
Beberapa jam kemudian, “Kecepatan seorang naga memang menakjubkan!” Teriak Gauma, biasanya untuk mencapai Kota Lise dari Pegunungan Tusfoja butuh lima hari, tetapi karena ada bantuan dari Ryuu ( Naga ) menjadi beberapa jam saja. “Bagus untuk menghemat waktu,” Kata Risuta dengan nada seperti biasanya.
Mereka turun tidak terlalu jauh dari kota Lise, Risuta yang tidak ingin menjadi pusat perhatian karena Ryuu dalam bentuk naga meminta untuk turun tidak terlalu jauh dari Kota.
Kesan pertama yang terlihat pada kota ini, adalah ramai. Banyak orang-orang yang sedang berbincang sana sini , bernegosiasi, bahkan ada yang mabuk-mabukkan padahal masih siang, ya mereka meninggalkan Pegunungan saat dini hari.
Arsitektur di Kota Lise seperti kota pada umumnya, yang dipenuhi kedai-kedai, toko, maupun restoran. Gauma menjatuhkan matanya pada salah satu restoran, “Ayo, makan dulu, dari tadi kita belum makan,” Kata Gauma mengajak makan, yang disetujui oleh semua orang, Nobu yang belum pernah memakan makanan kota menjadi bersemangat, sedangkan Ryuu dan Risuta biasa saja.
Setelah selesai makan, mereka bertujuan menuju salah satu toko peralatan untuk membeli senjata, toko yang mereka pilih menjual senjata dan sebagai tempat pelelangan—Informasi ini diberitahu oleh Gauma—, mereka memilih senjata mereka masing-masing, ketika Risuta melihat sebuah pedang berwarna hitam, ia terkejut, 'Mengapa di toko kecil seperti ini terdapat pusaka legendaris,' Batin Risuta. “Wah pilihan anda, cukup unik ya,” Kata salah satu penjual di sana, “Tetapi, pedang itu sama sekali tidak bisa diangkat, beberapa pendekar yang mencoba mengangkatnya terlempar, bahkan sampai ada yang tewas, jadi lebih baik adik tidak menyentuh pedang itu, jika tidak ingin ma-,” Belum selesai penjelasan yang diberikan oleh penjual, Risuta mengangkat pedang tersebut dengan satu tangan, “Gampang saja tuh,” Kata Risuta, sedangkan Penjual toko tersebut sangat terkejut, 'Bagai..mana bisa,' Batin sang Penjual, lalu tersenyum, “Sepertinya pedang itu sudah menemukan Tuannya, Silahkan pedang itu kuberikan gratis untuk Anda,” Kata Penjual tersebut formal, yang berarti menghormati Risuta, “Tapi tuan, bisa kuminta tolong, anggap saja sebagai balas Budi,” Lanjut Sang Penjual, “Bukankah itu sama saja kau tidak ingin memberikan pedang ini secara gratis,” Kata Risuta tajam sambil melirik kearah Gauma dan Nobu yang sedang memilih senjata, sedangkan Ryuu sudah memilih senjata buatan Risuta untuk dijadikan senjata.
'Tajam sekali anak ini, padahal terlihat masih sangat kecil,' Batin Penjual. Sang penjual tertawa canggung, “Tapi, baiklah, aku juga tidak menginginkan memiliki hutang Budi,” Kata Risuta yang membuat raut wajah Sang Penjual berubah sumringah, “Kalau, Tuan berhasil menyelesaikannya, saya akan memberikan saham saya sebanyak 5% kepada Anda,” Kata Sang Penjual, tetapi Risuta langsung menatap Sang Penjual tajam, “25%, jika tidak aku tidak akan membantu,” Kata Risuta tajam yang dibalas oleh Sang Penjual dengan anggukan pasrah, 'Kalau masalah ini tidak selesai, tokoku bisa bangkrut,' Batin Sang Penjual, sedangkan Risuta menerka-nerka masalah yang dihadapi oleh Penjual tersebut.
“Kalau begitu mari kita bicarakan masalah ini di dalam,” Kata Penjual. “Tunggu, tetapi ada satu syarat lagi,” Kata Risuta yang membuat sang Penjual geram, tetapi ditahannya hal itu, “Apa, Tuan?,” Kata Sang Penjual berusaha untuk bersikap lembut, “Senjata yang mereka pilih, tidak usah dibayar,” Kata Sang Penjual sambil menunjuk Nobu dan Gauma, lalu sebagai balas budi, Risuta menjeda sebentar lalu mengeluarkan senjata-senjata yang ia buat, “Jual ini di pelelangan,” Kata Risuta,” 30% dari hasil penjualan untukmu, sedangkan untukku 70%,” Lanjutnya, lalu berteriak kearah Gauma dan Nobu untuk memilih senjata sesuai keinginan mereka, tanpa perlu khawatir akan biaya. Setelah itu, Risuta pergi ke ruang pribadi sang Penjual untuk mendiskusikan tentang masalah tersebut, dan tentang kegunaan dan kira-kira harga senjata yang ingin Risuta jual.
“Jadi, Tuan, Ehm, Karena toko ini berkerja sama dengan toko di pusat kota Benua Aumeralia, Kota Negru, Toko tersebut mengirimkan bahan-bahan, maupun senjata dan beberapa barang lain untuk dijual disini, tetapi beberapa bulan belakangan ini prajurit maupun orang yang disuruh untuk mengirimkan barang ke sini, semuanya dirampok, karena itu kumohon bantu toko ini,” Mohon Penjual tersebut, “Apa isi kontrak dengan toko di Kota Negru?” Tanya Risuta, “E-h, itu, tidak bisa dibicarakan sembarangan,” Kata Sang Penjual, “Katakan!” Bentak Risuta yang membuat Penjual tersebut ketakutan, padahal di hadapannya bukan preman, tetapi seorang balita. “J-a-di, Kalau Toko ini tidak bisa memberikan keuntungan sebanyak 5. 000 Emas perbulan, maka toko ini akan jatuh ke tangan Toko di Kota Negru,” Kata Penjual atau lebih tepatnya pemilik toko tersebut.
“Berapa jumlah penghasilan perbulan sesudah dan sebelum berkerja sama dengan Toko di Kota Negru?” Tanya Risuta, “Sebelum bekerja sama 1.500 Emas, sedangkan setelah bekerja sama menjadi 10.000 Emas, Kenapa menanyakan tentang itu, Tuan,” Kata Pemilik Toko penasaran, “Hm, Jadi begitu,” Gumam Risuta dengan suara kecil, Pemilik Toko yang mendengar sedikit, tetapi tidak terlalu kedengaran berkata, “Apa yang anda bilang, Tuan, Suara Anda sangat kecil,” Kata Pemilik Toko. “Putuskan kontrak dengan Toko di Kota Negru, dan jual saja senjata-senjataku untuk sekarang,” Ucap Risuta lalu menjelaskan kegunaan senjata yang ada di kehidupan dulunya. “Kalau penghasilannya lebih menguntungkan, kamu harus memberikan 90% Saham mu kepadaku,” Raut wajah Sang Pemilik Toko berubah menjadi terkejut, hendak mengeluarkan kata pemberontakan, Risuta langsung menatap tajam Sang Pemilik Toko, yang membuat Sang Pemilik Toko sangat ketakutan, jika bisa memilih, jika ditatap seperti itu, atau menyerahkan tokonya, Sang Pemilik Toko pasti akan memilih menyerahkan tokonya, 'Padahal masih sangat kecil, tetapi tatapannya tidak main-main,' Batin Sang Pemilik Toko sangat ketakutan. “Apa di kontrak ada tertanda jika membatalkan kerja sama mengganti rugi?” Tanya Risuta, yang membuat Sang Pemilik Toko langsung menggelengkan kepalanya, “Bagus, lalu undang orang dari Toko Kota Negru kesini, dan ancam saja jika tidak mau, maka kerja sama akan dibatalkan,” Kata Risuta menjelaskan rencananya. “Tapi, Tuan,” Hendak memprotes keputusan Risuta, Risuta langsung menatap Pemilik Toko lebih tajam dari sebelumnya, “Lakukan saja!” Bentaknya. Lalu Risuta hendak pergi, tetapi ia menengok ke belakang, “Jika sudah selesai, cari aku, namaku Cyarisuta Ashurin,” Kata Risuta dan meninggalkan beberapa senjata yang ia buat lagi, untuk dijual di toko, “Lalu senjata yang tadi didepan juga dijual saja di toko, tidak usah dilelang,” Lanjutnya lalu keluar ruangan.
“Apa urusanmu sudah selesai?” Tanya Gauma kepada Risuta, Risuta hanya menganggukkan kepalanya, lalu berniat keluar toko, sambil menyimpan pedang legendaris di inventory -nya, Nobu dan Gauma yang penasaran akan urusan Risuta dengan pemilik toko yang baru saja mereka kunjungi itu. Risuta hanya diam tidak menjawab yang membuat Gauma dan Nobu semakin penasaran, “Lebih baik kalian seperti Ryuu, diam, apa senjatanya sudah kalian ambil?” Tanya Risuta baru sadar tidak melihat senjata yang mereka bawa, “Sudah, senjata Nobu dan aku sudah dimasukkan ke cincin penyimpananku,” Jelas Gauma. “Oiya, aku baru sadar, aku tidak melihat kau membawa cincin penyimpanan, dimana ranselmu, dan pedang tadi?” Tanya Gauma, yang membuat Risuta sedikit kebingungan untuk menjawab seperti apa, “Oh, jangan-jangan kalung yang dibuat Penguasa Pegunungan Tusfoja sebelumnya juga berfungsi menjadi penyimpanan,” Ujar Gauma mengambil keputusan sendiri, Risuta hanya membiarkannya saja. “Ada yang ingin kusampaikan pada kalian,” Kata Risuta yang membuat Gauma dan Nobu merasa penasaran dan bersemangat, mereka berpikir Risuta akan menceritakan, apa yang ia lakukan di ruangan Pemilik Toko tersebut. “Kita akan menginap beberapa hari di sini, sampai urusanku selesai,” Ucap Risuta tanpa ada keinginan sedikitpun untuk memberi tau urusan apa, “Risuta, ada urusan apa, ayo bilang,” Kata Nobu kepada Risuta, tetapi Risuta mengabaikannya yang membuat Nobu kesal, tetapi masih membujuk Risuta untuk memberi tau. “Sudah, semua orang memiliki urusan pribadi masing-masing,” Kata Gauma sambil mengacak-ngacak rambut Nobu berwarna perak yang sudah tumbuh itu, tanpa disadari Risuta sendiri, ia merasakan perasaan yang aneh saat melihat hal tersebut, tetapi langsung Risuta tepis jauh-jauh hal tersebut. Kemudian mereka berkeliling Kota Lise.
**Status
Nama : Gauma Sauki
Julukan : Guru Risuta dan Nobuoko, Tetua dari Sekte Mael
Ras : Manusia
Umur : 34 Tahun
Elemen : Api
Tingkatan Kultivasi : Tingkat Awan Ke-3
Hewan Peliharaan : Tidak Ada
Keahlian :
• Bela diri penguasaan menengah ke atas
• Pedang penguasaan rendah
__ADS_1
• Memasak penguasaan menengah ke bawah
• Kondensasi Energi Elemen penguasaan tinggi
• Pembentukan dasar lapisan menengah
• Menghindari serangan penguasaan menengah
[ Informasi lebih lanjut ]
Status ( Berdasarkan Informasi yang diberikan Nobu secara langsung )
Nama : Nobuoko Tadao
Julukan : ???
Ras : ???
Umur : 5 Tahun
Elemen : Kegelapan, dan api
Tingkatan Kultivasi : Tingkat Dasar Ke-8
Keahlian :
• Penggabungan Elemen Penguasaan Tinggi
• Menghindari Serangan Penguasaan Tinggi
[ Informasi lebih lanjut ]
Status
Nama : Cyarisuta Ashurin
Julukan : Murid pertama Gauma Saiki
Ras : Manusia
Umur : 3 Tahun
__ADS_1
Elemen : Logam, Air, Kayu, Api, dan Tanah, Kegelapan, Cahaya.
Tingkatan Kultivasi : Tingkat Mahir Ke-1
Hewan Peliharaan :
• Naga Tingkat Ke-10, Ryuu
Keahlian :
• Kondensasi Energi Elemen penguasaan rendah
• Pedang penguasaan menengah ke atas
• Pisau penguasaan tinggi
• Senapan dan Pistol ( Kehidupan lampau ) penguasaan tinggi
• Menghindari serangan penguasaan tinggi
• Memasak penguasaan menengah
• Pembuatan senjata penguasaan menengah ke atas
[ Informasi lebih lanjut ]
Status :
Nama : Ryuu
Ras : Naga
Umur : ??? Tahun
Elemen : Api
Tingkat Hewan Peliharaan : Tingkat Ke-10
Pemilik : Cyarisuta Ashurin
Keahlian :
__ADS_1
• ???
[ Informasi Lebih Lanjut** ]