
Dama melihat layar ponselnya terpampang foto dari resa mantan kekasihnya.
"Gua sadar hati gue masih cinta sama ni cewek, tapi entah kenapa gue bener-bener nggak mau balik sama dia." ucapnya dalam hati.
ia memijat pelipis kepalanya yang pusing suara ketukan menyadarkannya dari lamunannya. Hendrik temannya menghampiri lalu duduk di sofa.
"Dam gue kesini nyerahin laporan bulanan, gua anter sendiri karena gua pengen ngobrol sama elu" ucap Hendrik dengan santai.
"apaan?" blas Dama.
"gua mau ngajakin elu Dam ke acara liburan kantor"
"Nggak minat ndrik gue, lagian lo tau gue nggak suka. terlalu rame" tolak Dama langaung. karna memang Dama tidak menyukai hal-hal seperti itu. meakipun itu dari perusahaan cabang nya sendiri.
"Tapi Anes nggak ada yang jagain gua sibuk Dam besok mau ketemu klien jadi gue pasrqhin ke Anes dan crew disana."
Dama diam sambil menandarangani bwrkas yang di bawa Hendeik.
" Lo nggak kuatir anak lo Dam? Anes kan lagi hamil muda. "
"maksud lo apa?" Dama menatap sinis ke Hendrik.
"maksud gue bini lo kan hamil muda lo nggak kuatir dia gugurin lagi kandungannya. gue denger dari nyokaplo kemarin lo berantem sama Anes"
" tukang ghibah lu ya persis kayak nyokap gue" cicir Dama.
"gue ikut tapi Anes nggak boleh kerja besok"
putus Dama langsung mendengar celotehan yang. di lontarkan Hendrik membuat Dama kwatir apa yang di ungkap Hendrik.
__ADS_1
Hendrik hanya tersenyum tipis melihat Dama yang sudah bisa sedikit melupakan Resa. yah meskipun dengan ancaman anaknya.
\\\
pukul enam pagi Anes bangun dan mempersiapkan keperluan yang harus di bawa. ia memasukan pakaian untuk dua hari disana, peralatan mandinya, obat-obatan yang harus ia bawa mengingat dia sekarang hamil.
setelah semua selesai Anes membangunkan Dama yang masih tidur. ia berencana pamit lalu berangkat ke bandara.
" Jam berapa sekarang?" tanya Dama sambil mengusap kelopak matanya yang masih penuh belek.
"Jam setengah tujuh Dam. Aku mau pamit berangkat kerja." Anes yang sudah siap mengenakan pakaian kantornya.
"tungguin, kamu siapin koperku ya aku ikut kamu"
" Anes ini perusahaan aku juga kenapa aku nggak boleh ikut!" sambil mencubit lembut pipi Anes.
Anea tersenyum tipis atas perlakuan Dama. tapi ia langsung berdiri mengambil koper Dama.
" Kamu nggak ngurusin perusahaan utama?" tanya Anes.
"nggak, ada Tyas yang ngurus. Aku pengen ikut kamu sekalian jalan-jalan dan memperbaiki hubungan kita" teriak Dama dari kamar mandi.
Anes tak menyauti perkataan Dama ia hanya berpikir Dama baik padanya karena anak yang di kandung.
di bandara Lina yang sudah menunggu Anes bersama twman kantor satu divisi nya yang lain sumringah melihat Anes yang telah datang.
__ADS_1
"Gue pikir kita batal berangkat karena lu nggak dateng-dateng. tiket kita semua kan ada di elu. kalau elunya aja yang nggak jadi ikut nggak papa sih tapi." cerocos Lina seperti biasa.
"dasar lu ya Lin"
"lu kesini sama siapa? "
"Sama pak bos utama" jawab Anea enteng. karena memang twman satu kantornya hampir semua nggak tau wajah dari bos utama.
bos utama adalah sebutan untuk Dama. selama merwka bekerja di perusahaan ini yang mereka tau hanya nama Dama. yang memang pemilik keseluruhan dari perusahaan Nusa Jaya ini.
"Serius pak Dama ikut acara kita? biasanya kan nggak pernah ikut? " ucap Lina yang masih tak percaya.
" lu sejak kapan tau pak Dama nes?"
"Emmm waktu pertama gue masuk kerja saat nyokap gue di RS" ucap Anes betbohong.
Lina hanya manggut-manggut meng iyakan ucapan Anes.
"Lo uda punya pacar lagi ya? apa lo balikan sama Eza?" lina kalau sudah berbicara memang tak akan berhenti kalau lawan bicaranya belum pergi. meskipun mereka berdua berdiri Lina masih saja mengajak anes mengobrol.
"iya kemarin lo nggak masuk gue nelpon elu. yang ngangkat cowok "
Anes terdiam tak bisa menjawab ia sedang memikirkan jawaban nya.
" duduk lah nanti kamu kecapean " Ucap Dama sambil menggeret tangan Anes agar duduk disampingnya.
melihat pemandangan tersebut membuat lina melongo.
#sorry ya guys baru up maap lagi sibuk kemarin ada hajat#
__ADS_1
terus baca ya jangan lupa di vote dan like guys...