
Tanpa persiapan apa-apa aku yang hanya mengenakan gaun tanpa lengan berwarna biru dengan make up tipis hanya bedak dan lipstik. Masih tetap di rumah sakit dengan bundaku yang sudah agak membaik. Dan ayah ku yang sedang berbicara dengan seorang penghulu di sofa rumah sakit.
Iya, tepat hari ini aku menikah dengan orang yang tak ku kenal dan masih dengan perasaan yang sama sedih karena hanya bisnis alasan kenapa aku menikah. mataku masih agak sembab karena seharian menangis.
suara pintu di ketuk, aku menoleh seketika dan melihat ayahku yang membukakan pintu. seorang pria paruh baya seumuran dengan ayahku masuk di iringi juga wanita yang seumuran juga namun terlihat seperti ibu-ibu sosialita. mereka berdua tersenyum dan laki-laki paruh baya itu memeluk ayah dengan gembira.
"Akhirnya kita bisa bertemu setelah sekian lama ya Dit".
Ayah ku hanya menanggapi dengan senyuman lalu kembali memeluk pria paruh baya tersebut.
" Ini om Rio dan ini istrinya tante Rina" ucap ayah memperkenalkan mereka berdua padaku. aku tersenyum lalu menyebutkan namaku "Anes om".
" Jangan panggil om panggil saja papa kan sebentar lagi jadi anak papa juga" seru om Rio.
Aku mengangguk mengiyakan ucapan beliau. tak selang berapa lama tiba-tiba pintu kembali di ketuk dan masuklah seorang laki-laki dengan perawakan agak tinggi, putih dan agak sedikit berewok tipis yang menghiasi wajahnya.
__ADS_1
"Maaf Dama sedikit terlambat karena ada urusan yang tidak bisa ditinggal." ucapnya sedikit bersalah. Namun dari raut wajahnya tak sedikitpun menunjukan rasa bersalah.
"Mari pa, om bisa kita langsungkan acara ijab nya. Maaf karena setelah ini saya ada meeting dikantor.
Dalam hati aku berkata "Sudah maen masuk tanpa permisi dan tanpa rasa bersalah karena sudah terlambat se enaknya saja mau langsung menikah."
Ayahku hanya mengangguk saja menurut dengan perintah bos ini.
ijab kabul sudah dilaksanakan dan disaksikan oleh kedua orang tuaku dan juga pihak keluarga mempelai pria. Bunda hanya tersenyum melihat hal itu. Setelah Dama pergi dari ruangan bunda kini hanya tinggal aku, bunda, ayah dan mama papa Dama.
"Tapi ma barang-barangku masih dirumah?"
"Biar Dama nanti yang ambil dirumah kamu, nanti kamu pulang bareng mama sama papa ya. lagian bunda mu juga boleh pulang kata dokter ." aku hanya mengangguk saja menurut.
Pukul empat sore aku berpamitan kepada kedua orang tuaku untuk pergi kerumah Mertuaku. ayah dan bunda tersenyum saja.
__ADS_1
"Hati-hati ya nak. yang rajin, nurut sama suami dan mama papamu!". titah bunda.
Aku tersenyum membalas ucapan bunda tanpa membalas ucapannya.
Ini semua karena bisnis aku menikah juga tidak dengan secara SAH jadi suatu saat aku masih bisa bercerai atau di ceraikan oleh Dama. hanya itu yang aku pikirkan sejak tadi saat berjalan di koridor rumah sakit.
dimobil aku hanya diam tak menunjukan ekpresi bahagia karena sudah menikah.
Sesampainya di depan rumah Dama bangunan yang megah dan besar lebih besar dari rumahku. pantas saja mereka bisa se enaknya main menjodohkan orang dengan embel-embel bisnis.
Mama menunjukan kamar yang berada di lantai dua paling ujung sendiri. " Itu kamar Dama, kamu istirahatlah dulu, nanti setelah makan malam biar Dama yang mengajakmu berkeliling ya sayang".
aku mengangguk lalu berjalan menuju kamar Dama yang paling ujung. Tidak dikunci, saat aku membuka kamarnya bau parfum yg di gunakan Dama menyebar ke seluruh kamar. Kamar Dama di dominasi warna biru.
Tanpa pikir panjang aku merebahkan badan ku di tempat tidur. Badanku yang sudah sakit-sakit dan teramat lelah karena tidak bisa tidur seharian di rumah sakit dan tak butuh waktu lama aku sudah terlelap.
__ADS_1