DAMA

DAMA
Duabelas


__ADS_3

Dama yang mendengar sktetarisnya menyebut nama Resa ia langsung beranjak dari tempat tidurnya dan bergegas ke kantor.


Dama melihat wanita yang sampai detik ini masih di hati nya datang menemuinya namun ia tiba-tiba memikirkan Anes serta anaknya.


"Mau apa kamu kesini Sa?" tanya Dama. melihat perut Resa yang sedikit membuncit Dama mengingat kalimat Hendrik.


"Aku kesini ingin menemuimu saja Dam, Aku merindukanmu"


"setelah kau pergi demi laki-laki itu, kau bilang merindukanku?" Dama menertawakan Resa. seharusnya Dama bahagia Resa datang menghampirinya namun entah pikirannya sekarang di penuhi dengan Anes. ia takut Anes nekat menggugurkan kandungannya.


Dama hanya memainkan hanphonenya tak menghiraukan Resa berbicara. ia membu WA untuk mengabari Anes.


"Tunggu aku pulang dan jangan pernah berpikir untuk menggugurkannya"


"Apa kau sudah selesai bicara Sa? istriku sedang hamil dan ia ingin aku cepat pulang" ucap Dama berbohong.


"Jadi benar kau sudah menikah Dam?"


"Iya aku sudah menikah. saat kau juga pergi demi laki-laki itu" ucapan Dama sedikit ada penekansn karena ia juga kecewa pada Resa.


"Maafkan aku" ucap Resa dengan sesenggukan.

__ADS_1


"Apa kau mencintai istrimu Dam?"


"Tentu Sa, tentu aku mencintai nya kalau aku tak mencintai nya mana mungkin ia sekarang hamil"


"Aku pamit dulu kalu begiyu Dam maaf aku telah mengganggu waktumu. lain kali saja kita ketemu lagi"


Dama hanya menatap kepergian resa. tuba-tiba telpon Dama berdering. telpon dari mamanya.


"Ada apa ma?"


"Dama sayang istri kamu pergi ke rumah sakit apa kamu tidak mau menemaninya?"


"Anes krnapa kamu sangat keras kepala sekali sudsh ku bilang jangan kau gugurkan Anak kita" pikiran Dama hanya Anes akan menggugurkan kandungannya. ia mematikan telpon langsung dan bergegas keluar dari kantornya.


"Rumah sakit sejahtera nak" jawab mamanya.


Dama melajukan kecepatan mobilnya agar ia segera sampai.


ia menuju recepsionis rumah sakit dan menanyakan poli kandungan sebelah mana.


I melihat Anes sedang dduk bersama ibu-ibu yang hamil. ia swdang menunggu nomer antrian. ia lalu menggeret Anes keluar dari ruang tunggu.

__ADS_1


"Nes kan aku sudah bilang padamu semalam aku akan bertanggung jawab padamu" ucap Dama dengan mencengkran tangan Anes.


Anes meringis kesakitan karena genggaman Dama terlau erat. "Lepasin, sakit Dama!"


"Aku kesini untuk periksa kandungan bukan untuk menggugurkan. aku takut saja dari kemarin karena kau mencintai Resa aku hanya takut kau tidak akan bertanggung jawab pada anak ini." ucap Anes sambil menahan tangisnya.


Dama tiba-tiba memeluk Anes mencium puncak kepalanya. "maaf"


Dama melonggarkan pelukannya "Ayo kita periksa. aku yemani kamu" ucapnya.


dan Anes mengangguk saja.


hasilnya Anes jangan terlalu stres bisa-bisa janinnya akan gugur kalau ia terlalu stres. dokter memberikan resep penguat janin dosisnya saja bertambah.


"kamu sudah nggak mual lagi dekat-dekat denganku?" goda Dama.


Anes hanya menunduk malu atas candaan Dama.


"jangan buat mamamu mual-mual lagi ya jika dekat dengan papa" sambil mengelus perut Anes yang masih rata.


"Dama jangan gitu deh malu diliatin orang" karena melihat pandangan orang yang tertuju pada mereka berdua. karena ke uwuan Anes dan Dama membuat iri para ibu-ibu yang tidak ditemani duaminya.

__ADS_1


"kenapa malu, ini anak ku dan kamu istri ku " icap Dama PD.


#novel ini seru nggak sih guys??# komen ya dan vote kalau suka...


__ADS_2