
Aisya tak tau jika harap tenang! Versinya Ernest itu nyetorin nyawa. Tangannya sudah mengerat di jaket Ernest hingga buku-buku kukunya memutih, beberapa kali Aisya komat-kamit mengucapkan kalimat istighfar dan tasbih di atas motor seolah hidup dan matinya dipertaruhkan saat ini, "Ernest kamu gila!" jeritnya, bukannya sakit hati Ernest malah tertawa. Kali aja kan, dapet jackpot dipeluk Aisya, mueheheheh! Berdo'a sah-sah saja to?!
"Biar ke kejar Sya," teriak Ernest beradu dengan angin, untungnya helm Ernest fullface, jadi bibirnya tak bergelombang dan dower tertebak angin, "dimana?"
"Al Jabbar tour!" jawab Aisya setia memegang helm.
Begitu lihai ia membawa motornya, nyempal-nyempil, selap-selip diantara puluhan kendaraan di jalanan. Aisya menatap punggung tegap seorang remaja lelaki di depannya itu, dengan perawakan dan keahlian ini Aisya yakin jika rumor yang beredar di sekolah bahwa Ernest anak motor itu benar adanya.
"Nest, bisa pelan ngga. Jantung aku udah ampir lompat-lompat terus teriak kalo dia ngga kuat hidup lagi," teriak Aisya membuat Ernest tertawa kecil mendengar keluhan itu, "udah deket kok. Tuh!" tunjuk Ernest ke bangunan di depan, dimana halamannya sudah ramai oleh jemaah umroh, keluarga beserta karyawan disana.
Ernest mematikan mesin motornya, sementara Aisya sudah celingukan menyapukan pandangan diantara puluhan manusia berbaju batik hijau.
Hingga akhirnya netra bulat itu menemukan yang ia cari, "itu Nest. Itu ada umi sama abi'ku!" refleks Aisya berlari lalu memanggil keduanya.
Disana juga ada teh Arin, a Ikhwan dan teh Raudhah yang juga ikut mengantar.
"Abi! Umi!" sontak saja bukan hanya keduanya yang menoleh, namun orang yang mendengar suara Aisya ikut pula menoleh.
Gadis itu menembus keramaian orang disana, "abi ih jahat! Aisya ngga dikasih tau umi sama abi berangkat pagi ini!" gadis itu menghambur memeluk ayahnya, dapat Ernest lihat jika Aisya adalah gadis kecilnya abi. Dengan bibir merengut Aisya mengomel karena merasa disisihkan, sementara kedua tangan lelaki paruh baya itu erat menbalas pelukan Aisya dan mengusap punggung, sesekali ia menjiwir hidung Aisya.
Ada senyuman riang ikut menghangat melihat kedekatan mereka, ada pula rasa iri ingin seperti Aisya.
"Subhanallah, Ai! Sama siapa kesini nak, kamu bolos?!" tanya abi mengusap kepala di balik kerudung putih segiempatnya.
"Ai, harusnya kan kamu sekolah?!" umi ikut bersuara.
"Bolos nih pasti! Mau belajar jadi bandel!" tembak a Ikhwan menghardik.
"Kamu ngangkot, atau gimana ini?" tanya teh Arin, mereka cukup kebingungan melihat kedatangan Aisya, pasalnya baru saja berada di sambungan telfon sedang berada di sekolah, tapi sekarang sudah ada disini.
"Aku dianter Ernest kesini. Coba kalo ngga ada yang mau anter, mungkin aku ngga ketemu abi sama umi dulu!" katanya misuh-misuh.
"Ernest?"
Berbeda dengan umi dan Raudhah. Teh Arin, abi dan Ikhwan mengerutkan dahinya tak mengenal, "siapa tuh?!" tanya Ikhwan mulai meninggikan suaranya.
__ADS_1
Langsung saja umi dan Raudhah mengedarkan pandangan mencari sosok pemuda yang barusan disebut, dan ternyata ia tengah nyengir lebar hendak menghampiri keluarga Aisya, "pagi umi...pak, abang, kakak..." sapa Ernest.
Lain hal umi yang tersenyum ramah, Raudhah sudah menyipitkan mata usilnya. Begitupun Ikhwan menatap sengit penuh meneliti sementara abi dan Arin seolah sedang menilai dengan gaya kalem keduanya.
Ernest meraih tangan seluruh anggota keluarga Aisya dan menyalaminya satu persatu.
"Oh, ini yang namanya Ernest?" tanya abi.
"Iya pak." angguknya singkat.
"Lo temen sekolah?!" tembak Ikhwan tanpa keramahan, terkesan galak.
"Shh! Galak banget! Kaya 'asad..." pelotot Arin menyikut suaminya.
"Iya bang," angguk Ernest. Aisya sedikit tak nyaman dengan sikap galak Ikhwan, seolah menganggap Ernest adalah ancaman, tapi ia hanya bisa diam untuk saat ini. Hatinya tiba-tiba mencelos, apalagi jika keluarganya tau kalau Ernest berbeda? Mungkin a Ikhwan, belum apa-apa sudah mengusirnya.
"Kamu ngajakin Ernest bolos, Ai? Ck--ck! Tak patut, tak patut!" decak Raudhah menggoda adiknya.
"Oh, engga kak. Saya yang inisiatif buat anter Aisya, tadi ngga sengaja ketemu pas Aisya lagi terima telfon," jawab Ernest, ia tau tatapan dari kakak lelaki Aisya yang sejak tadi memandang melucuti padanya, tapi Ernest berusaha untuk tidak terintimidasi dan tetap tenang.
"Aa apaan sih!" tukas Aisya manyun nan sengit.
"Ck," kembali mata Arin membeliak melihat ke arah Ikhwan. Sementara Raudhah hanya cengengesan melihat Aisya dan Ernest kaya abis liat singa pms, aummm! Padahal dirinya pun begitu. Bagaimana jika a Ikhwan tau hubungannya dan Ahsan, auto digantung!
"Ernest makasih ya udah anter Aisya, maaf jadi ngerepotin." Senyuman tak pernah luntur dari wanita satu ini, membuat siapapun akan nyaman berada di dekatnya, berbicara dengannya, seperti julukannya umi (ibu). Gelarnya memang cocok, karena Ernest saja yang notabenenya baru mengenal uminya Aisya selalu merasa nyaman, hangat dan aman berbicara dengannya.
"Sama-sama umi." ia mengangguk aga sedikit dalam, mungkin dari sekian orang disini yang memperhatikan Ernest, Ikhwan lah yang benar-benar melemparkan sorot tatapan menembak, meneliti dan menilai pada Ernest.
"Kalian ngga dihukum, kabur begini?" tanya nya.
Baru saja Aisya akan buka suara, Ernest sudah memotongnya, "udah ijin ke guru piket barusan bang,"
Ai menganga di tempatnya bisa-bisanya Ernest berbohong dengan santainya, kaya udah pro! Padahal mereka tak tau, mungkin jika kembali ke sekolah, maka siap-siap saja keduanya dihukum.
"Kalian cuma berdua kesini, naik apa?" tanya Ikhwan.
__ADS_1
"Naik motor bang," kembali Ernest menjawab pertanyaan Ikhwan.
"Ha?! Naik motor?! Berduaan, nempel-nempel gitu?!!" bola matanya bahkan hampir keluar saking Ikhwan terkejut mendengarnya.
"Ih aa! Ya engga nempel-nempel juga atuh! Ada jaraknya!" tukas Aisya tak terima.
"Udah deh! Ngga usah dipermasalahin! Pokoknya aku sama Ernest ngga macem-macem, ngga ngapa-ngapain, ngga nempel-nempelan!" Aisya mengakhiri perdebatan sengit dengan kakaknya itu.
"Ai," tegur umi.
"Abisnya aa tuh, kaya seolah-olah Aisya tuh bikin dosa paling tak termaafkan aja!" pungkasnya.
"Udah---udah."
"Ya udah, abi sama umi pamit. Baik-baik disini, nurut sama orang-orang rumah, harus bisa jaga marwah. Semangat buat OSN'nya, abi do'ain...anak abi bisa lolos!"
"Aamiin,"
"Jangan lupa oleh-oleh," jawab Aisya memeluk erat dan menenggelamkan wajahnya di dadha abi.
"Emmhhh, anak abiii!" cibir umi dan Raudhah.
"Kalo gitu Ai pamit balik ke sekolah ya," ujarnya memeluk umi.
"Aa anter!" pinta Ikhwan.
"Ngga usah! Ai ngga yakin kalo dianter aa dunia tentram!"
.
.
.
.
__ADS_1
.