
Ernest berjalan mencari toilet di bangunan masjid yang luasnya tak lebih luas dari tempat ibadahnya setiap weekend, bahkan terbilang sederhana, dengan berkeramik cream seperti batuan granit atau semacamnya, lalu pilar-pilar yang tak terlalu besar juga namun tetap nampak gagah menjulang.
...' Baitul Rahim '...
...(Rumah penuh kasih sayang)...
Begitu aksen emas yang terdapat di depan bangunan. Rasa penasaran itu dikejutkan oleh suara berat seseorang, "cari apa, a?"
Ernest menoleh sedikit tersentak, "oh, anu mas, saya cari toilet..." jawabnya nyengir. Sesosok lelaki dengan baju koko biru dan sarung hijau botol serta peci putih setengah lingkaran tersenyum ramah mempersilahkan dan menunjukkan Ernest dimana letak toilet.
Sederhana namun bersih, wangi karbol nampak seperti baru saja dibersihkan. Satu yang membuat otak cerdas Ernest berputar, dan itu selalu menjadi keunikan tempat berjuluk masjid.
Beberapa kran disediakan di setiap masjid dengan bacaan tempat wudhu di atasnya, yang ia tau jika di sekolah, Aisya maupun teman lainnya sering membasuh wajah dan anggota tubuh lain disana sebelum melakukan ibadah.
Karena rasa penasaran yang tinggi, Ernest ingin mencoba melakukan hal yang sama, memangnya apa bagusnya? Dan apa khasiatnya?! Apakah Aisya melakukan itu tanpa tujuan tertentu karena seingatnya Aisya pernah berkata jikalau sedang marah ia akan mengambil wudhu.
Ernest sudah berdiri di depan kran air, namun yang ia lakukan adalah diam. "Si Coki kalo ngambil wudhu tuh gimana ya?" pemuda itu mengingat-ingat.
Diputarnya kran air hingga air bersih nan sejuk keluar deras darinya, karena ia yang tak ancang-ancang cipratan airnya cukup mengenai celana Ernest, hingga ia terpundur dan bergegas mematikan kran air.
"Hoffttt!" ia menghela nafas lalu tertawa sendiri, "kacroet banget gue! Air Nest, itu air!" gumamnya bermonolog.
Baru kali ini Ernest merasa jadi manusia paling gagu di dunia, saat berhadapan dengan sebuah keyakinan, "gila sihh ini! Parah---parah!" tangannya sampai bergetar memutar kran, ia mencebik kesal, baru kali ini ia dikalahkan oleh sesuatu berjuluk wudhu, tapi seperti akan menghadap seorang raja, presiden, bahkan pencipta-Nya.
"Alahhh, bo do amat lah! Yang gue tau ya begini aja!" Ernest membasuh mulai dari tangan hingga ke siku setelah sebelumnya melepas jaket dan mengangkat ujung celana, kemudian kaki setelah itu rambut hingga ke ubun-ubun, telinga...yang ia lakukan adalah membersihkan daun telinganya dari kotoran, kemudian berkumur, secara sembarang dan tak berurutan.
"Ed an, seger!" ujarnya bergumam mematikan kran air. Tanpa sepengetahuannya, marbot masjid tadi menghampirinya lagi.
"A, punteun. Punya celana bersihnya ngga buat solat?" tunjuknya ke arah celana robek-robek yang Ernest pakai.
"Kalo mau, di rak ada sarung bersih buat solat." Ujarnya menawarkan kemudian kembali ke dalam.
Gleuk!
Ernest hanya tersenyum kaku, jangankan ibadah, ia saja bukan termasuk ke dalam golongan-Nya.
"Iya mas, makasih." Angguknya singkat. Lalu yang dilihatnya pria tadi kembali bergu mul dengan kitabnya.
"Ibadah apaan jam 2 malem gini?" gumam Ernest bertanya pada diri sendiri.
"Van, balik yuk! Udah malem banget, gue mesti sekolah besok!" ajak Ernest. Ia segera memeriksa ponsel yang ternyata sudah banyak panggilan yang singgah, terutama dari kawan-kawannya di ujung garis finish.
Aisya menaruh ponsel di meja tempatnya duduk bersandarkan tumbler minum, diantara riuh rendah suasana kelas Aisya bertelfon ria dengan kedua orangtuanya, "umi sama abi udah sarapan kan?"
Ayu menarik Retno yang baru saja datang dan bersiap berseru ke arah Aisya, "lagi nelfon umi-abinya," ucap Ayu dibalas oh panjang dari Retno.
"Alhamdulillah sudah, neng." Jawab Abi, dari sana terlihat abi yang sedang berjalan bersama umi dengan memakai pakaian ihram.
"Coba tebak abi sama umi mau kemana?" tanya umi dari sebrang telfon, lantas ibunya itu menunjukan jalanan menuju Masjidil Haram.
"Aaaaa! Pengen ikut!" rengek Aisya, ia bahkan sudah menggigit jemari gemas.
"Alhamdulillah umi sama abi dapet hotel yang viewnya langsung menghadap masjidil Haram," ujar umi bangga, name tag yang mengalung di leher bergerak seiring langkahnya.
"Disini jam segini udah panas banget, neng..." Umi menyeka garis tepi jilbab dimana matanya tertutup kacamata hitam.
"Bandung masih dingin mi,"
"Besok OSN kan? Abi sama umi do'ain Ai lolos...dimudahkan jalannya, dilancarkan segala urusan, aamiin."
"Aamiin," jawab Aisya singkat.
__ADS_1
"Umi juga do'ain aku ya!" tiba-tiba saja pemuda berwajah segar oleh air itu muncul dari belakang Aisya.
Umi tertawa disana, "Pagi umi, abi!" sapanya pada kedua orangtua Aisya.
"Wa'alaikumsalam."
Aisya berdehem, umi dan abi belum tau jika Ernest *seorang berbeda*.
Gadis itu berdecak kesal, saat Ernest malah dengan sengaja menggeser duduknya dan tak diundang mengambil alih pembicaraan dengan umi.
"Hahaha, gue udah bela-belain silent...eh yang ini datang-datang langsung heboh!" imbuh Retno di bangku samping.
"Ihh, ngga sopan! Datang-datang langsung nyamber kaya petir!" desis Aisya galak menggeser duduknya, lalu refleks menjewer kupingnya.
"Biar surprise!" jawab Ernest, "aku excited Sya, ada umi sama abi kamu..." akuinya lebay.
Aisya memutar bola matanya, "lebay!" sengaknya membuat Ernest tertawa. Sementara abi dan umi tersenyum hangat dari sana.
"*Heup ah*! Pasti dong, umi sama abi disini do'ain semuanya!" jawab umi.
Ernest dan Aisya kini kembali menatap layar ponsel, "yaahhh, kok semuanya umi? Nanti menang semuanya dong?!" imbuh Ernest.
"Ya udah abi, umi....kayanya ini udah bel masuk, umi sama abi juga biar khusyuk ibadahnya. Ai pamit ya,"
"Iya. Baik-baik disana neng. Jangan lupa, bismillah biar jadi alhamdulillah!" pesan umi dan abi sebelum akhirnya keduanya mematikan vicall itu.
Aisya memencet tombol merah dan keluar dari layar, kemudian ia menoleh ke samping, "hush!" usirnya mendorong Ernest. Ernest bergeming dan menyingkir meski dengan tawa usilnya, "Oke---oke, aku pergi nih?!"
"Ya udah pergi, emang siapa yang ngundang?!" ketus Aisya sengit.
"Beneran, nih...disuruh pergi?!" Ernest menaik turunkan alisnya, memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana.
"Pergi! Udah mau masuk juga ih, lagian pagi-pagi udah nyelonong ke rumah tetangga!" kembali ia berkata ketus.
Ernest terkekeh usil dan melangkah keluar. Tapi Aisya justru mengernyitkan dahi, ada yang aneh dengan pemuda ini, tidak biasanya ia langsung menurut untuk menyingkir.
"Aku pergi ya!" sebelum benar-benar pergi dari kelas Aisya, Ernest berpamitan dengan mengangkat tangannya, rupanya ia telah memegang ponsel milik Aisya dan membawanya.
"Ernest hape aku!!!"
__ADS_1
"Ernest balikin! Ernest!" teriaknya mengejar Ernest.
"Ernest sini ngga?!"
"Hm, mungkin ngga ya mereka pacaran?" tanya Retno menatap getir ke arah luar kelas.
"Tapi kenapa ya, tiang berharap gek dan bli itu bisa bersatu!" ucap Ayu menatap Aisya dan Ernest yang berlarian.
\*\*\*\*
Drrtttt
Umi❤
📷 4 pesan belum dibaca
Aisya menyentuh icon notifikasi, foto-foto itu sempat berputar saat diunduh.
Senyuman Aisya mengembang saat secarik kertas dengan tulisan tangan berisi do'a--harapan di depan Ka'bah yang dipegang tangan umi dan abi muncul.
🍃 *Semoga Aisya lolos OSN, dilancarkan dan dimudahkan segala urusannya*.
🍃 *Semoga A Ikhwan dan teh Arin bisa dapet momongan tahun ini, cucu pertama buat umi---abi*.
*🍃 Semoga skripsi Raudhah di tahun ini dilancarkan, amiin*.
Dan yang membuat Aisya merasa menohok adalah foto terakhir.
🍃 *Semoga semua urusan Ernest dilancarkan dan dimudahkan*.
Ting!
Ernest yang sedang bercanda bersama Coki, Duta dan teman sekelasnya merogoh ponsel dari saku celana.
Raut wajah sumringah berubah menjadi terkejut, hatinya mencelos penuh rasa haru.
Tepat di depan bangunan suci umat muslim yang begitu disanjung dan dipuja-puja ini, namanya disematkan menjadi sebuah untaian do'a indah, bahkan oleh kedua orangtua Aisya yang berbeda dengannya, jika kasih sayang muslim begitu hangat. Maka Ernest sudah tenggelam nyaman di dalamnya.
"Cok, lo sering ngaji ngga?!" tanya Ernest tiba-tiba, tentu saja Coki mengerutkan dahinya.
"Kenapa emangnya?! Sering! Sering mangkir!" tawanya.
"Gue nanya serius, Cok!" jawab Ernest.
"Jawaban gue juga serius Nest,"
"Kenalin gue sama guru ngaji lo." bisiknya.
.
.
.
.
__ADS_1
.