Dear, My'Hawa

Dear, My'Hawa
CAROLINE SI PENGADU


__ADS_3

90 menit yang bikin tegang sudah dilewati para siswa yang terjaring di setiap bidangnya.


Aisya menghela nafas lelah, "alhamdulillah," tapi kemudian ia kembali mengecek semua jawabannya barusan, takut ada yang terlewat atau tak yakin. Netra bening itu bergerak naik dan turun sesekali alisnya mengerut menandakan jika otaknya tengah berpikir keras. Aisya berharap jika tes kali ini, ia dapat mewakili kembali nama sekolah di tingkat kota, sukur-sukur berlanjut ke tingkat provinsi, nasional dan internasional, aamiin. Meskipun nantinya kegagalan yang akan ia dapatkan, hal itu tetap tak akan menyurutkan niatannya menuntut ilmu ke Turki, dimana salah satu kampus disana adalah kampus impiannya.


Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan jalannya menuju surga. (HR. Muslim)


"Edyann dong! Pertanyaannya itu loh!" Nistia bahkan sudah menyeka keringat di dahinya. Sementara Gibran dan Ajeng berwajah tegang nan pucat butuh penyegaran sebangsa es cendol atau es jeruk, may be.


"Ha-ha-ha, muka-muka lo itu! Kaya kesirem air accu, pucat!" tawa Ardi. Mereka keluar dari ruangan yang dilengkapi dengan fasilitas laptop disetiap mejanya, pengawas dari pihak sekolah dan dinas masih berada di dalam untuk mengumpulkan dan merapikan hasil kerja mereka untuk selanjutnya di periksa dan dinilai bersama.


"Go Ernest! Semangat ya Nest, sayang!" seru Caroline tertswa manis mengejutkan Ernest dan yang lain seraya menyodorkan sebotol yogurt, coklat dan kacang almond sebagai bentuk dukungannya. Rupanya gadis ini menunggu di sekolah bersama Celia hanya untuk memberi dukungan pada Ernest. Sosok dua gadis yang berperawakan bak model majalah sampul itu bergerak heboh memberikan dukungannya di depan Ernest, terlihat begitu antusias penuh tatapan kagum dan cinta. Aisya lantas mengalihkan pandangannya ke lain arah, tak ingin melihat itu. Ia bukan siapa-siapa Ernest, tapi tak dapat Aisya pungkiri ia cemburu melihatnya.


"Ai," senggol Ajeng menunjuk arah gawang pintu dengan dagunya, sebenarnya tanpa harus Ajeng menyenggolnya pun Ai sudah melihatnya, tapi tak tau kenapa seolah dunia ingin menunjukkan adegan ini secara jelas untuk Aisya.


"Anjayyyy, lebay amat!" bisik Nistia terkekeh.


"Misi ya!" seru Nistia.


Aisya yang posisinya berada di belakang Ernest bersama Nistia dan Ajeng memilih menunduk seraya berjalan ke samping kanan, dimana celah gawang pintu masih terbuka untuknya lewat.


"Ahay! Dapet kiriman nih Nest!" Nistia berlalu diekori Ajeng dan Aisya, ada rasa sedikit terkejut dan gejolak panas di hatinya, tapi sayangnya Aisya tak bisa melakukan apapun.


"Lo ngapain masih di sekolah Lin? Pulang gih!"


"Ihh, Ernest kenapa sih?! Gue kan mau kasih support buat lo!" ketusnya manja.


"Lo telat! Lagian gue udah selesai, tinggal nunggu hasil, lagian bikin lo repot!" tunjuknya ke arah makanan yang dibawa Caroline, gadis itu tersenyum kembali menyodorkan makanan yang ia bawa untuk Ernest, "ngga kok! Ngga repot sama sekali, buat lo apa sih yang engga?!" ia menggeleng.


Grep!


Aisya menghentikan langkahnya karena pergelangan tangannya terasa ditahan oleh seseorang.


Dengan tanpa melihat Caroline, Ernest menatap Aisya yang justru mengerutkan alisnya kebingungan, "gue ngga perlu support system lain Lin, by the way makasih sebelumnya. Tapi gue punya support system sendiri!" ia mengangkat tangan Aisya dan menggoyang-goyangkannya.


Caroline sempat terdiam ketika matanya menangkap satu pemandangan yang membuat ia melolong di tempat, manset baju Aisya merosot saat Ernest mengangkat dan menggoyangkannya dan menemukan gelang tali handcraft yang sama dengan gelang di tangan Ernest.


Aisya membulatkan matanya tanpa berkata-kata, sementara manusia yang ia pelototi membalasnya dengan cengiran lebar.


Caroline menghentakan kakinya dan menjatuhkan begitu saja makanan-makanan itu tanpa peduli lagi dengan sekitarnya seperti biasa. Sudah menjadi sifat gadis ini begitu, ia tak pernah peduli dengan orang lain atau sekelilingnya selain diri sendiri.


"Lin, tunggu!" Celia berlari menyusul Caroline.


Aisya mengibaskan tangannya agar terlepas dari pegangan tangan Ernest, "ck! Dia marah tuh, susul sana!" ketus Aisya berjongkok berniat memunguti yogurt, coklat dan setoples kecil kacang almond.


"Eh!" Ernest ikut berjongkok menahan Aisya, "ngapain dipungutin?! Kamu kalo mau nanti aku beliin!" Ernest berucap cukup sengit.


Aisya menghela nafasnya, "makanan ini ngga punya dosa apapun, Ernest. Dibeli pake uang orangtuanya, dibuat susah payah sama penjualnya...kalo ini cuma dilangkahin, diinjek-injek, gimana perasaan yang buat sama yang nyari uang buat belinya? Aku bukan mau makan ini, tapi mau mungutin biar bisa disimpen diatas," Aisya menaruh ketiga makanan itu di atas meja.


"Kalo kamu ngga mau, biar dikasih buat yang lain aja. Daripada mubadzir," imbuhnya lagi. Ernest tersenyum penuh kagum pada Aisya, "cocok nih!"

__ADS_1


"Buat?" tanya Aisya.


"Jadi Hawa'ku!" balas Ernest.


Aisya tersenyum merona nan malu-malu, "apa sih! Ngga mau ah!" cebiknya meninggalkan Ernest seraya tertawa tanpa suara di balik badannya.


"Ayolah, Sya! Ya---mau ya?!" susulnya.




A ikhwan sengaja datang ke sekolah Aisya untuk menjemput adik bungsunya itu. Pria dewasa berwajah teduh itu berdiri di depan gerbang dengan mengernyitkan alis menghalau sinar mentari yang sedang terik-teriknya.



"Ini kira-kira yang OSN pulang jam berapa ya pak?" tanya nya pada satpam.



"Waduh, saya kurang tau a..dicoba di telfon aja dek---"



"Aisya." Tembak a Ikhwan, tak perlu diberitahu, sudah sejak tadi ia menelfon nomor adiknya itu tapi nomor Aisya malah tak aktif.




"Ck!" Ikhwan berdecak untuk ke sekian kalinya saat si adik bungsu tak dapat dihubungi.



"Lin! Tunggu!"



Ikhwan melihat sesosok gadis keluar dari sana dengan tergesa dan sepertinya marah-marah, ia lantas menghampirinya untuk bertanya.



"Assalamu'alaikum. Maaf permisi dek," Ikhwan mencegat langkah Caroline.



Gadis itu mendongak, tatapannya meneliti dari atas hingga bawah, awalnya gadis itu sumringah saat melihat wajah rupawan nan meneduhkan Ikhwan, "iya?" balasnya ramah.


__ADS_1


"Maaf, saya mau nanya mungkin adek tau. Kalo siswa OSN masih melakukan tes?" tanya Ikhwan.



"Oh, OSN...baru selesai...katanya sih nungguin hasil!" Caroline melengkungkan bibirnya, tapi kemudian ia melihat lebih teliti lagi pria tampan di depannya, merasa tak asing seperti mirip....



"Maaf, abang ini siapa ya?" tanya Caroline mulai memicingkan mata tajamnya.



"Saya kakaknya Aisya Nurul Huda," jawab Ikhwan.



*Skak mat*! Caroline menyeringai.



"Oh, Aisya!" serunya.



"Aisya yang sering bareng Ernest Pradiawan, yang non muslim itu kan?! Sekarang sih Aisya lagi pacaran sama Ernest!" imbuh Caroline dengan nada mengompori. Sontak saja Ikhwan meradang sekaligus terkejut, "non? Pacaran?!!"



Caroline mengangguk cepat dan mantap, "emangnya abang ngga tau, selama kenal Ernest, atau justru Aisya ngga bilang kalo Ai sama Ernest pacaran?!"



Rahang tegas itu semakin mengeras, "dimana ruangan tes siswa OSN?!"



"Di ujung bang, deket sama ruang TU sama lab. Komputer!" tunjuk Caroline menyeringai puas.



Celia ikut tersenyum, "wah, gilaa kesempatan banget Lin! Tuhan emang sayang lo!" ucap Celia, saat Ikhwan dengan langkah besarnya masuk ke dalam sekolah.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2