
"Selamat pak istri anda hamil" sambil menjabat tangan Hendrik.
Anes dan hendrik tercengang mendengar pernyataan dokter.
"Saya bukan suami nya dok, saya temannya" jrlas Hendrik yang belum sepenuhnya sadar dari keterkejutannya.
"Baiklah kalau begitu pak mohon di sampaikan pada suaminya bahwa ibu Anes hamil, dan ini resep agar tidak gampang pusing dan mual-mual." papar dokter laki-laki tersebut.
"oh terimakasih dok" ucap Hrndrik.
"kalau brgitu saya permisi"
Pikiran Snes langsung ngebleng mendengar penuturan dokter nggak mungkin dia hamil, dengan percobaan pertama. yah meskipun tanpa sadar juga. Anes mengacak rambutnya frustasi.
Hendrik yang melihat tingkah pegawainya seperti itu ia juga bingung harus bagaimana.
"Pak saya mohon jangan beri tau Dama tentang kehamilan saya"
"loh kenapa? dia ayahnya Nes kenapa ridak boleh tau?"
"Saya mohon pak" ucap Anes memelas dengan kedua tangannya memohon kepada Hendrik.
__ADS_1
"Saya akan menggugurkan anak ini pak" lanjutnya dengan mantap.
"kau bodoh anak itu tidak bersalah, kalau kalian tidak ingin punya anak kenapa kalian membuatnya!" rutuk Hendrik emosi.
"Ini kecelakaan pak, Dama mabuk dan pulang dengan menyebut nama Resa terus-terusan. waktu itu juga dia menyebut nama resa pak. jadi saya mohon jangan beri tau Dama " mohon Anes dengan memelas sembari air matanya yang tanpa sadar turun membasahi pipinya.
"Dama gila, sebegitu cintanya sama Resa. sudah gue kasih tau tuh orang kalau Resa dah bunting anak tunangannya!" rutuk Hendrik ngomel-ngomel mendengar penuturan Anes.
"Saya mengerti Nes, tapi kalau bisa jangan kamu gugurin anak ini. anak ini nggak bersalah. saya mau kok tanggung jawab anak kamu ini kalau Dama nggak mau tanggung jawab" ceplos Hendrik tanoa pikir panjang.
Anes yang mendengar penuturan Hendrik hanya menanggapi dengan senyuman. ia tak menganggap ucapan bosnya itu sungguhan. mungkin hanya ingin menghibur Anes. atau mengingat bahwa Dama juga teman pak Hendrik jadi ia menghibur Anes.
"terimakasih pak" lalu mengambil obat dan pulang.
dirumah mama dan papa Dama sedang asyik menonton tv. melihat Anes pulang di antar Hendrik drngan tampang Anes yang pucat membuat mereka berdua khawatir.
"Sayang kamu nggak papa? jam segini kok udah pulang? wajah kamu pucat banget sayang!, Hendrik kenapa dengan mantu saya? ucap mama Dama langsung membrondong pertanyaan.
" Satu-satu dong tan. Hrndrik bingung mau jawab yang mana". sautnya sambil mendudukan Anes di sofa ruang keluarga.
"Tadi Anes pingsan tan di kantor makanya Hendrik bawa pulang."
__ADS_1
"kenapa dibawa pulang? nggsk di bawa kedokter dulu kamu kan atasannya disana!" sewot mama Dama. keluar deh cerewetnya.
"Sudah tan, sudah Hendrik bawa ke dokter. kata dokter kecapean saja di suruh istirahat beberapa hari"
"ngomong dong.!" sambil menghampiri menantunya.
"gimana Hendrik bisa ngomong kalau tante dari tadi sudah sewot" balas Hendrik namun sambil nyengir.
"yasudah Hendrik pamit dulu tan" sambil memberikan obat kepada Anes yang sedang ngelamun.
"Sudah jangan dipikir. dengerin saran saya tadi ya Nes" ucapnya lalu beranjak dari tempatnya.
"loh ndrik nggak makan dulu?" tawar mama Dama.
"Sudah tan makasih, Hendrik ada meeting hari ini kalau begitu saya permisi tan" sambil mencium tangan mama dan papa Dama.
"iya hati-hati ya terimakasih udah nganter mantu tante."
*jangan lupa di vote dan share ya* biar semgat nulisnya.
happy reading
__ADS_1