
seperti tersambar petir saat aku tau kabar bahwa perusahaan ayahku telah bangkrut.
dan ibuku masuk rumah sakit.
"Sayang". panggil ayah padaku lalu mengajakku duduk di sofa rumah sakit. Aku menoleh padanya lalu mengikuti ayahku yang sudah duduk.
Ayah menghembuskan nafas berat seperti tak ingin mengucapkan kalimatnya. " Nak perusahaan ayah sudah bangkrut, dan bundamu sekarang masih belum sadar. Tapi ayah harus mengatakannya sekarang nak sebelum terlambat".
"Nak menikahlah dengan anak sahabat ayah besok!". dengan nada sedikit lesu merasa tak yakin akan ucapannya padaku.
Aku diam mataku menatap serius ke ayah tak yakin dengan apa yang aku dengar.
" Iya, menikahlah dengan anak sahabat ayah besok!". ulang ayahku karena melihatku yang tak percaya.
"Why?" tanyaku dengan agak sedikit gemetar.
__ADS_1
"Karena bisnis ayah tergantung pada pernikahan mu besok, dan sahabat ayah ingin mrmbantu ayah nak, dengan syarat ayah harus mau menikahkan mu drngan anaknya." jelas ayahku dengan tangan agak sedikit basah karena keringatnya.
"Bisnis!." ucapku sedikit sedih. "Karena bisnis ayah rela menjual anak ayah sendiri?"
"Bukan seperti itu nak."
"Suatu saat kamu akan mengerti kenapa ayah memohon ini padamu" lanjut ayah tapi masih dengan penyesalan telah meminta anak nya menikah. dan tak bisa menjelaskan apa-apa.
Aku langsung mengangguk meskipun hati ku berat menerima keputusan ini. Apalagi karena sebuah bisnis. Aku mengusap air mataku yang tiba-tiba menetes. Ayah hanya memandangku sambil tersenyum ia lalu mengucapkan terimakasih padaku.
Ayah lalu pergi kedepan ruangan untuk menelpon sahabatnya dan mengabari bahwa ayahku menerima lamaran anak dari sahabatnya.
Bunda tersadar dan memanggilku menggenggam tanganku dengan erat sambil tersentum. seakan sudah mengetahui bahwa besok aku akan menikah bunda hanya tersenyum dan mengucapkan bahwa nanti aku akan bahagia dengan dia.
Aku tak menjawab apa-apa pada ucapan bundaku. Dan yang ada di pikiranku saat ini hanya ingin menangis dan marah namun aku melihat bunda aku hanya berharap dengan pengorbanan anakmu ini kalian bisa bahagia ayah dan bundaku.
__ADS_1
handphone ku berbunyi telpon dari Reza pacarku. Aku lupa kalau ada janji dengannya buru-buru aku angkat telpon darinya.
"Sayang maaf hari ini kita tidak bisa bertemu. Bunda masuk rumah sakit dan aku harus menjaganya". Ucapku langsung to the poin.
" Okay no problem sayang. Aku menelponmu karena aku ada tugas dari perusahaanku dan aku yang dikirim ke Jakarta hari ini mungkin sekitar tiga hari aku baru balik".
"Okay kabari aku terus" lalu menutup telpon. Mungkin nanti waktu dia kembali aku akan membicarakan perjodohan ini padanya. Tapi apa ia masih mau mendengarkanku saat ia kembali dari tugasnya aku sudah menjadi istri dari anak sahabat ayahku. Dan apa ia akan menerima semua penjelasanku.
Tiba-tiba air mataku menetes lagi membayangkan semua ini berharap ada seorang malaikat datang mengabulkan permintaanku dan aku ingin kembali kemasa dimana perusahaan ayahku belum bangkrut lalu aku tak akan menjalani perjodohan karena masalah uang. Sudahlah nasi sudah menjadi bubur mengeluh juga tak akan mengembalikan semua ucapku dalam hati dan menatap bunda yang sedang terbaring lemah.
Aku menyayangi ayah dan bundaku. meskipun berat pasti akan tetap kulalui. Meskipun perjodohan ini tak mungkin berakhir dengan bahagia seperti drama-drama FTV. aku akan tetap menjalani nya demi orangtuaku.
__ADS_1