DAMA

DAMA
Empat


__ADS_3

Seperti biasa Dama bangun lebih awal. Anes yang juga tiba-tiba bangun karena gerakan Dama yang turun dari tempat tidur. Anes melihat jam di handphone nya. ia lalu duduk di tepi tempat tidur sambil menunggu Dama selesai mandi.


Dama keluar dari kamar mandi mengenakan handuk yang dililit di pingggang. ia lalu menhampiri Anes dan duduk di sampingnya.


"Sory tentang kemarin mungkin ucapanku ke kamu terlalu kasar" sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.


"Sudahlah Dam nggak papa, Aku juga sadar bahwa ucapanmu bener. aku cuma berharap kamu segera ceraikan aku."


"Setahun aku akan menceraikanmu, selama setahun juga bersikaplah layaknya istri di hadapan mama dan papa." ucapnya tegas.


"Hanya itu? baiklah, aku juga tak akan minta apa-apa padamu. hanya satu kita menikah pura-pura dan jangan ada hubungan. layaknya suami istri ketika di kamar" sambil mengulurkan tangan untuk mengajak salaman.


Dama menjabat tangan ku "Deal" ucapnya.


"oke aku mau mandi dan bersiap kerja" ucap Anes pada Dama.


setelah bersiap-siap mengenakan pakaian kerja Anes turun dari kamar menuju meja makan mengambil roti dan selai karena ia hendak sarapan di jalan. Dama dan mama Dama sudah menunggu di depan rumah ternyata.


"Pagi ma!" sapa Anes ke mama Dama.


"Pagi juga sayang".

__ADS_1


"Dama berangkat dulu kalau gitu ma. nungguin tuan putri lama sekali padahal Dama ketemu klien penting pagi ini" omel Dama.


dimobil hanya saling diam tak ada kalimat yang keluar dari mereka berdua. "Pak, Bu maaf ini kemana dulu? " ucap supir Dama yang memecahkan keheningan.


"Ke Nusa Jaya dulu pak, nanti baru antar ibu ketempat kerjanya" titah dama tanpa berpaling dari layar handphonenya.


"Tujuannya sama kok pak saya juga ke sana" Sanggah Anes.


"Baik Bu" ucap supir Dama.


Dama yang memang tidak tau dan tidak ingin tau melanjutkan aktifitasnya pada layar handphone.


Sesampainya mereka di tujuan mereka turun di depan loby kantor Lina sengaja menunggu Anes dan melihat Anes turun dari mobil dengan seorang pria.


Anes lalu menghampiri Lina dengan santainya.


"Lo di anterin siapa? "


"Anak temen ayah, yang bantuin perusahaan ayah lagi" iya Lina tau kalau perusahaan ayahnya sedang goyah.


"Oh, gue heran sama lo Nes! bokaplo kan punya perusahaan sendiri kenapa lo nggak kerja ikut bokaplo sih?".

__ADS_1


Anes hanya tersenyum mrnggapi ucapan Lina. " udah yuk gue di tunggu pak Hendra di ruangannya".


"tok tok" suara pintu yang diketuk. Anes lalu masuk dengan membawa dua cangkir kopi.


"Nes kenalin ini pak Dama dirut utama perusahaan kita."


Anes mengangguk saja. lalu pergi meninggalkan ruangan atasannya.


"Gue denger-denger lo udah nikah Dam? apa bener?" tanya Hendrik. Hendrik ini adalah temen kuliah Dama jadi jangan heran kalau mereka berdua bisa akrab. Hendrik di percaya Dama untuk megang kantor cabangnya.


"Iya gue udah nikah sama skretaris lo!" ucap Dama enteng.


"Yang bener Dam? " ucap Hendrik tak percaya.


"Iya gue lagi ngurus surat-suratnya minggu depan baru keluar. gue nikah juga pengen Resa balik ke gue. ngejar-ngejar gue."


"Dam lo gila ya? Resa itu pergi ninggalin lo sama cowok lain. dan lo nikah cuma pengen buat Resa cemburu ke lo. lo g mikirin Anes? " Hendrik tidak habis pikir dengan cara pikir Dama yang masih seperti anak-anak.


Dama cuma diem. "udahlah bro lo bantuin gue please biar Resa balik lagi ke gue!"


"Lo gila, uda dapet istri kayak skretaris gue masih aja ngejar Resa".

__ADS_1


#hay guys up dua episode hari ini d karena kemarin lagi sibuk# di baca di bagikan dan di like ya please heheh


ditunggu episode selanjutnya ya!!!


__ADS_2