DAMA

DAMA
Tiga


__ADS_3

Dama berjalan ke ruang tamu dengan membawa koper baju. Karena setelah pulang dari kantor ia disuruh mengambul barang-barang milik anes. Diruang tamu sudah ada mama nya, papanya dan juga Anes yang sedang berbincang.


"Dam taruh koper dulu dikamar ya setelah itu kamu kesini lagi." perintah sang mama.


"Dama kamu apa sudah makan?" Tanya mama. Dama mengangguk saja lalu pergi menuju kamarnya.


Dama melonggarkan dasinya dan melemparkan tubuhnya pada kasur. ia menatap langit-langit kamarnya membayangkan bahwa ia telah menikah dengan gadis yang tidak dicintainya. alasan Dama menerima perjodohan ini karena kekasihnya pergi menghilang entah kemana. Dama berpikir mungkin dengan menerima perjodohan ini kekasihnya masih bisa kembali karena cemburu. Pemikiran Dama yang masih ke kanak-kanak an memang tak sepadan dengan usianya yang sudah memasuki 28 tahun. Dama tak memikirkan apa-apa lagi tak berpikir tentang Anes ataupun resikonya yang ia pikirkan hanya Resa pasti akan kembali.


Dama berganti pakaian ke baju santainya lalu turun menuju ruang tamu.


"Dam kamu antar Anes berkeliling ya biar kalian juga semakin akrab" ucap mama Dama sambil tersenyum bahagia.


dama mengangguk lalu mengajak Anes berkeliling rumah menunjukan lokasi-lokasi rumah agar Anes tak kebingungan.


sesampainya di kolam renang Dama berhenti lalu duduk di gazebo di tepi kolam. tanpa sepatah kata pun.


Anes yg juga bingung ia hanya mengikuti langkah Dama dan duduk dengan tenang tanpa suara.


"Kamu jangan berharap lebih dengan adanya pernikahan ini ya" seru Dama tiba-tiba.


Anes mengkerutkan kedua alisnya bingung.

__ADS_1


"Pernikahan ini tanpa ada rasa satu sama lain orang tuamu hanya ingin bisnisnya kembali dan aku hanya ingin memanfaatkanmu agar kekasihku kembali padaku" lanjut Dama dengan intonasi datar.


"Oh, syukurlah kalau begitu, dengan begitu aku masih bisa pergi dari kehidupan kalian yang arogan"


Anes beranjak lalu pergi menuju kamar. ia merebahkan badan nya di kasur ia menangis dengan suara lirih karena ia tahan.


"Lo pikir gue suka dengan perjodohan ini, gue juga sadar kalau orang tua gue cuma berharap bisnisnya kembali." ucapnya lirih dengan sesenggukan.


"Gue juga nggak berharap apa-apa dari pernikahan ini! gue malah pengen lo nyerai in gue secepatnya" lanjut Anes.


karena kelelahan menangis ia akhirnya ketiduran.


Dama melihat wajah Anes yg basah karena menangis ia sedikit merasa iba pada wanita yang ada disampingnya.


"Apa ucapan gue agak keterlaluan ya?" pikir Dama dalam hati. ia lalu tidur dengan membelakangi Anes.


ke esokan paginya Dama duluan bangun pukul enam ia langsung. menuju kamar mandi dan bergegas ke kantor tanpa sarapan. Anes yang kesiangan bangun badannya sedikit meriang karena ia tidur sambil menangis. ia mengambil handphone nya yang berada di nakas 59 panggilan dari teman kerjanya. anes menepuk jidatnya meskipun ia sudah ijin ambil cuti karena bundanta sakit tapi pekerjaannya masih tetap berjalan karena ia brkerja sebagai skretaris.


Ia buru-buru menelpon balik temannya. "Anes lo kemana aja sih, gue telpon dari tadi nggak loe angkat." cerocos Lina dengan cemptengnya. ia lina adalah sahabat Anes di tempat kerja hanya saja lina bagian HRD Anes skretaris. dan saat Anes cuti Lina lah yang menggantikan untuk sementara waktu.


"Sori lin gue baru bangun tidur semalam nggak bisa tidur!" tak mungkin kan aku menceritakan semua pada Lina kalau gue sudah menikah entar jadi gosip sekantor.

__ADS_1


" Iya gue ngerti gimana keadaan bunda lo? apa sudah keluar dari rumah sakit?"


"sudah, besok juga gue uda masuk" jawabku.


"sukurlah nes, gue telpon lo dari tadi berkas yang buat meeting pak Hendrik mana? yang untuk invest di perusahaan The World nanti siang !"


"Belum gue kirim, bentar gue kirim ke lo"


"Ok deh gue tunggu!" ucap lina lalu mematikan telpon.


setelah mengirim pekerjaannya Anes turun dari kamar menuju dapur karena perutnya sudah keroncongan.


"Kamu baru bangun ya Nes?" tanya mama Dama.


"Iya ma maaf Anes kecapean tadi juga ada kerjaan yang baru kelar." jawab Anes tidak enak.


"Uda mama siapin sarapan mu di meja makan, besok kalau berangkat kerja biar di antar Dama ya sayang daripada kamu naik ojek."


"Tapi ma kan tempat kerja Dama beda jalan"


"nggak papa, kamu kan belum dapet supir mama masih nyari buaat kamu. Masak mantu mama naik ojek " ucapnya sambil tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2