Cyarisuta Life

Cyarisuta Life
Eps 2 : Perjalanan Baru


__ADS_3

‘Berdasarkan pengamatanku selama tiga tahun ini, benua ini bernama Aumeralia, rata-rata orang di benua ini adalah pendekar. Pendekar dibagi menjadi, Tingkat Dasar ( Ada dari 1 sampai 10 ), Tingkat Mahir ( Ada dari 1 sampai 10 ), Tingkat Tinggi ( Ada dari 1 sampai 10 ), Tingkat Awan ( Ada dari 1 sampai 5 ), Tingkat Langit ( Ada dari 1 sampai 4 ), Tingkat Surga ( Ada dari 1 sampai 3 ). Sekarang aku berada di Tingkat dasar tingkat 8. Cukup hebat untuk usiaku saat ini yang terbilang masih kecil. Di tingkatan tersebut juga ada jenis kekuatannya, ada tujuh jenis, Logam, Air, Kayu, Api,Tanah, Kegelapan, dan Cahaya. Aku menguasai semua elemen. Panti asuhan yang merawatku berada di desa terpencil sehingga aku tidak terlalu tau bakat-bakat yang bisa dibilang jenius. Jadi aku menganggap bahwa mungkin masih ada yang melebihi pencapaianku saat seusiaku. Desa terpencil itu bernama Desa Ușoară ( Dari Bahasa Rumania yang berarti Cahaya ),' Batinku mengingat-ingat informasi yang kudapatkan, tentu dengan bantuan sistem game. Sambil menyender di pohon yang kujadikan tempat berteduh, kuingat-ingat lagi informasi tentang Benua Aumeralia. ‘Benua ini bisa dibilang lemah, dan sering dijajah oleh Benua lain karena sumber dayanya yang sangat banyak dan berkualitas untuk seorang pendekar, Untungnya sekarang lagi masa damai, tetapi aku yakin tidak akan berlangsung lama,’ Prediksiku terhadap nasib Benua Aumeralia.


Tiba-tiba di tempat yang kujadikan berteduh, terdengar suara teriakan seseorang. “Tolong, tolong!” Teriaknya yang membuatku terganggu. Aku pergi ke tempat sumber suara tersebut dan menemukan seorang pria dari desa yang sedang dirampok oleh tiga orang remaja yang berada di tingkat dasar ke-5 ( Melihat status lawan dari sistem game ). ‘Sepertinya para remaja itu tidak rajin berlatih,’ Asumsiku karena aku yang baru berusia 3 tahun sudah mencapai tingkatan yang lebih tinggi.


Aku muncul di depan ketiga orang remaja itu, dan mengambil beberapa kerikil-kerikil kecil untuk senjata. “Wah, benar-benar berisik! Mengganggu saja!” Seruku yang berada di depan mereka. “Hahaha, Ada anak kecil, Udah kecil berlagak kayak bos, Hahahaha!" Tawa salah satu dari mereka yang membuatku kesal. “Diam, hanya tingkat dasar ke-5, banyak bicara!” Ejekku yang membuat mereka semua kesal.


Dengan cepat aku melemparkan kerikil kecil tersebut ke dada salah satu dari mereka. Dan remaja itu langsung terjatuh ke tanah, ya remaja itu mati, bukan hanya pingsan. “Apa yang kau lakukan!?” Seru salah satu dari kedua remaja yang tersisa—sebut saja M. Satu remaja lagi mengecek temannya itu dan terkejut. “Dia mati!” Kata remaja yang mengecek temannya itu—sebut saja X. “Sialan Kau!” Seru M marah. Kemudian M memukulku beruntun, tetapi tidak ada yang mengenalku. Lalu aku menatapnya sangat tajam, M langsung mundur dan membawa temannya yang tersisa lari.


“Binatang-binatang, seperti kalian mending mati saja!" Ejekku yang sepertinya sudah membuat mereka naik pitam, tetapi mereka tetap pada pendirian mereka, lari. Aku menengok ke-tempat pria yang dirampok terakhir kali, ‘Sepertinya dia sudah kabur.’ Pikirku dan kembali ke panti asuhan.

__ADS_1


Aku masuk panti asuhan dan disambut oleh pengasuh yang sering bersamaku—ralat menggangguku, “Risuta, selamat datang,” namanya Aiko Ayumi, orangnya hangat dan penuh kasih sayang. Sangat bertolak belakang denganku. Aiko selalu berusaha memberikan aku kasih sayang, tetapi aku tidak luluh. Sebaliknya aku merasa terganggu dengan keberadaannya, entah karena takut 'tembok' yang kudirikan runtuh atau hal lainnya. “Diamlah, Aiko.” Ucapku pelan, dan dingin membuat Aiko berhenti berbicara beberapa saat.


Di panti ini, tidak ada yang dekat denganku. Tentu karena aku selalu bersikap dingin dan mengejek orang yang ingin mendekatiku, cara yang sama pula aku gunakan ke Aiko, tetapi gagal. Aiko selalu mencari cara untuk dekat denganku, dan selalu kutanggapi dingin.


Suatu malam, aku sedang jalan-jalan keluar untuk berlatih, tentu diam-diam. Aku ke dalam hutan yang berada di dekat panti asuhan dan berlatih selama beberapa jam, tingkatku naik menjadi tingkat dasar ke-9. Untuk sampai ke tingkat mahir ke-1, aku harus berhasil melakukan kondensasi. Aku harus merubah elemenku menjadi senjata, atau bentuk lainnya, atau lebih tepatnya memadatkan energi elemenku sendiri.


Beberapa saat aku mencoba melakukan kondensasi tetapi gagal, sampai kusadari aku sedang diawasi. “Siapa kalian, keluar!” Teriakku yang menggema ke seluruh hutan, tetapi tidak sampai panti asuhan. “Hehehe, sepertinya sudah ketahuan.” Ucap satu orang berbaju hitam—sebut saja A. “Sayang sekali, waktu pembunuhanmu harus dipercepat!” Ucap yang lainnya lagi—sebut saja B. “Seharusnya, kau diam saja. Lalu kami akan membunuhmu,” Kata orang lainnya lagi—sebut saja C. “Sudah keluar semua!?” Tanyaku karena merasa masih ada satu orang lagi yang bersembunyi. “Kau pikir kami bertiga saja tidak cukup untuk membunuhmu!?” Teriak B kesal dan melesat membawa belati kearahku. Aku menatap A, B, C tajam, kemudian ketika B sudah dekat denganku, aku mencoba memelintir kepala B.


Suara kepala yang terpelintir sangat mengerikan sepertinya bagi mereka, tercetak jelas di wajah mereka, wajah ketakutan, tetapi sayangnya bukan aku yang mengalami hal tersebut. 'Sepertinya orang yang masih bersembunyi bukan kelompok mereka, jika satu kelompok pasti ia sudah turun tangan, Semoga orang itu di pihakku' Batinku, “Bagaimana bisa! Kau kan baru sampai tingkat dasar ke-9!” Seru A kaget. Sekedar informasi, pembunuh yang kupelintir kepalanya tadi sudah sampai tahap mahir ke-2. “A, jangan membuang waktu, segera ringkus dia, dan bunuh,” Teriak C ke A. Berkat ucapan C yang membuat A tenang, aku sedikit terdesak. Aku kesusahan untuk menangkis serangan kondensasi elemen bertubi-tubi bergantian, bukan hanya karena tubuhku yang masih kecil, tetapi karena tingkatku masih di bawah mereka berdua. Kemudian C mengkondensasi elemennya lagi—api menjadi bola api dan menyerangku. Aku terpental karena serangan tersebut, “Cih, sampai kapan kau mau menonton, Hah, Aku akan kabulkan satu permintaanmu apa pun kalau kau menyelamatkanku,” Teriakku karena tidak bisa bertahan lagi. “Apa yang bisa kau berikan padaku!” Serunya lantang menjawabku dan menggema ke seluruh hutan. “Apa pun satu permohonanmu!” Teriakku. Saat itu C dengan secepat kilat mau menusukku dengan pedang apinya. Tiba-tiba pedang apinya hancur tidak bersisa, “Kalian berdua, cepat pergi kalau tidak mau mati!” Ucap orang yang menolongku tersebut tanpa memunculkan wujudnya. Dengan cepat A dan C kabur karena mengetahui tidak segampang itu menghancurkan pedang hasil kondensasi elemen, setidaknya pendekar tersebut sudah berada di tingkat tinggi ke-6.

__ADS_1


Orang itu memunculkan dirinya didepanku, “Kau sangat kejam,” Ucapnya. “Membunuh orang tanpa belas kasihan,”. “Setidaknya aku tidak seperti kau yang melepaskan orang yang mungkin akan membunuh orang-orang tidak bersalah,” Balasku kesal karena mereka tidak mati. Orang itu tertawa. “Sekarang apa permintaanmu?” Ucapku dingin yang sudah siap akan kehilangan kesempatan untuk meminta permintaanku sendiri ke Tuhan. “Kau menjadi muridku,” Katanya kepadaku, “Kau sangat hebat, baru berumur 3 tahun sudah mencapai tingkat dasar ke-9,” Lanjutnya memujiku. “Aku tidak percaya, memang tidak ada yang lebih hebat saat seusiaku?” Tanyaku. “Kau tidak tau?” Tanyanya dengan wajah terkejut. Aku menggelengkan kepala. “Orang-orang biasa yang rajin berlatih bisa mencapai tingkat dasar ke-9 setidaknya butuh waktu 6 tahun, kalau berbakat mungkin, hanya 5 setengah tahun, itupun jika rajin berlatih,” Katanya yang membuatku merasa jenius. “Oiya, kenalkan, namaku Gauma Saoki, berasal dari Sekte Mael, aku ingin mengajakmu ke Sekte dan menjadi gurumu,” Kata Gauma. “Baiklah, aku ikut.” Balasku setuju. “Oke, ayo kita pergi!” Katanya bersemangat. “Tunggu, aku akan izin ke panti dulu dan membawa beberapa keperluan,” Ucapku tanpa nada. “Oke, aku akan ikut,” Putusnya dan mengikuti aku kembali ke panti. Seperti biasanya, Aiko menyambutku—sepertinya Aiko menduga aku pergi saat pagi, bukan malam—, tetapi agak bingung dengan orang di samping kiriku. Gauma dengan cepat menyadari situasi dan memperkenalkan diri ke Aiko. Kemudian kami berdua hendak bertemu kepala panti, tetapi “Risuta—aku sudah mengenalkan diri pada Gauma—kau beres-beres saja dulu, aku akan bicara dengan kepala panti,” Kata Gauma padaku. Aku hanya menyetujui dan kembali ke kamar untuk berberes. Setelah selesai, aku membawa ransel yang berisi keperluanku dan ke ruang kepala Panti untuk bertemu dengan Gauma. “Risuta, ayo pergi, kepala panti sudah menyetujuinya,” Katanya padaku. Lalu aku mengikuti Gauma, “Kau tidak berpamitan dengan pengasuhmu?” Tanyanya padaku. “Aku tidak merasa hal itu harus,” Kataku dingin yang membuat dia langsung terdiam. “Kita langsung ke Sekte Mael?” Tanyaku kepada Gauma. “Tidak, kita akan berpetualang sebentar, lalu kembali ke Sekte Mael beberapa bulan lagi,” Jawabnya. “Kalau begitu lebih baik kita ke arah Utara, di sana ada Pegunungan Tusfoja, tidak terlalu jauh, dan banyak sumber daya alam,” Kataku sambil melihat peta dari sistem game. “Tidak, Pegunungan Tusfoja terlalu berbahaya, kau masih tingkat dasar,” Bantahnya karena mencemaskanku. “Pergi atau tidak, itu keputusanku, dan lagi aku akan baik-baik saja,” Ucapku tidak menerima penolakan dari Gauma. ‘Tentu aku akan baik-baik saja, aku memiliki pusaka legendaris pemberian Tuhan, hanya saja sayang kalau digunakan untuk pembunuh-pembunuh itu ( A,B,C ),' Batinku. Akhirnya mau tidak mau Gauma menuruti Risuta untuk pergi ke Pegunungan Tusfoja.


Informasi : Pusaka Legendaris


Nama : Skywend


Pencipta : Shuon


Kegunaan :

__ADS_1


Jika pengguna dalam keadaan yang sangat berbahaya, pusaka akan otomatis melakukan penyembuhan, bisa digunakan 3× dalam sehari.


Kegunaan lain masih belum diketahui.


__ADS_2