
*sory ya baru up lagi efek lebaran* happy reading guys.
Anes memandangi layar hapenya. sudah hampir tiga hari kekasihnya tak mengabari. sudah ia coba sms, wa bahkan telpon namun selalu tidak aktif. seperti hilang di telan bumi.
"Lo kemana sih za, selalu begini tiap dinas luar kota!" eluh Anes.
ia tak konsen mengerjakan tugas. kantornya gara-gara Eza.
"woy manyun aja neng ucap Lina mengagetkan Anes.
" makan siang yuk Nes, gue laper?" ajak Lina.
"Lo makan duluan deh Lin, gue nggak laper, lagian bentar lagi pak Hendrik mau ketemu kliennya." tolak Anes.
"Baiklah, lo kalau ada apa-apa cerita aja sama gue ya?" Lina tau Anes sedang banyak pikiran.
Anes hanya mengangguk meng iyakan.
pak Hendrik mengetuk meja Anes menyadarkan dari lamunannya. "Udah disiapin semua berkas-berkasnya Nes?" tanya pak Hendrik.
"Sudah pak, apa berangkat sekarang?"
pak hendrik mengangguk lalu pergi meninggalkan Anes. seperti biasa Pak Hendrik menunggu Anes di tempat parkir. mereka menuju kafe tempat janjian pak Hendrik dan kliennya.
__ADS_1
di perjalanan menuju kafe pak Hendrik membuka pembicaraan.
"Selamat ya, atas pernikahanmu dengan Dama" ucap Pak Hendrik dengan senyum.
"Bapak kok bisa tau?"
"iya tau Dama kan temen saya" balas Pak Hendrik.
"Pernikahan saya cuma pura-pura kok pak, hanya sebatas urusan bisnis. saya juga punya pacar" ucap Anes santai.
Hendrik cuma tersenyum mendengar pernyataan Anes. sesampainya di kafe mereka sudah ditunggu kliennya yang akan bekerja sama membuka bisnis restoran dengan perusahaan Hendrik. setelah semua di setujui dan menanda tangani kontrak kliennya pun pergi.
"Nes makan dulu yuk.?" Ajak pak Hendrik.
Anes tersenyum dan mengsngguk. saat ia hendak memesan makanan nya ia melihat Reza kekasih Anes sedang bersama seorang wanita dan seperti orang pacaran. bahkan ia berani berbohong kalau Eza sedang dinas luar kota.
Pak Hendrik reflek memanggil Resa dan menghampirinya.
"Hai sedang apa disini, bukannya lo lagi di jakarta?" sapa Pak hendrik pada Resa.
Eza kaget melihat wanita yang berdiri mematung di belakang Hendrik.
"Anes!" seru Eza.
__ADS_1
"kamu bukannya lagi dinas di Jakarta ya za?, kenapa bisa disini? terus wanita ini siapa?" tanya Anes menahan tangisnya.
"baiklah, kebetulan kamu disini, dan liat sendiri. ini Resa tunangan aku, mulai hari ini kita putus!" dengan entengnya Reza mengucapkan kalimat tersebut tanpa ada rasa bersalah.
tiba-tiba air mata Anes menetes tanpa ia sadari. "kenapa?"
"Anes, orang tuamu bangkrut, kita pacaran selama dua tahun sekalipun kamu nggak pernah mau melakukan hubungan sex dengan ku. kamu pikir aku bertahan drnganmu karena apa. karena harta orang tuamu. tapi sekarang ayahmu bangkrut tidak ada alasan lagi aku berpacaran denganmu!"
bogeman cukup keras yang tiba-tiba di layangkan pak Hendrik cukup membuat Eza kesakitan dan membuat mulut eza robek dan berdarah.
"Hendrik stop!" perintah Resa.
"Mending lo pergi deh jangan buat kerbutan disini" sambil membantu Eza berdiri.
"Dan lo please jangan gangguin hubungan gue lagi, gue hamil anak Reza!" ucap Resa, lalu pergi meninggalkan Anes yang menangis dan Hendrik yang terkejut atas pernyataan Resa.
Hendrik reflek memeluk Anes yang menangis tanpa bersuara. lalu mengajaknya pergi dari kafe tersebut.
"Nes, kamu nggak papa?" tanya Hendrik khawatir.
"saya tidak apa-apa pak, terimakasih sudah membantu saya tadi"
Hendrik menggaruk tengkuknya yang tak gatal "Sudahlah, tidak apa-apa. kamu kalau ada masalah bisa cerita dengan saya. anggap saja saya temanmu"
__ADS_1
Anes mengangguk.
Entah sejak kejadian di kafe itu Hendrik mulai sedikit tertarik pada Anes. ia selalu menghibur Anes saat di kantor. sering bertukar pesan setiap harinya.