
setelah insiden di toilet kantor Sinta seketika jadi buronan polisi. ia kabur entah kemana.
"Dam Sinta masih dalam tahap pencarian " lapor Hendrik pada Dama melalui telpon.
"baiklah, urusan Sinta gue serahin ke lo" dan meng akhiri telponnya dengan Hendrik.
sekitar tiga hari Anes dirawat dirumahsakit dan akhirnya ia bisa pulang Dama begitu perhatian Anes yang duduk di korsa roda masih sangat terpukul dengan kehilangan anaknya.
sesampainya di rumah Dama membaringkan Anes di yempat tidur. mama mertuanya menghampiri Anes dan Dama.
"Dama kamu ke kantor saja biar mama yang menjaga Anes"
Dama melirik Anes meminta persetujuan Anes sebenarnya ia masih tak tega meninggalkan istrinyA namun perusahaan sudah beberapa hari ia tinggalkan.
"Kamu kekantor saja Dam, aku sama mama aja, aku sudah mendingan kok " ucap Anes menenangkan Dama agar tak menghawatirkannya.
"Aku akan pulang cepat sayang, kamu baik-baik saja dirumah ya sama mama" sambil mencium kening istrinya Dama lalu beranjak pergi untuk kekantor.
dan sesampainya ia di Kantor skretaris Dama memberitahukan bahwa ada seorang tamu yang menunggu nya di ruangannya.
yah siapa lagi kalau bukan Resa mantan pacar Dama.
"Res kamu jangan biasakan seperti dulu ya datang dan masuk ke perusahaan saya. saya sudah punya istri kamu seharusnya juga malu sama perut kamu yang membesar! apa suami kamu tidak mengetahui kelakuanmu ini?" ucap Dama sedikit emosi karena melihat Resa yang tidak tau diri.
__ADS_1
"Maaf aku hanya rindu padamu!" ucap. Resa dengan tatapn sayu ke Dama.
Dama tersenyum kecut mendengar ucapan resa. "kamu benar-benar tidak tau malu ya res?" bentak Dama.
"Lupakan Dama, aku kesini selain merindukanmu juga ingin menanyakan kabar istrimu itu, apa benar istrimu sudah kehilangan anak kamu?"
Dama menatap Resa curiga ia berpikir apakah Resa dalang dari kejadian ini. kalau bukan, darimana ia tau kalau Anes keguguran!
"tau dari mana kamu?" Dama spontan menanyakan hal itu.
"Apa kamu memata-matai ku? atau bisa jadi kamu dalang dari istriku keguguran?" tuduh Dama langsung.
Resa hanya tersenyum sinis. " Apa kamu mencintainya Dam? setau ku kamu bukan tipe orang yang rela meluangkan waktumu demi perempuan!"
nada bicara Dama yang dingin membuat Resa yakin kalau Dama benar-benar mencintai Anes.
"dulu kamu tidak seperti ini padaku Dam." ungkit Resa.
"lihst dirimu Resa perutmu membuncit dan kau bersuami. apa pantas kau menghampiriku disini dan memohon kembali padaku?"
"lebih baik kau pergi dari sini atau ku panggilkan satpam agar menyeretmu!"
Resa tanpa membantah ia langsung beranjak dari duduknya dan menuju pintu keluar.
__ADS_1
Dama menekan telpon kantornya menghubungi seseorang.
"Kau bisa datang kekantorku hari ini?"
"baiklah saya tunggu ada tugas untukmu!" lalu Dama meletakkan gagang telponnya.
Dama menelpon orang kepercayaannya untuk mencari keberadaan Sinta dan mencari siapa dalang dari kejadian kemarin.
"berani-beraninya mereka bermain dengan gue" batin Dama.
####
di satu tempat sebuah villa di bandung yang tak banyak orang tahu kalau Sinta mempunyai villa disana.
disana Sinta bersembunyi dari kejaran polisi sampai keadaan sedikit tenang. Sinta menelpon seseorang dari ponsel yang ia beli dengan kartu sekali pakai.
"halo kak ini Sinta, bagaimana kak kakak sudah menjerumuskanku kedalam masalah kriminal Sinta sekarang jadi buron!" oceh Sinta ketakutan.
"bukannya kamu juga tidak menyukai perempuan tersebut? kenapa sekarang kau menyalahkanku Sin!" balas perempuan yang Sinta telpon.
#coba tebak siapa dalang dari kejadian Anes di kamar mandi. apa benar pemikiran Dama kalau sinta adalah kaki tangan Resa?#
cus pantengin novel ini ya jangan lupa like vote dan komen biar semangat nulisnya.
__ADS_1