
Dua hari telah berlalu
Author pov
Sekarang Risuta dan Gauma sudah berada di perbatasan Pegunungan Tusfoja, Sepanjang mata memandang, pemandangan dalam Pegunungan Tusfoja memanjakan mata kedua orang itu. Ketika menghirup udara dalam Pegunungan tersebut, 'Udara yang sangat segar dan menenangkan pikiran,' Batin Risuta, tetapi berbeda dengan yang dirasakan Risuta, Gauma hanya diliputi kecemasan, “Risuta, Kau yakin?” Tanya Gauma terhadap Risuta, sedangkan Risuta yang mendengar hal itu hanya menghela nafas lagi. “Tentu, Kau pikir aku mau mati saat masih balita.” Ucap Risuta tajam, “Aku agak tidak yakin, tindakanmu ini sangat berbeda dengan balita biasanya yang suka bermain,” Ejek Gauma merasa Risuta sebagai orang dewasa, walaupun menurutnya ia masih belum berpikir terlalu matang, 'Masa baru Tingkat Dasar sudah mau diburu siluman, kan merepotkan kalau dia mati. Aku tidak mau dituduh jadi pembunuh seorang Balita,' Batin Gauma khawatir terhadap Risuta, dan sepertinya terhadap reputasi Gauma sendiri. “Walau sebenarnya, sayang juga kalau dia mati, dia seperti belum pernah mendapat kasih sayang, lihat saja matanya kosong, seperti tidak ada kehidupan, auranya juga berbeda, bukan seperti balita sama sekali, dan kecepatannya berkembang terlalu tidak normal,” Celoteh Gauma dalam suara kecil—takut terdengar oleh muridnya sendiri.
“Sepertinya sosokmu yang semangat melakukan petualangan tidak terlihat lagi,” Ucap Risuta, dan langsung dibalas oleh Gurunya yang sudah mencapai Tingkat Awan ke-3, “Tentu, Bagaimana kalau kau berakhir disini, apa kau tidak ta-, Hei Tunggu!” Gauma yang sedang berceloteh itu, ditinggalkan oleh muridnya sendiri. Untungnya kecepatan Gauma lebih cepat dari Risuta, sehingga dalam sepersekian detik, ia bisa langsung mengejar Risuta.
“Risuta, Hei, Dengarkan aku!” Ucap Gauma sambil mengendalikan kecepatannya disamping Risuta.
“Guru, hati-ha-,” Sebelum menyelesaikan ucapannya,
'Bruaakkk'
“Hahahaha!” Risuta tertawa melihat Gauma yang tidak melihat jalan dan menabrak pohon dihadapannya. Terlihat dengan jelas Gauma mengerutkan keningnya kesal, tetapi melihat tawa Risuta yang begitu ceria, ia mengurungkan niatnya. “Kau lebih cocok tertawa seperti itu,” Kata Gauma sambil mengacak-ngacak rambut Risuta yang baru tumbuh sedikit. Sedangkan setelah mendengar apa yang Gauma katakan, wajah Risuta berubah drastis, tidak ada lagi senyum, dengan dinginnya Risuta berkata, “Ayo lanjutkan perjalanan,”. ‘Eh,' Batin Gauma bingung, 'Benar-benar, bukan wajah yang ditunjukkan seorang balita,' Batin Gauma lagi.
Setelah kejadian itu, mereka menjelajahi Pegunungan dengan keadaan sunyi, hingga tiba-tiba, segerombolan burung gagak, dengan cepat melewati mereka dan terbang ketakutan. Risuta yang melihat itu, hanya pergi ke arah sumber gagak tersebut terbang ketakutan, hingga di tengah perjalanan ada hewan tingkat ke-6, menghalangi jalan Risuta dan Gauma, “Risuta, mundur, kau tidak akan bisa menandinginya!” Teriak Gauma, Risuta langsung mundur begitu melihat status hewan tersebut dan berkat teriakan Gauma juga. Ketika Gauma beradu pukulan dan mengkondensasi beberapa serangan ber-elemen dengan hewan tersebut, Risuta melihat peta dari sistem gamenya, 'Sial, kita sudah terkepung oleh hewan dan siluman,' Batin Risuta. Setelah itu ia langsung berteriak kepada Gauma untuk mundur, tetapi telat. Segerombolan hewan maupun siluman sudah menghadang mereka. “Ck,” Ujar Gauma kesal dan beradu beberapa pukulan, serta menyerang siluman-siluman bergantian dengan membuat bola elemen, tetapi karena pukulan hewan tingkat ke-7, ia terpelanting dan menabrak batu yang keras. Sehingga ia terpaksa berdiri karena siluman serta hewan mulai menghampirinya.
__ADS_1
---- Informasi ----
Tingkatan-tingkatan untuk hewan atau siluman atau hewan peliharaan,
-Tingkat 1 ( Tingkat Dasar Ke-5 ),
-Tingkat 2 ( Tingkat Dasar Ke-8 ),
-Tingkat 3 ( Tingkat Mahir Ke-3 ),
-Tingkat 5 ( Tingkat Tinggi Ke-1 ),
-Tingkat 6 ( Tingkat Awan Ke-2 ),
-Tingkat 7 ( Tingkat Awan Ke-5 ),
-Tingkat 8 ( Tingkat Langit Ke-2 ),
__ADS_1
-Tingkat 9 ( Tingkat Surga Ke-1 ),
-Tingkat 10/Hewan Legendaris ( Tingkat Surga Ke-3 ).
Awalnya Risuta mencoba menghindari serangan segerombolan hewan dan siluman tersebut, tapi beberapa dari mereka memiliki kecepatan yang merepotkan bagi Risuta.
Salah satu hewan berhasil menangkap Risuta, dan melukai jantungnya, karena Pusaka Legendaris yang Risuta miliki, ia masih bisa meregenerasi jantungnya dengan sangat cepat, tetapi karena hal itu segerombolan hewan dan siluman langsung ke-arah Risuta, termasuk yang sedang mengejar Gauma, dan bertarung dengannya. ‘Entah harus kusyukuri, atau tidak,' Risuta menghela nafas mengetahui hal tersebut. Kemudian salah satu kuku hewan yang sangat tajam menusuk Risuta, “Ohookk,” Risuta muntah darah saat kuku itu menusuk jantungnya dan membelalakkan matanya, tetapi lagi-lagi keajaiban terjadi, jantungnya pulih kembali, tetapi itu belum berakhir. Terakhir, hewan yang memiliki elemen api mencoba membakar Risuta, “Arghhhhh...., Panasss!” Erang Risuta kesakitan, tetapi lagi-lagi tubuh Risuta mendapatkan keajaiban.
‘Cih, sial, aku benar-benar akan mati!’ Dengus Risuta yang mengetahui batas penggunaan pusakanya itu, dan merasa sedikit menyesal tidak menuruti Gauma. “Lepaskann Balita itu!!” Teriakan Gauma memenuhi seluruh Pegunungan, tetapi tidak berhasil mengalihkan perhatian mereka untuk tidak mencoba membunuh Risuta lagi. Ketika sesosok hewan dengan kuku yang tajam ingin menusuk Risuta lagi, secara tiba-tiba Pusaka Legendaris yang berupa kalung itu bersinar sangat terang, segerombolan hewan langsung ketakutan dan pergi. Sedangkan Gauma terkejut dengan cahaya yang bersinar itu.
“Akhirnya, Tuan, Kau menjemputku,” Ucap Naga yang muncul tiba-tiba dan terbang diatas Risuta, Risuta terkejut dengan keberadaan Naga tersebut dan merasakan keanehan dari cara memanggilnya, 'Ia memanggilku, Tuan,' Batin Risuta bingung. Kemudian Risuta melihat status Naga itu, Naga itu adalah hewan tingkat Legendaris, Risuta yang terkejut mengedipkan mataku berkali-kali. “Maafkan sambutan hutan ini yang kurang baik," Kata Naga itu. “Hei, kau pikir itu masih bisa dibilang kurang baik, kami hampir mati, tau!” Bentak Gauma kesal. Sedangkan Naga tersebut hanya mengabaikan Gauma dan berbicara dengan Risuta, “Maaf sekali lagi Tuan, karena manusia-manusia yang ke hutan ini biasanya hanya mau membunuh makhluk yang tinggal disini untuk mendapatkan inti hewan,” Kata Naga dari atas mengabaikan Gauma yang berteriak-teriak kearah Naga dengan kesal. “Tidak apa-apa,” Ucap Risuta, sedangkan Gauma yang mendengar hal itu hanya mendengus kesal. “Bisakah, kau berubah wujud, sangat tidak nyaman berbicara seperti ini?” Tanya Risuta. Kemudian naga tersebut mengubah dirinya menjadi manusia, rambut panjangnya berwarna merah, yang sama dengan matanya yang juga berwarna merah.
Lalu Risuta bertanya alasan mengapa Naga itu memanggilnya Tuan, “Tentu, karena Tuan adalah penerus kalung tersebut, apa Tuan tidak tau bahwa kalung tersebut dibuat oleh seseorang dianggap sebagai penguasa hutan ini, “Ucap Naga tersebut dan mulai menjelaskan tentang kalung tersebut. “Jadi dulu, kami siluman maupun hewan selalu menyerang manusia yang memasuki wilayah kami, termasuk orang itu, tetapi dengan kekuatannya bahkan hampir menandingi ku saat itu, ia sama sekali tidak membunuhku, hewan maupun siluman untuk mendapatkan intinya, hal itu membuatku bingung dan menemuinya, serta menanyakan alasannya. Orang itu menjawab, “Aku kesini bukan untuk berburu hewan atau siluman, tetapi berdamai dengan kalian,”. Aku yang mendengar hal itu merasa terharu, karena hampir semua manusia hanya menggunakan kami sebagai alat untuk menjadi lebih kuat, dan sama sekali tidak mementingkan perasaan kami.
Akhirnya selama beberapa hari, orang itu tinggal disini, aku menyukai sikapnya dan menjadikannya sebagai Penguasa Pegunungan yang baru, walaupun ia menolak, aku tetap menjadikannya sebagai Penguasa. Lalu di hari terakhirnya menginap, aku bertanya, “Apa Tuan tidak akan kembali lagi?” Orang itu hanya mengusap kepalaku dan menunjukkan kalung yang sekarang ditanganmu, lalu mengatakan, “Nanti pasti akan ada orang yang menjadi penerusku, ia akan menggunakan kalung ini, dan datang menjemputmu kesini,” Katanya,” Lanjut Naga menceritakan kejadian dimasa lalu sambil menatap kalung tersebut rindu.
'Dia sudah mengetahui kedatanganku, siapa dia?' Batin Risuta.
__ADS_1