukup. Tampang nomor kesekian, yang penting akhlak dan kesetiaannya nomor satu.

__ADS_1


__ADS_2