
Ngeliat judul di atas, pasti pada mikir kalau ini cerita soal orang yang terlalu jahat terus dapat balasan yang biasa disebut karma. Sama gue pasti juga bakalan mikir begitu kalau gak langsung mengalami sendiri cerita ini.
Kenalin nama gue, Melodi. Mungkin nyokap dan bokap gue suka nyanyi makanya gue dikasih nama Melodi begitu gue lahir dan bernapas di dunia ini.
Gue tomboi dan gue akui itu, gue gak suka pakai rok-rok manis yang cantik, nyusahin menurut gue. Waktu skul aja rok gue semua gue permak jadi celana rok di tukang jahit langganan nyokap gue. Gue gak termasuk anak yang nakal-nakal amat, tapi gue itu sering penasaran. Rasa penasaran gue itu yang sering jadi masalah dan akhirnya gue dihukum ortu gue.
Sebodoh-bodohnya gue, gue gak mungkin bakalan loncat ke jurang yang penuh api hanya karena rasa penasaran. Rasa penasaran gue juga gak setinggi itu untuk melakukan hal nekat gak jelas kayak begitu.
Suatu ketika, gue diajak ikut tawuran. Biasalah bagi anak skul untuk sesekali adu jotos hanya karena beda pendapat, atau cuma sekedar membuktikan sekolah siapa yang lebih jago. Gue ikut, tentu saja. Meski cewek gue suka banget berantem, apalagi kalau berantemnya bebas. Pukul kiri, tendang kanan, tonjok sana-sini. Pokoknya, tangan dan kaki bebas bergerak memukul telak.
Sayangnya gue sangat-sangat gak beruntung, apa gue-nya aja yang lagi sial. Lawan gue bawa pentungan dari besi dan dia mukul gue dari belakang. Banci banget deh, masa mukul dari belakang dan sembunyi-sembunyi gitu.
Gue dibawa ke rumah sakit. Jelaslah, kepala gue berdarah gini masa gue gak dibawa ke rumah sakit. Ortu gue datang dan saat gue udah sadar, omelan nyokap gue menyambut.
"Tolong nyalain lampu dong, ma. Gelap banget ini," ucapku memotong ucapan nyokap gue dengan suara lirih. Gue baru siuman, jadi masih lemes dan gak punya banyak tenaga gitu deh.
"Jangan bercanda, Mel. Ini masih sore, gelap dari mana?!" balas nyokap gue kesal.
"Ohh, mama tahu. Kamu cuma gak mau dengerin omongan mama, ya kan?" lanjut nyokap gue cepat.
"Sore? Terus kenapa gelap banget, ma? Ma, ma, Melodi gak bisa lihat apa-apa, ma," ucapku mulai panik.
__ADS_1
Nyokap dan bokap gue mulai ribut dan ikut-ikutan panik. "Dokter, panggil dokter, pa. Cepat!" pekik nyokap gue.
Gue mendengar suara langkah kaki yang menjauh dengan tergesa, gue yakin itu langkah kaki bokap gue. "Tenang, Mel. Sebentar lagi kamu bakalan diperiksa, ini mungkin efek dari luka yang kamu dapat. Mama harap itu bersifat sementara," katanya menenangkan gue yang kacau dengan segala kemungkinan yang mukmin gue alami sekarang.
Penjelasan dari sang dokter membuat gue terdiam, bibir gue menyunggingkan senyum sinis. Apa lu pernah ngerasain hal-hal yang menemani lu selama ini tiba-tiba menghilang begitu aja. Itu yang gue rasakan sekarang. Semua warna yang biasanya sangat gampang gue lihat, kini direnggut dan menyisakan hanya satu warna, warna hitam. Hidup gue berubah, gue depresi dan menyalahkan diri gue sendiri.
Gue juga gak peduli lagi dengan kaki gue yang katanya patah. Nyokap gue akhirnya menemani gue untuk terapi seminggu dua kali, biar gue bisa jalan lagi. Saat nyokap gue sedang berbincang tentang masalah gue pada dokter, gue memilih menunggu di taman rumah sakit. Tentunya gue butuh bantuan suster untuk sampai di tempat ini.
Di taman inilah awal dari segalanya dimulai, seseorang menghampiri gue dan mengajak gue berbincang. "Hai, boleh ikutan duduk di sini, gak?" tanyanya sopan.
Gue mengangguk mengiyakan, jarang ada yang mengajak gue bicara lebih dulu sejak gue buta seperti ini. "Gak masalah," balas gue.
"Lo-gue, gak apa-apa, kan?" tanyanya lanjut. Gue mengangguk mengiyakan.
"Kaki lo sakit?" tanyanya pelan, terdengar ragu, mungkin dia merasa tak enak untuk bertanya.
Gue mengangguk sekali lagi. "Mata gue juga sakit," balas gue ringan.
"Maaf," ucapnya pelan.
"Gak apa-apa, cuma sesekali kadang gue nyesel kenapa gue bisa begini," gue bergumam pelan. Tentu saja gue menyesal, kalau gue tahu gue gak bakalan ngelakuin hal aneh-aneh dan jadi anak rumahan.
__ADS_1
"Menyesal boleh, tapi jangan sampai lu terpuruk aja. Yang udah terjadi gak bakalan bisa diubah, ya tinggal terima aja dengan ikhlas. Sorry kalau kesannya gue sok tahu banget kayak gini, he-he," ucapan bijak yang baru kali ini gue dengar. Dia juga sepertinya seumuran sama gue.
"Santai aja, gue gak seterpuruk itu, kok. Yah, untungnya ada ortu gue yang ngasih gue dukungan.
"Eh, iya. Kita belum kenalan, gue Karma. Lu?"
"Melodi," balas gue sambil tersenyum tipis.
Mulai dari situ gue dan Karma jadi sering ketemu, setiap bertemu kita bakalan saling bercerita ini dan itu. Lumayan seru dan membuat gue lupa kalau gue itu orang cacat.
Suatu hari, Karma bilang kalau mungkin dia bakalan sulit untuk bertemu gue lagi. Dia harus tinggal di kamarnya dan gak diperbolehkan keluar. Gue mengiyakan, setiap gue nanya dia sakit apa, dia pasti mengalihkan pembicaraan atau cengengesan gak jelas tanpa menjawab.
Nyokap gue datang membawa kabar yang selama ini gue tunggu, gue dapat donor dan mungkin gue bakalan bisa ngeliat lagi. Seneng tentu saja, gue buat janji sama Karma kalau dia harus jadi orang pertama yang gue lihat saat gue membuka mata. Karma tak menjawab dan hanya mengusak rambut gue, itu terakhir kalinya gue ketemu dia.
Hari operasi gue tiba, jujur gue takut, tapi gue beranikan diri. Gue pengen ngeliat gimana tampang temen baru gue, teman yang selalu memberi dorongan dan semangat buat gue untuk terus maju.
Beberapa hari kemudian, perban di mata gue dibuka. Gue deg-deg'an banget, sumpah. "Ma, pa, warna itu kembali. Melodi bisa ngeliat lagi," ucapku penuh syukur. Aku menangis senggugukan. Nyokap dan bokap gue mengucap syukur berkali-kali.
"Ma, temen Melodi mana? Si Karma? yang sering nemenin Melodi nunggu mama itu loh," gue bertanya penuh semangat.
"Teman kamu cuma ninggalin surat aja, sayang. Tapi suratnya gak mama bawa, mama tinggal di rumah. Nanti kalau udah balik baru kamu baca, ya," balas nyokap gue tanpa menatap gue. Gue mengernyit tapi tetep mengangguk mengiyakan saja. Dokter juga mengatakan kalau mata gue gak boleh terlalu lelah dulu, gak boleh membaca terlalu banyak dan masih banyak yang gak boleh gue lakukan.
__ADS_1