
Di kegelapan malam yang sunyi, terlihat seorang remaja laki-laki yang sedang duduk di sebuah meja yang lumayan panjang. Remaja itu, menatap atap kaca bangunan kosong yang tembus pandang. “Ini akan menjadi hari terakhirku disini,” Gumam remaja itu dengan suara kecil. Setelah gumam-an itu, tiba-tiba angin kencang berhembus, membuat rambutnya yang pirang ke-jingga-an itu sedikitnya berantakan. Matanya yang biru, menatap kosong ke langit-langit.
Kemudian, Ia meraba-raba dadanya—entah mencari apa, dari kanan ke tengah-tengah dada agak sedikit ke kiri. Iya, jantung, tangannya terhenti tepat di jantung. Ia merasakan jantungnya yang berdetak. Lalu, remaja itu mencari sesuatu dikantongnya, beberapa saat kemudian, ia menemukan benda itu. Benda itu adalah pisau.
Remaja itu, memegang satu pisau yang tajam dengan satu tangannya yang tidak merasakan jantung dan memainkannya dengan lihai—Sepertinya, Ia sering menggunakan pisau. Setelah itu, tangannya yang merasakan jantung itu, memegang pisau tersebut juga. Pose remaja itu, seperti ingin membunuh dirinya sendiri dengan pisau yang dipegangnya. Ia menusukkan pisau yang dipegangnya dengan cepat ke jantungnya.
‘Jlebb’
Remaja itu kemudian berbaring di meja tersebut sambil menutup mata birunya yang indah perlahan-lahan, ‘Selamat tinggal,’ Batin-nya.
__ADS_1
Perlahan Ia membuka matanya, “Tindakan-mu sangat mengecewakan!” Ucap seseorang di depannya yang memiliki kumis dan janggut yang panjang. “Kau siapa?” Tanya Remaja yang baru saja bunuh diri itu. “Aku adalah Tuhan. Karena tindakanmu yang bodoh itu, Kau mendapat ‘hukuman'. Cyarisuta Ashurin!” Teriaknya. “Hah!?” Tanya Cyarisuta tidak mengerti 'Ini tidak masuk akal,' Batin Cyarisuta.
Setelah beberapa saat Cyarisuta menenangkan diri dan mencoba mengerti, ia bertanya,“Jadi apa yang harus kulakukan?”. “Ee-rr, etto, Tuhan?”.
“Kau akan hidup di dunia yang baru untuk menjalani 'hukuman'-mu. Aku akan mengabulkan tiga permintaan-mu untuk menjalani 'hukuman',” Putusnya pada Cyarisuta. “Kalau begitu, sebutkan permintaanmu!” Serunya. “Aku menginginkan sistem, seperti game untuk memudahkanku melihat kemampuanku dan untuk berbagai hal lain. Lalu ketika aku menyentuh buku, aku akan langsung memahami dan mengingat semua yang ada di buku tersebut untuk memudahkanku, dan terakhir akan kusimpan untuk nanti,” Jawab Cyarisuta tenang.
“Baiklah, dikabulkan. Sekarang akan kubahas tentang ‘hukuman’-mu,” Katanya tajam. “Kau harus menyelamatkan orang sebanyak orang yang kau bunuh, bisa kan pembunuh!?” Katanya lagi dengan tajam dan tersimpan kemarahan kepadaku karena membunuh makhluk hidup ciptaannya untuk balas dendam. “Dan kau harus menemukan kebahagiaanmu sendiri!” Lanjut-Nya yang membuat Cyarisuta sangat terkejut. “A-a-pa!?” Kata Cyarisuta tergagap-gagap—tentu karena terkejut. “Jangan bercanda!” Teriak Cyarisuta marah.
Lalu ia berkata, "Aku akan memberikanmu sebuah Pusaka Legendaris," dan memberikan informasi tentang Pusaka tersebut, lalu Cyarisuta ditelan sebuah hole untuk menjalankan 'hukuman'-nya.
__ADS_1
Cyarisuta Pov
'Aku ada dimana?’ Tanyaku pada diri sendiri. Beberapa saat kemudian, aku membuka mataku dan melihat ada beberapa pengasuh dan ruangan yang kutempati dipenuhi oleh bayi-bayi yang kebanyakan menangis.
Aku mencermati ruangan ini, terlihat tembok-tembok berwarna biru cerah dan beberapa anak-anak yang bermain kejar-kejaran di luar ruangan—karena pintunya terbuka. ‘Sepertinya ini panti asuhan,' Analisisku. ‘Dan ruangan bayi ini berisik sekali,’ Batinku karena merasa terganggu. Akhirnya karena merasa lapar, aku mencoba sedikit berbicara—ingat berbicara bukan menangis. “Neh-neh-neh,” Suaraku tidak jelas, tetapi sepertinya menarik seorang pengasuh dan ia berbicara padaku “Hmm, Risuta—panggilan dari pengasuh tersebut untukku—sepertinya kau merasa lapar. Sebentar aku ambilkan susu,” Ucap pengasuh itu dan berlalu pergi. ‘Sepertinya namaku masih sama, syukurlah,’ Batinku entah mengapa merasa bersyukur mungkin karena itu adalah nama pemberian orang tua-ku yang sudah lama meninggal.
Beberapa saat kemudian, datang pengasuh yang tadi berbicara denganku dan memberikanku susu. Sambil meminum susu, aku merasakan kehangatan yang sudah lama tidak kurasakan, tatapan pengasuh itu penuh kasih sayang. Aku merasa hangat, 'Sudah berapa lama ya, terakhir kurasakan ini,’ Batinku sambil mengingat masa laluku.
“Mama, lihat ada bianglala!” Teriakku yang berumur lima tahun dan merasa senang. “Cyarisuta, mau naik?” Tanya Mamaku lembut sambil menatapku penuh kasih sayang. “Mau, Ma, Ayo sekarang!” Seruku merasa bersemangat. “Iya, nanti tapi naiknya, Sayang.” Sahut Papaku yang tiba-tiba berada di samping mama sambil membawa es krim.
__ADS_1
'Tetapi siapa yang tau, itu adalah hari terbahagiaku dan hari tersedihku. Semuanya berakhir pada hari itu,’ Batinku sambil tersenyum kecut dalam hati.
Malam berlalu, pagi muncul. Waktu berlalu sangat cepat, tidak terasa sudah tiga tahun berlalu.