Dear, My'Hawa

Dear, My'Hawa
MELURUH


__ADS_3

Hampir semua mata membeliak, degupan jantung terasa berhenti saat itu juga termasuk Caroline yang tak menyangka jika dorongannya sekeras itu, setan memang selalu memberikan kekuatan tambahan untuk siapapun manusia yang diliputi hati dengki, iri dan penuh amarah.


Seperti mimpi, kejadian itu begitu cepat. Dalam hitungan detik saja kerumunan manusia menumpuk di depan sekolah.


"Aisya!"


"Bawa---bawa! Gotong!"


Badannya terhantam dan terpental hingga tergeletak tak berdaya di tempat, da rah segar keluar dari hidung dan luka kepala. Seketika Aisya tak sadarkan diri.


Teriakan histeris menggema membuat para guru, warga sekitar dan teman-teman kini dilanda panik. Supir angkot segera diamankan agar tak kabur, namun tidak dengan Caroline yang segera mundur dan berlari disaat fokua semua orang kini pada Aisya.


Ponsel A Ikhwan berdering, begitupun ponsel teh Raudhah dan Ernest.



Tak ada yang menduga disaat sukacita begini, Allah menurunkan ujian selanjutnya tanpa aba-aba atau tanda-tanda.



Gadis berpipi chubby dan merona bak buah yang tengah ranum nan matang itu kini terbujur kaku di atas ranjang HCU.



Sejak tadi Retno, Ayu, bersama kawan lain tak sedetik pun meninggalkan rumah sakit, sekalipun mereka tak dapat membantu apa-apa dan tak bisa melihat kondisi Aisya. Yang terpenting adalah mereka ada disana menemani Aisya.



Ernest berjalan cepat setengah berlari, sudah tak dapat ia rasakan lagi langkah kaki yang terkadang menabrak lautan manusia di selasar rumah sakit. Ia meninggalkan grandpa di belakang.



"Jangan ya Allah! Jangan Aisya, jangan Aisya!" sejak tadi batinnya melangitkan do'a.



Ernest menghentikan langkahnya demi mendapati rekan sekolah perempuan saling berpelukan dan menumpahkan tangisan, masih berharap jika mereka bukan sedang menangisi Aisya, *Hawa-nya*.



"Nest," gumam mereka, Ernest mendekat. Disana pula lah ia menjumpai teh Raudhah yang sudah berurai air mata baru saja keluar ruangan.



"Teh," sapa Ernest.



Isakan pilunya selaras dengan gerakan bahu yang bergetar, ia bersama Ahsan duduk di depan ruang HCU.



"Ai belum sadar. Gimana kalo Ai ngga sadar San? Apa yang bakalan aku sama aa bilang ke umi sama abi, ngga bisa jagain Ai?" adunya pada sang kekasih, Ahsan mengusap pipi Raudhah, "kenapa ngomongnya gitu, Ai pasti sadar...jangan ngomong gitu, ucapan tuh do'a Ra.."



Ernest tak mampu lagi berkata-kata, lidahnya terasa mati rasa. Baru saja ia akan ber-euforia karena lepas bebannya satu, kali ini Allah menjatuhkan kembali beban dan ujian yang lebih berat demi menguji iman dan takwanya.



*Ya Allah, seberat inikah ujianku*?



"Gimana kejadiannya?" tanya Ernest membalikkan badan. Retno dan Ajeng menceritakan kronologi kejadian meski diselingi isakan dan sesenggukan.


__ADS_1


"Subhanallah, ya Allah! Astagfirullah," abi dan umi setengah berlari mengejutkan mereka yang tengah berada di depan ruangan. A Ikhwan baru saja datang kembali dari menjemput kedua orangtuanya di travel.



"Ai, neng! ! Umi pulang sayang," umi yang baru pulang umroh kini harus dihadapkan dengan kondisi Aisya. Wanita sekalem umi sampai histeris.



"Umi---umi ! !" suami dan anak-anaknya sampai harus menenangkan umi yang merosot di lantai rumah sakit, menjadi bahan tontonan para pengunjung lain dengan masih berbalut baju syar'i hitamnya sepaket cadar. Semua potret itu menjadi pil pahit yang harus Ernest rekam dalam memori otaknya.



*Ya Allah, kenapa*?



"Umi, astagfirullahaladzim, istigfar umi!" teh Arin memeluk mertuanya seraya menguatkan diri untuk tak ikut menangis.



Tatapan a Ikhwan jelas sedang menyorot pada Ernest, "sini kamu!" mau tak mau Ernest mengikutinya.



Raudhah yang sadar dengan ketiadaan Ernest dan a Ikhwan mengikuti keduanya menjauhi ruang HCU.



Raudhah bersama Ahsan lantas berlari saat menemukan Ikhwan ingin melampiaskan amarahnya pada Ernest.



"Aa! Jangan A! Istigfar A!" tahan Ahsan dan Raudhah.




Sorot mata Ikhwan masih sengit dan tajam menatap Ernest.



"Iya! Anak-anak bilang, awal si pelaku dorong Aisya itu karena kamu! Dari awal kamu deketin Aisya, orang-orang sekitar kamu tuh ganggu adik saya! Sekarang kamu mau apa kalo Aisya udah gini! Mau tanggung jawab?!" teriaknya hendak meraih Ernest.



"AA!" bentak Raudhah, "istigfar! Aa teh udah fitnah orang! Ini semua tuh Allah yang kasih, udah jadi suratan takdirnya Ai harus kaya gini, kehendak Rabb! Ujian buat kita semua termasuk Aisya!" sengit Raudhah terkadang geram juga dengan sikap emosional abangnya.



Ikhwan menatap Raudhah lama, lalu kemudian tatapannya melunak dan berubah jadi sebuah kesedihan yang teramat berat.



"Ra tau, aa kaya gini karena aa teh lagi kecewa sama diri sendiri. Tanggung jawab aa gede buat lindungin keluarga sebagai anak laki-laki pertama abi--umi. Aa juga sayang Ra sama Ai, sampe kadang kita kewalahan sama *sikap melindungi dan menjaganya* versi aa. Tapi aa lupa sama gimana caranya bersikap baik sama orang! Sampe sikap bijaknya A Ikhwan teh hilang karena saking takutnya Ra sama Ai melenceng dari aturan," Raudhah memeluk Ikhwan.



"Bukannya kita teh harusnya sekarang sibuk melangitkan do'a buat Ai? Memperjuangkan Aisya buat dapet tindakan terbaik? Kasian umi sama abi kalo harus disana sendiri," tangisnya menenggelamkan wajah di dadha Ikhwan.



Ernest kini dapat melihat antara yang beriman atau tidak, disaat situasinya seperti ini *orang beriman akan mempercayakan semuanya pada sang Pencipta* dan lebih memilih berikhtiar ketimbang sibuk menyalahkan orang atau marah-marah.



Ikhwan mengusap wajahnya kasar, "astagfirullah----" berkali-kali mulutnya komat-kamit melafalkan kalimat istigfar.

__ADS_1



"Maaf," tatap Raudhah sekilas pada Ernest yang diangguki pemuda ini. Ikhwan berlalu kembali ke ruangan HCU, disusul Raudhah.



Ahsan menepuk pundak Ernest, "udah santai aja. Abi--umi mah baik, yang galak cuma a Ikhwan aja." Ujarnya memberikan informasi yang sebenarnya Ernest sudah lebih tau dan berpengalaman menghadapi keluarga Aisya meski baru mengenal.



Ernest menyunggingkan senyuman miringnya, ia kemudian menyusul ke depan ruang HCU, yang ternyata sudah ada grandpa bersama kedua orangtua Aisya sedang mengobrol, disusul a Ikhwan bergabung bersama teh Raudhah.



"Nest!"



Abi tersenyum getir melihat Ernest, "assalamu'alaikum Ernest. Semoga istiqomah..." ucapnya tersenyum mengusap pucuk kepala Ernest.



"Wa'alaikumsalam." jawab Ernest bergumam.



Selanjutnya umi yang tersenyum di balik cadar, terlihat dari ekor matanya yang menyipit, "masyaAllah Ernest dikasih anugrah hijrah ya sama Allah, semoga istiqomah nak..." ucap Umi mengusap cuping kuping Ernest.



"Makasih abi, umi..." jawab Ernest, meskipun Ikhwan masih belum mau berkata apapun namun sorot matanya tak setajam tadi.



"Keluarga pasien Aisya?" Seorang suster keluar dan memanggil.



"Saya ayahnya sus," abi berdiri dan menghadap.



Umi menepuk Ernest, sejak kedatangannya 3 jam yang lalu. Belum sedetik pun Ernest beranjak dari tempatnya, padahal teman yang lain sudah pulang.


"Mau liat Ai?" tawarnya.


Mata Ernest langsung berbinar, "boleh umi?"


Umi mengangguk, "tapi cuma bisa liat dari jendela aja...belum boleh masuk sama dokter--susternya, insyaAllah nanti langsung operasi," matanya kembali berair, putri kecil yang biasa ia peluk, yang ia harap siang ini bisa bebas menggelayuti lengan kini tak bergerak sedikit pun, jangankan ia peluk...ia sentuh saja sulit.


Kaki Ernest mendadak tremor, ia sangat berharap jika pasien di dalam bukanlah si pipi chubby-nya.


Hingga langkah Ernest semakin gontai mendekati ruangan Aisya, dan ia meluruh di lantai saat sedetik lalu netranya menangkap penampakan seorang gadis dengan semua alat bantu hidup terpasang di badan Aisya.


"Aisya...." Ernest memegang dadhanya yang mendadak sesak terhantam sesuatu yang tak nampak.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2