
Cahaya menoleh kalimat demi kalimat di kertas kosong berisi curahan hatinya Bukan sekadar Curahan hati Kalimat puitis yang memiliki banyak makna tersirat yang menyatakan sebuah perasaanya terhadap Seseorang
Bibir Cahaya bergetar, menahan desakan air mata yang memaksa untuk turun dari tempatnya ia menarik nafas sampai Suaranya terdengar, mengusap hidungnya dan juga air mata yang sudah muncul di sudut hampir tiap malam Bulan melakukan hal itu Duduk di kursi
Di dekat Di Jendela Kamar, menulis di atas meja sambil menangis dalam diam
Baru Tadi sore ia menyaksikan kejadian di mana Seorang Cowok di bawah di Ruang IGD itu berarti keadaannya Parah Cahaya tak bisa mengontrol emosi nya ia tak sanggup untuk tidak menangis Rasanya bahkan melebihi sakitnya saat Cintanya tidak mendapat balasan
Di banding melihat Orang yang ia Sayang mengalami kecelakaan seperti itu
Tuhan kenapa di saat aku meminta di pertemukanku dengannya yang datang malah dia dengan keadaan separah itu....."
Cahaya menulis kalimat lain lagi.Bibirnya tertutup rapat tetapi isikan tangisnya sesekali terdengar.Air mata itu turun ke pipi dan jatuh ke atas meja Cahaya menyekanya hal itu malah membuat derai itu semakin tumpah ruah
aku selalu minta supaya kau jaga dia jaga dia buat aku selagi aku nggak ada di dekatnya Kenapa kau buat dia sakit buat dia harus mempertaruhkan nyawanya ? Aku nggak mau kehilangan dia Tuhan..."
Tangisannya itu Semakin menghiasi keheningan
Di dalam kamar Cahaya Pangeran seakan berubah gelap membuat suasana kelabu hati Cahaya semakin tertutup awan tebal yang membawa gemeruh pertanda hujan hatinya bagai Langit mendung dan matanya bagai hujan yang siap meluncurkan Air mata
Apa ini pertanda bahwa kau ingin aku kembali padanya kau ingin aku kembali memperjuangkannya tapi kenapa kau kembalikan dia padaku di waktu yang sangat tidak tepat Tuhan Di saat aku harus memulai hidup baru dengan Cowok yang sangat baik padaku.kenapa kau memberi ku pilihan yang
sesulit ini Tuhan ? Bahu Cahaya bergetar kuat ia melepas bolpint dari tangannya dan meletakkannya di kertas itu menutup wajah dengan kedua telapak tangan menangis puas hingga air matanya membanjiri sampai ke tangannya itu tertunduk Dalam suara tangisnya membuktikan betapa Sakitnya Cahaya saat ini
sakit melihat Orang yang ia Sayangi menderita sakit menghadapi Rasa dilema yang membuatnya kehilangan arah.sakit melepas Bara atau tidak Dan sakit akan pilihan sulit yang menghampirinya
" Cahaya kamu nangis ? suara Bara terdengar dari luar kamar Bulan dan sertai ketukan pintu beberapa kali " Bulan "
Setelah, pintu terbuka Cahaya menunduk menghindari Bara menatap langsung wajahnya sebab mata Cahaya pasti sembab dan merah ia tak mau membuat Bara semakin khawatir akan dirinya
" kamu kenapa ? aku Denger kamu nangis "
" Nggak aku nggak apa-apa " jawab Cahaya sambil tetap menunduk
" Bener ? Bara menyipitkan matanya, Curiga
Cahaya mengangguk
" Ya udah kita makan malem dulu yuk " papa Udah nunggu kita "
" Aku cuci muka dulu Kamu duluan aja " Cahaya Tersenyum seraya mengusap hidungnya ia tetap menunduk membuat Bara Heran dan Curiga tetapi ia tak mau bertanya pada Cahaya Cahaya akan marah
" Aku tunggu di bawah iya ? ucap Bara yang kemudian mundur dan Cahaya menutup kembali pintu kamarnya ia menghela nafas lega,jalan ke kamar mandi Dan mencuci Wajahnya di wastafel
pagi hari Cahaya harus kembali check-up ke Rumah sakit.Jam menunjukkan pukul sepuluh Cahaya bersama Bara yang menemaninya di samping, berjalan ke arah lift yang akan membawanya ke lantai dua Cahaya meminum Coklat hangat miliknya yang tadi Bara membelikan untuknya
Sudah empat hari Semenjak Pangeran kecelakaan Sampai sekarang Cahaya tak menjenguknya, alasannya ia takut Bara marah karena Dirinya memberi perhatian pada Cowok lain Bara mudah Cemburu Cahaya tak mau menyakiti hati orang yang telah baik kepadanya Walua nyatanya hati Cahaya jauh lebih sakit akan sikapnya sendiri
Tiba di lantai dua Cahaya melangkah ke Ruang tunggu ya ada di depan lift ia Duduk sana menunggu Dokter Hardi datang karena sekarang Dokter itu sedang menangani pasien lain
Bara melirik Bulan lewat Ekor matanya Belakangan ini Bara menyadari Sikap Bulan yang mulai kelihatan pediam pemurung dan bila di tanya kenapa ia selalu menjawab " tidak apa-apa " Bara khawatir ada yang Cahaya sembunyikan darinya dan akan membuat Cewek itu bertambah Stres.Bara tak mau Cewek itu kenapa-napa apalagi saat ini Bulan sedang menjalani masa pemulihan akibat kecelakaan yang pernah ia alami beberapa bulan yang lalu
" Cahaya kamu Serius kamu nggak apa-apa ? tanya Bara tiba-tiba
Cahaya mengangguk " aku nggak apa-apa Bara "
__ADS_1
menghela nafas Cahaya bersandar pada Sandaran kursi dan menatap ke Layar TV yang menggantung di Atas tatapannya sendu, tak tertarik pada tayangan yang ada di sana ia pun menatap ia pun kembali menatap Bara kembali
" Aku ke toilet ya ? kamu di sini aja aku bisa sendiri kok ? ujar Cahaya yang langsung bangkit dari kursi dan menepi dari tempat
" Aku titip tas " kata Cahaya seraya menyerahkan tas selempang miliknya pada Bara Cahaya hanya menurut dan membiarkan Bulan pergi sendirian Bara yakin Cahaya tak menyasar sudah beberapa kali mereka ke Rumah sakit ini Cahaya pasti hafal letak toilet
Sambil menunggu Bara memainkan ponselnya sebagai penghilang Rasa bosan.sementara itu, Cahaya pergi sendirian menelusuri lorong Rumah sakit tak beberapa lama Bulan berhenti di depan meja resepsionis dan berucap pada seorang wanita yang melayaninya
" pasien atas nama Pangeran samudra Dirgantara ada di kamar beberapa ? wanita itu segera mencari daftar pasien di layar komputer setelah Nama yang Cahaya sebutkan ketemu ia langsung memberi tahu Bulan nomor Kamarnya dan Bulan tanpa berpikir panjang Cahaya langsung lari ke alamat yang disebabkan tadi"
Cahaya melangkah lagi memasuki Lorong besar yang di kiri dan di sebelah kanannya terdapat banyak Kamar berisi pasien Rumah sakit.Rumah sakit ini terbilang bagus dan bersih tak sedikitpun Cahaya merasa ngeri dengan bangunan ini malah terasa sangat nyaman dan asri
kembali fokus mencari kamar di mana Pangeran berada Cahaya menggerakkan kepalanya dan matanya untuk menemukan pintu itu tak lama kemudian langkah Cahaya berhenti di depan pintu kamar yang tertutup rapat ia mendekat ke pintu itu mengintip ke dalam Ruangan tersebut lewat jendela kecil di depan pintu
Tangan Cahaya bergerak menggenggam knop pintu Jantungnya berdebar hebat ketika knop itu bergerak turun.pintu pun mulai bergerak ke dalam Cahaya pun berhasil membuka pintu itu semua yang ada di dalam kamar Pangeran spontan menoleh ke arah pintu menunggu siapa yang datang
ketika figur Cahaya muncul dari balik pintu.mereka serempak memberi tatapan kaget Tidak percaya Cewek yang telah di kabarkan meninggal akibat kecelakaan pesawat Kini ada di hadapan mereka berjalan mendekati sambil menutup mulut akibat menahan tangis
Rizky dan Dewi memandang Cahaya dengan tatapan tak percaya. Cahaya ingin lihat sekarang adalah Pangeran Matanya tertuju pada Sosok Cowok yang terbaring lemah di brankar dengan alat medis yang tengah melekat di badannya
" Pangeran" lirih Cahaya
matanya berkaca-kaca lagi ia semakin mendekat hingga Bulan berdiri di samping brankar Pangeran ia memandang Cowok itu dari kepala sampai tangannya yang diinfus Cairan Merah alias Transfusi darah.Wajah Pangeran di hiasi luka yang tak di perban napasnya pun di bantu dengan tabung oksigen
sudah empat hari Pangeran tak bangun dari masa komanya keadaan lemah bahkan nyawanya hampir melayang jika ia tak di tangani oleh Dokter Cahaya yang hampir menangis itu,mengerakkan tangannya untuk menyentuh tangan Pangeran ia mengelus lembut pergelangan tangan Pangeran sambil tersenyum sedih
Tak di sangka jemari Pangeran bergerak sekali namun membuat Cahaya, Rizky dan Tante Dewi terkejut Bukan main Cahaya v membuka mulutnya lebar kaget ia langsung memandang Rizky dan Tante Dewi bergantian dengan eskpresi terkejutnya
" Pangeran" Cahaya menyebut namanya
kepala Pangeran bergerak sedikit namun matanya masih terpejam Rizky langsung berinisiatif memangil Dokter lewat tombol pemanggil yang ada di samping bantal Pangeran Mamanya segera mendekat dan mengusap kepala Pangeran sambil terus mengucapkan sederet Doa dengan pelan
keningnya mengerut bingung Dengan apa yang ada di sekitarnya Jantung Cahaya, Rizky Mamanya lantas berdebaran tak karuan takut terjadi Sesuatu pada Pangeran ia semakin mengernyit dan menutup matanya erat, lalu membukanya lagi
" Ma" Suara Pangeran sangat pelan dan lembut Mama..."
" Pangeran vMama ada di Sini Sayang " ucap Dewi sambil menggenggam tangan putranya itu.Pangeran menoleh dan masih mengerutkan Dahinya tanda Bingung "
" Ma " panggil Pangeran lagi " kok di sini gelap Mama aku nggak bisa liat Mama ada Di mana"
Bertepatan dengan itu, seorang Dokter datang Masuk ke kamar Pangeran dan menghampiri pasiennya Tersebut.ia segera memeriksa kondisi Pangeran dengan alat-alat medis yang ia bawa
" Dokter Pangeran Bilang dia nggak bisa nggak bisa lihat saya ! ujar Dewi
Dokter langsung menatap Pangeran yang tak berhenti menggerakkan matanya ke mana-mana Eskpresi perlahan berubah jadi panik dan takut.Nafasnya memburu dan berulang kali Pangeran membuka tutup Matanya seperti berusaha memperbaiki kualitas pandangannya
" kok semua jadi gelap Ma ? Pangeran bberkata Sambil berusaha menyentuh Mata dengan satu tangannya yang tak di infus "
Dokter Tadi langsung memeriksa mata Pangeran Dengan Senter medis berukuran kecil.ia menyinari mata Pangeran yang terbuka memperlihatkan kornea milik Dokter juga memeriksa mata Pangeran satu lagi Dua-duanya memiliki sebuah gangguan yang membuat penglihatan Pangeran Rusak
" Benturan keras di kepalanya pasca-kecelakaan berpengaruh buruk pada pengelihatan Pangeran Korneanya Rusak dan harus melakukan operasi agar ia bisa lihat kembali " Dokter berujar Serius
" Jadi anak Saya buta Dok ? Dewi ragu mengatakan itu Tetapi ketika Dokter itu mengangguk tangisan Bulan Semakin keras dan Dewi pun tak kuasa menahan Derai air matanya"
" Pangeran " gumam Cahaya ia membekap mulutnya mengendap Suara tangisnya yang kuat.ia menunduk tak sanggup melihat Pangeran dengan keadaannya seperti itu.Bumi tak bisa melihat tak bisa melihat Dirinya sudah ada hadapannya tak bisa menatap apa-apa pun yang ada di Sekitarnya "
__ADS_1
" Pangeran..." Mata Rizky memerah ia merasa Sakit melihatnya sahabatnya seperti itu Apalagi saat Pangeran berteriak karena tak bisa menerima keadaannya "
" Pangeran kenapa Lo jadi begini Gue mau liat Lo sehat liat Lo sempurna kayak yang biasanya Gue nggak bisa liat Sahabat gue terpuruk kayak begini ! Rizky menitihkan air matanya " apa perlu Gue Donorin Mata Gue "
" Dokter apa nggak ada cara lain selain Operasi ? apa Bumi nggak bisa sembuh apa bener-bener nggak bisa ngeliat lagi ? ucap Cahaya
Dokter menggeleng " satu-satunya cara Pangeran harus melakukan operasi Kornea mata "
" MA AKU MAU NGELIAT LAGI MA " Pangeran memekik keras " PANGERAN NGGAK MAU BUTA MA"
Dewi memeluk Pangeran yang masih terbaring di brankar Dewi hanya bisa menangis dan berserah pada Tuhan ingin Rasanya Dewi bertukar posisi dengan Bumi biar semua ketakutan, dan Rasa pedih yang putranya Rasakan berpindah ia sendiri
Rizky yang dari tadi diam sambil menunduk kini ia tersadar akan kehadiran Cahaya didekatnya dan segera memeluk Cewek itu Cahaya memejamkan matanya dan menyembunyikan wajahnya di dada Rizky ia menangis tanpa Suara menangis dengan air mata yang seakan tak akan Habis
" aku nggak bisa liat Pangeran kayak gitu Ta sedih Rasanya ! kata Cahaya
Tak beberapa lama Cahaya melepas pelukannya ia mendekati Pangeran lagi dan kini Dirinya Mengganti posisi Tante Dewi untuk memeluk Pangeran.Awalnya Pangeran diam ia bergeming sambil merasakan Sentuhan Cahaya dan mendengar Isak tangis Cewek itu
Sampai akhirnya Pangeran berucap " Lo siapa "
Cahaya menjauhkan badannya dari Pangeran bdan memandang Cowok itu " " Aku Cahaya Pangeran"
" Buat apa Lo ke sini " Desis Pangeran
" Aku mau liat keadaan kamu " lirih Cahaya
" Nggak perlu Gue nggak butuh buat di kasihanin Sama Lo lagian Cahaya udah meninggal kaluaupun Dia masih hidup Dari awal dia pasti ngabarin gue tentang keberadaan dia Lo pasti Bukan Cahaya
" Aku Cahaya... Pangeran! Isak Cahaya
" Bukan ! Sentak Pangeran Lo Cewek yang Gue temuin di toko perhiasan beberapa hari yang Gue liat Lo sama Cowok lain Lo lagi milih Cincin Lo udah mau bertunangan kan ? atau malah mau menikah ? Lo bukan Cahaya "
Cahaya membuka mulutnya karena terkejut " kamu liat aku di toko itu ?
" iya Dan karena Lo gue jadi kehilangan konsentrasi pas ngendarain Motor Dan sampai akhirnya gue kecelakaan yang bikin gue buta kayak sekarang Gue nggak tahu harus salahin siapa Gue nggak tahu apa gue harus benci Lo atau nggak " ujar Pangeran penuh penekanan
" Cahaya yang Gue kenal dia setia sama Orang yang dia Sayang Dia kuat ngelawan nafsu Cowok lain yang mau dia jadiin pacar bahkan miliknya.Gue kenal Bulan dia bukan Cewek jahat sampai nggak pernah kasih kabar temen-temennya bahwa sebenarnya dia itu masih hidup " lanjut Bumi " Nggak kayak Lo pergi senaknya ngebiarin semua Orang anggep dia udah meninggal tapi nyatanya Dia masih hidup"
" pangeran aku minta maaf " gumam Cahaya " Aku punya Alesan kenapa aku nggak ngabarin Kalian.Kamu nggak bakal ngerti karena aku yakin kamu nggak akan mau dengerin penjelasan aku "
" Gue memang nggak mau dengerin penjelasan dari Lo Lo itu pembohong " seru Pangeran Lebih baik Lo pergi dari sini sekarang gue nggak mau Denger Suara lagi "
" Pangeran "
" pergi " gertak Pangeran dengan keras
Rizky segera mengusap bahu Cahaya Dan Dewi memenangkan Pangeran Cahaya perlahan mundur menyembunyikan Suara tangisnya dengan telapak tangan ia menatap nanar Pangeran lalu menyentuh Dadanya yang terasa Sakit lebih Sakit dari apa pun
Sedetik setelahnya Cahaya berlari keluar dari kamar Pangeran dan menjauh dari tempat itu ia masih menangis tak bisa menetralkan tangisan yang menguasainya Dan tiba-tiba Cahaya menabrak bahu Seseorang ia mengenal Orang itu dan langsung memeluk tubuh Bara kembali mengeluarkan air matanya
" Cahaya kamu Dari mana ? kenapa ke toilet lama banget " dan Terus kenapa sekarang kamu nangis ? Bara khawatir ia mengusap serta Rambut Cahaya juga mengusap-usap punggung Cewek itu untuk menenangkannya
" Bara ...aku mau pulang ! ucap Cahaya" kita check-up besok aja aku nggak mau di sini "
" Tapi Dokter Hardi udah nunggu kita "
__ADS_1
" aku mohon bara aku mau pulang .. pinta Cahaya sedih "
Bara pun mengangguk dan menuruti Bulan " ya udah kita pulang iya