
Di kegelapan malam yang sunyi. Dalam sebuah gedung kosong tidak berpenghuni. Kegelapan menelan seorang remaja laki-laki, tetapi rambutnya yang berwarna pirang terang seakan memberitahu dunia bahwa ia berada di sana. Kulitnya yang sangat putih kontras dengan rambutnya yang bersinar. Bibirnya tipis, tetapi wajahnya sangat datar. Remaja itu terlihat sangat menawan, dilengkapi pupil mata birunya yang terlihat kelam dan dipenuhi kegelapan.
Seorang remaja laki-laki dengan umur sekitar 15 tahun-an yang menawan itu berbaring di sebuah meja berwarna cokelat muda yang terbuat dari kayu. Ia menatap atap kaca bangunan tidak penghuni yang tembus pandang untuk waktu yang lama. Matanya yang menawan itu melihat-lihat langit malam yang terlihat sangat indah seakan ia tidak akan pernah melihat langit malam yang sangat indah itu lagi.
“Ini akan menjadi hari terakhirku disini
." Gumam remaja itu dengan suara kecil, tetapi makna yang terkandung dalam kalimat itu bisa membuat orang yang menyayanginya sedih. Setelah gumam-an penuh makna, secara tiba-tiba angin kencang berhembus seperti tidak setuju dengan kalimat remaja menawan itu. Hembusan angin membuat rambutnya yang pirang bersinar itu sedikitnya berantakan. Matanya yang biru, masih mengagumi langit-langit.
Kemudian, remaja itu meraba-raba dadanya yang berlapis pakaian yang membuat ia semakin terlihat menawan. Entah mencari apa. Tangan sebelah kanannya bergerak menelusuri dari kanan lalu tengah-tengah dada agak sedikit ke kiri. Iya, jantung, tangannya terhenti tepat di jantung. Ia merasakan jantungnya yang berdetak. Lalu, remaja itu mencari sesuatu dikantongnya dengan tangan kirinya. Beberapa saat kemudian, ia menemukan benda yang ia cari. Benda itu adalah pisau.
Remaja itu mengambil pisau yang tajam dengan tangan kirinya dan memainkannya dengan lihai. Sepertinya, Ia sering menggunakan pisau. Setelah itu, tangannya yang merasakan jantung itu, memegang pisau tersebut juga. Wajahnya ketika ia memegang pisau yang ditujukan ke dirinya sangat datar seperti ekspresi yang ditunjukkannya sedari tadi. Bagaimanapun terlihat pose remaja itu seperti ingin menusuk dirinya sendiri dengan pisau yang dipegang kedua tangannya ke arah jantungnya. Tidak terlihat ketakutan sedikitpun di matanya yang berwarna biru. Ia menusukkan pisau yang dipegangnya dengan cepat ke jantungnya.
__ADS_1
‘Jlebb.’
Kejadian yang terjadi di gedung tidak berpenghuni itu begitu cepat. Remaja itu memuntahkan darah segar dari mulutnya. Kemudian ia menutup mata birunya yang indah perlahan-lahan sambil meringis kesakitan. Mungkin juga meratapi kehidupannya yang mungkin menyedihkan. ‘Selamat tinggal.’ Batin-nya mengucapkan selamat tinggal kepada langit malam yang menemaninya di saat-saat terakhir.
Perlahan ia membuka matanya. Ia menatap langit-langit putih yang pertama kali dilihatnya setelah membuka mata dan matanya mengamati sekeliling yang hanya berwarna putih, tetapi pertanyaan mulai muncul di pikirannya ketika ia melihat seseorang yang duduk di kursi seakan ia memiliki derajat yang sangat tinggi. “Kau siapa?” Tanya Remaja itu karena reflek.
Wajah seseorang yang duduk di kursi itu seakan tidak bisa dilihat, ketika remaja itu mencoba melihatnya maka cahaya akan memenuhi penglihatannya. Hal itu membuat orang yang terlihat di kursi itu memiliki derajat yang sangat tinggi. Bukan hanya karena wajahnya yang tidak bisa dilihat wibawa maupun auranya terasa mengerikan membuat remaja menawan itu merasa ingin berlutut kepada-Nya. Meskipun wajahnya tidak terlihat, rambut maupun anggota-anggota tubuh lainnya masih terlihat. Rambutnya berwarna cokelat agak sedikit gelap. Kulitnya tidak putih, tetapi juga tidak hitam. Setelah selesai mengamati penampilan yang bisa dilihat oleh remaja menawan itu, otaknya mulai memproses berbagai prediksi untuk identitas orang di hadapannya.
“Aku adalah Sang Pencipta. Orang-orang di dunia kalian menyebutku sebagai Tuhan." Suara orang yang duduk di hadapan remaja yang menawan itu bergema di pikiran Risuta. Hal itu membuat Risuta merasa sedikit terkejut, walaupun ekspresinya yang datar tidak menunjukkannya. Akan tetapi keterkejutan itu tidak berlangsung lama, setelah beberapa saat otak Risuta mulai memprediksi kembali situasi yang akan dihadapinya nanti. Suara Sang Pencipta itu kembali bergema di pikiran remaja menawan tersebut. "Cyarisuta Ashurin, kau akan mendapatkan hukuman. Hukuman pertama adalah selamatkan orang sebanyak orang yang kau bunuh di kehidupan sebelumnya. Lalu yang kedua temukanlah kebahagiaan." Remaja menawan bernama Cyarisuta Ashurin yang menerima hukuman itu agak bingung walaupun wajahnya masih saja sangat datar seakan ia mengalami kelumpuhan otot wajah. Belum selesai Cyarisuta memproses informasi yang baru saja ia terima. Suara Sang Pencipta sudah bergema kembali di pikirannya. "Tentu saja kau akan mendapatkan bantuan. Pertama kau akan memiliki sebuah sistem seperti di dalam game. Kedua kau bisa mempelajari, mengingat segala hal di dalam buku hanya dengan menyentuhnya. Ketiga kau bisa memilih apa yang kau inginkan."
Tidak berpikir sedikit pun. Sang Pencipta mulai menjawab Cyarisuta. "Kau harus mencari taunya sendiri." Jawaban itu membuat Cyarisuta merasa kesal, akan tetapi wajahnya seperti biasa. Emosi yang sudah tidak pernah dirasakannya selama beberapa tahun mulai muncul kembali. Emosi itu terasa asing di hati Cyarisuta. "Kalau begitu apa keinginanmu?" Pertanyaan ini mengacu pada bantuan ketiga yang diberikan kepada Sang Pencipta. Setelah beberapa saat akhirnya Cyarisuta memutuskan, "Bantuan itu akan kugunakan suatu saat nanti." Jawaban Cyarisuta membuat Sang Pencipta terkekeh pelan. "Kalau begitu akan kuberikan ini." Sebuah kalung berwarna biru seperti mata Cyarisuta muncul secara tiba-tiba dihadapan Cyarisuta. Kalung itu bersinar dan secara tiba-tiba terpasang di leher Cyarisuta. "Kau akan segera mengetahui kegunaannya." Setelah itu Cyarisuta ditarik oleh sebuah hole berwarna hitam.
Cyarisuta Pov
__ADS_1
'Aku ada dimana?’ Tanya Cyarisuta pada diri sendiri di dalam pikirannya. Seketika Cyarisuta mengernyitkan dahi merasa sangat pusing. Refleks, ia menggunakan tangannya untuk memijit dahinya. 'Ini tanganku?' Batin Cyarisuta dipenuhi pertanyaan ketika melihat tangannya yang mungil. Perlahan pusingnya mulai mereda, kepala Cyarisuta sudah berisi berbagai prediksi tempat ia berada beserta situasi yang dialaminya.
Cyarisuta mencermati ruangan ini, terlihat tembok-tembok berwarna biru cerah yang agak sedikit dihalangi pagar tempatnya tidur dan beberapa anak-anak bermain kejar-kejaran di dalam ruangan yang terlihat antusias. ‘Sepertinya ini panti asuhan.' Prediksinya. ‘Dan ruangan bayi ini berisik sekali.’ Batinnya karena Cyarisuta menyukai ketenangan dan merasa terganggu. Tanpa diketahui Cyarisuta ternyata sudah waktunya untuk minum susu. Cyarisuta memperhatikan susu untuk waktu yang lama sebelum minum dengan wajah datar. "Bagaimana bisa seorang bayi berwajah sedatar ini." Pengasuh yang memberi Cyarisuta susu terkejut melihat wajah datar Cyarisuta. Rambutnya berwarna kecoklatan pendek. Matanya yang berwarna ungu menyiratkan kesedihan. "Baiklah aku akan memberimu kasih sayang." Katanya sambil mengangkat Cyarisuta dan mengendongnya penuh kasih. Cyarisuta yang berwajah datar menatap tajam ke arah Pengasuh, meskipun pengasuhnya sama sekali tidak melihatnya dan terkadang menepuk punggung Cyarisuta pelan. Hal itu membuat perasaan asing memenuhi hati Cyarisuta, akan tetapi perasaan itu langsung di tepis oleh Cyarisuta. Setelah beberapa menit berlalu, pengasuh itu pergi dengan tatapan tidak rela yang ditatap kembali oleh Cyarisuta tajam, membuat pengasuh itu merasa merinding.
Cyarisuta pun mulai memikirkan kembali hukuman yang dimilikinya. Tentu karena ia tidak yakin bisa menyelesaikannya, apalagi hukuman kedua. Untuk hukuman pertama juga agak tidak memungkinkan. Cyarisuta tidak bisa mengingat berapa banyak orang yang sudah ia bunuh dalam kehidupan sebelumnya. Alasan mengapa Cyarisuta tidak memprotes tentang hukumannya karena ia merasa hormat kepada Sang Pencipta. Cyarisuta hanya menghela nafas kasar.
Kemudian ia tanpa sengaja memikirkan tentang sistem game yang di katakan oleh Sang Pencipta. Ia tidak mengerti cara menggunakan sistem itu. Setelah beberapa menit mencoba berbagai cara untuk menggunakan sistem. Cyarisuta menemukan caranya. Ia memikirkan sistem game dan sistem muncul di hadapannya.
Ada banyak pilihan di dalam Sistem. Risuta hanya memikirkan status yang ada di dalam pilihan dan statusnya muncul di hadapannya berupa tulisan. Informasi-informasi yang diberikan oleh Status mudah dimengerti. Ada juga beberapa yang menarik perhatian Cyarisuta seperti Elemen, Tingkat Kultivasi, Keahlian, Skill dan lain-lain. 'Aku harus mencari informasi.' Batin Cyarisuta membuat tujuan baru.
Bukan hanya status Cyarisuta, ketika Cyarisuta memikirkan pengasuh yang memberikannya susu tadi, status pengasuh itu secara otomatis muncul. 'Jadi namanya Anne.' Batin Cyarisuta. Setelah itu ia mencoba menelusuri kegunaan yang ada pada sistem game, akan tetapi tindakannya diganggu oleh seorang pengasuh yang tadi memberinya susu. Pengasuh itu menyapa Cyarisuta penuh semangat dan akhirnya menemaninya sepanjang hari atau lebih tepatnya berbicara sendiri di hadapan Cyarisuta. Sampai Cyarisuta tertidur, Pengasuh Anne pergi dengan wajah yang agak suram karena diabaikan.
__ADS_1