
Di perjalanan menuju Sekte Mael, Nobu yang bosan, menajamkan pendengarannya, berharap mendapatkan hasil yang menyenangkan, seperti suara burung-burung yang merdu, atau berbagai hal lain, tetapi yang ia dapatkan hanya suara angin yang kencang. Sampai tanpa disengaja, Nobu mendengar suara seperti, “Tolong!, Tolong!”. 'Ayah, ayo kita turun sebentar,' Batin Nobu bertelapati dengan ayah angkatnya itu, 'Kenapa, Nobu?’ Jawab Ryuu. ‘Turun, dulu ayah,' Kata Nobu lagi. Risuta dan Gauma yang tidak mendengar apa-apa, hanya suara angin.
Secara tiba-tiba, Ryuu ( Naga ) turun, yang membuat Risuta dan Gauma bingung. “Hei, Naga Tua, Sekte Mael masih lurus itu!!!” Teriak Gauma, sedangkan Risuta yang menggunakan akalnya bertanya kepada Nobu, “Nobu, kenapa turun?”. “Sepertinya ada masalah di bawah,” Jawab Nobu, yang dibalas anggukan oleh Risuta.
Ryuu yang turun, membuat para perampok yang merampok desa terkejut, ada yang berusaha kabur tetapi langsung dibakar oleh api Ryuu, yang setingkat dengan Tingkat Surga. Sehingga perampok yang dibakar itu langsung menjadi debu.
“Oh, ini masalahnya, toh,” Kata Gauma yang mulai mengerti alasan Ryuu mendarat. “Risuta, Nobu, ini tugas pertama kalian sebagai murid, bersihkan mereka semua tanpa sisa!” Seru Gauma, “Tanpa kau perintah, juga aku akan melakukannya,” Kata Risuta datar, 'Sambil menyelesaikan 'hukuman’-ku,' Lanjutnya dalam batin.
__ADS_1
Nobu turun terlebih dahulu, “Lumayan nih, ada bahan percobaan,” Kata Nobu padahal para perampok berpakaian hitam itu berada di tingkat yang lebih tinggi, yaitu Tingkat Tinggi. “Setidaknya pedang baruku bisa menebas mereka,” Gumam Risuta. “Cih, masih anak-anak aja udh banyak bicara, palingan masih tingkat dasar, apalagi yang paling kecil tuh!” Ejek para perampok sambil menunjuk Risuta. “Daripada kalian, sudah berusia tujuh belasan masih di tingkat tinggi aja, tidak mau naik tingkat?” Balas Risuta, yang memiliki bakat Kultivasi yang tidak bisa ditandingi satu orangpun di Benua Aumeralia. “Masih tingkat dasar saja sudah banyak gaya,” Ejek perampok lagi, lalu Risuta menyerang mereka dengan kondensasi elemen kegelapannya. “B-a-gaimana bisa!?” Teriak perampok yang melihat kondensasi elemen. “Bocah itu setidaknya sudah mencapai tingkat mahir,” Kata perampok lainnya.
Sedangkan saat para perampok teralihkan oleh Risuta, Nobu sudah menggunakan katana yang dibelinya di Toko K, lalu berniat menebas leher seorang perampok, tetapi bukannya tertebas, katana itu malah berhenti tepat di leher perampok tersebut, Nobu yang terkejut, mencoba menguasai dirinya lagi, lalu mengalirkan energi elemennya ke dalam katana tersebut, “Aliran elemen!” Seru Nobu bersemangat, tetapi perampok itu sudah terlebih dahulu menendang Nobu, Nobu terlempar beberapa langkah, tetapi, ia menggunakan kakinya untuk menahan dirinya untuk menapak di tanah.
Risuta sudah mengeluarkan pedang legendarisnya dari inventory-nya. Risuta berhasil menebas kepala perampok tersebut dengan mudah, para perampok terkejut, “Setidaknya senjata itu berada di tingkat Epic,” Seru salah satu perampok, tetapi Risuta tidak memberikan mereka waktu untuk beristirahat. Risuta langsung menggunakan salah satu skill yang dipelajarinya, “Tarian tebasan,” Tubuh Risuta menari-nari dengan menggunakan pedangnya itu, di setiap ia melangkah akan ada korban dari kelompok perampok yang berjatuhan.
“Kejam sekali,” Gumam Gauma dengan suara kecil melihat cara Risuta menggunakan skill yang diberikannya. 'Bukannya terlihat indah, tetapi mengerikan,' Batin Risuta bergidik ngeri.
__ADS_1
‘Boommmm,'
Desa tersebut hancur sebagian, tidak ada warga-warga yang berlarian, menurut asumsi Risuta, para warga telah ditangkap, dan para perampok sedang menjarah dari rumah ke rumah.
Di sisi lain Nobu sedikit terdesak, perampok yang ia lawan seimbang dengannya. Walaupun sudah berusaha mati-matian Nobu tidak bisa menebas kepala lawannya, maupun melukai lawannya dengan parah. Sedikit dikagetkan dengan ledakan dari sisi Risuta, Nobu kehilangan konsentrasinya. “Cih, mereka tidak berguna, sampai menggunakan jurus itu karena bocah seperti ini,” Kata perampok tersebut. “Lebih baik kau fokus pada lawanmu, jika tidak, akan begini,” Ucap lawan Nobu itu, lalu menendang Nobu sebelum menyelesaikan perkataannya. Nobu yang tidak siap, ditendang lalu dihajar bertubi-tubi oleh lawannya, 'Apakah aku akan berakhir seperti ini?’ Batin Nobu lalu pingsan, Ryuu yang melihat itu berusaha menyelamatkan Nobu, tetapi Gauma melarangnya, “Kita harus mengajarkan kepada mereka, bahwa mereka sedang di medan pertempuran,” Ryuu hendak protes, tetapi tiba-tiba aura kegelapan yang sangat kuat terasa. Nobu bangkit dari posisinya, lalu menghajar lawannya bertubi-tubi dan cepat, sehingga ia mati. Lalu ia beralih ke perampok lain yang sedang berhadapan dengan Risuta, secepat kilat, kepala para perampok tersebut berjatuhan karena katana Nobu, setelah membantai semua perampok, Nobu terjatuh pingsan lagi. Gauma, Nobu, dan Risuta yang melihat itu kaget, 'Kekuatan yang sangat besar,' Batin Risuta. Lalu Risuta mendekati Nobu, dan membawanya kearah Ryuu dan Gauma.
Gauma mengecek Nobu sebentar, lalu berkata, “Ia baik-baik saja, lukanya juga sudah pulih semua, tetapi tenaganya habis,”. “Karena kau sih Nobu sampai seperti itu,” Karena kesal Ryuu melemparkan kesalahan kepada Gauma. Mereka berdebat sebentar, tetapi di dalam hati mereka sangat terkejut, 'Rahasia apa yang sebenarnya ada pada diri Nobu,' Kira-kira seperti itulah isi batin mereka berdua. Sebenarnya Risuta yang melihat Nobu seperti itu lebih terkejut dari Gauma dan Ryuu, tetapi ditutupi dengan wajah datar. ‘Aku tidak bisa melihat statusnya, dan tadi, bagaimana bisa, aura yang kurasakan setidaknya berada di tingkat tinggi ke-5,' Batin Risuta, 'Aku harus mencari tau tentang Nobu,' Lanjut Risuta lagi. “Aku akan membebaskan para warga dulu,” Ucap Risuta meninggalkan Gauma dan Ryuu yang bingung dengan apa yang terjadi pada Nobu.
__ADS_1
Setelah melihat peta dari sistem gamenya, Risuta langsung berlari ke arah para warga disekap. Ada beberapa yang meminta dibebaskan oleh Risuta, beberapa orang merasa takut, senang, ada beberapa warga juga yang meremehkan Risuta, berbagai macam ekspresi wajah maupun tindakan ditunjukkan oleh para warga. Setelah membebaskan semua warga, para warga berbondong-bondong mengangkat Risuta yang masih kecil itu, lalu berterima kasih. “Apa Tuan mau makan dulu?” Tanya kepala desa. Risuta hanya menggelengkan kepala dan pergi dari tempat tersebut dengan cepat, tanpa menghiraukan para warga yang memanggil dirinya.
Setelah berkumpul kembali dengan Ryuu, dan Gauma. Risuta menanyakan kondisi Nobu, dan hal yang terjadi tadi, berharap mereka memiliki informasi dengan hal tersebut, tetapi jawaban mereka tidak sesuai dengan yang Risuta harapkan. Mereka kemudian melanjutkan perjalanan menuju Sekte Mael, sambil menunggu Nobu terbangun, dan menanyakan tentang peningkatan kekuatannya secara drastis itu.